Di pesisir Bintaro, abrasi mungkin terus menggerus daratan dan gelombang tinggi bisa kembali datang. Namun selama masih ada orang-orang yang bersedia berdiri di depan kompor, mengaduk kuali, dan membungkus nasi dalam kondisi sesulit apa pun, kota ini masih memiliki cadangan kemanusiaan.
---
SETIAP siang, sebelum distribusi resmi dimulai, anak-anak mulai berdatangan ke dapur. Ada yang datang berkelompok, ada yang sendiri, berdiri agak ragu di tepi tenda.
“Bu, minta nasi,” kata mereka.
Siti Aisyah mengenali sebagian besar dari wajah dan caranya berjalan. “Mereka bilang ‘saya anak nelayan’,” tuturnya.
Tanpa harus diberi tahu pun, ia sudah bisa menebak. Dari pakaian yang basah asin, dari kaki yang penuh pasir, dari logat khas pesisir yang masih melekat.
Kadang ia membungkus sampai 25 porsi khusus untuk anak-anak. Mereka tidak selalu masuk dalam data penerima bantuan.
Namun selama persediaan memungkinkan, Siti Aisyah memilih tetap memberi. “Daripada mubazir, lebih baik kita kasih,” katanya.
Menu dapur umum tergolong sederhana, tetapi disusun agar tetap layak. Setiap porsi berisi nasi, sayur, beberapa jenis lauk, dan buah.
Buahnya berganti-ganti, pernah apel dan pir, pernah juga rambutan dan salak pondoh.
Lauknya pun bervariasi, mulai dari ayam, telur, tahu, tempe, daging, hingga ikan. “Kalau ada tahu, kita bumbuin,” ujarnya.
Respons warga terhadap menu itu sering kali membuat relawan terdiam sejenak. “Mereka bilang menunya enak-enak, katanya kalah-kalah sama menu MBG,” ucapnya sambil tersenyum tipis.
Bagi Siti Aisyah, pujian itu bukan soal rasa bangga. Melainkan penanda seporsi makanan layak memiliki arti besar bagi warga yang sedang berada dalam situasi sulit.
Seluruh bahan makanan disuplai oleh Dinas Sosial Kota Mataram. Siti Aisyah hanya menyusun daftar kebutuhan harian dan mengirimkannya.
“Besok paginya langsung dianter,” katanya.
Hari pertama operasi dapur umum berlangsung serba mendadak. Relawan dipanggil siang hari, dan saat tiba hujan serta angin sudah menyambut.
Data warga belum sepenuhnya siap. Akhirnya diputuskan hanya memasak seratus bungkus dengan menu seadanya.
“Yang penting warga bisa makan dulu,” kata Siti Aisyah.
Tujuh hari kemudian, dapur umum menutup operasional. Tidak ada seremoni, tidak ada acara perpisahan.
Hanya kalimat-kalimat sederhana dari warga. “Mereka bilang, ‘sekarang kami sudah tidak dapat makanan dari Tagana ya?’,” ujarnya.
Tenda dapur masih berdiri di lokasi. Namun mobil dapur, tangki air, dan sebagian besar perlengkapan sudah kembali ke kantor.
Jika suatu hari ada instruksi untuk turun kembali, Siti Aisyah memastikan timnya siap. “Kapanpun pak Wali memerintahkan kamin untuk turun, selalu siap sedia,” tegasnya.
Baca Juga: Jangan Habis di Kajian, DPRD Minta Arung Jeram Kali Jangkuk Benar-Benar Dieksekusi
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin