Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dikes Mataram Waspada Penularan Virus Nipah

Sanchia Vaneka • Selasa, 3 Februari 2026 | 16:35 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram Emirald Isfihan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram Emirald Isfihan

LombokPost - Belum lama sejak pandemi Covid-19 melandai, dunia kembali dikejutkan dengan munculnya ancaman kesehatan baru.

Virus Nipah (NiV) kini menjadi sorotan global setelah dilaporkan kembali merebak di India dan Bangladesh pada Desember 2025.

Menanggapi hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dikes) mulai memperketat pengawasan untuk memastikan virus tersebut tidak masuk ke wilayah ibu kota provinsi ini.

“Ya kita antisipasi, tapi masih aman,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram Emirald Isfihan. 

Sebelumnya, pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan sebenarnya telah mengeluarkan alarm peringatan dini. Hal ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit No. HK.02.02/C/4022/2023.

Aturan ini menginstruksikan seluruh Pemerintah Daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk meningkatkan kewaspadaan di pintu-pintu masuk negara.

Ia menjelaskan, Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia.

“Penyebaran virus ini biasanya melalui hewan pengerat seperti kelelawar buah. Namun, pola penularannya ke manusia lebih sering terjadi melalui perantara babi,”ujarnya. 

 Baca Juga: Sinergi Global dalam Penguatan Sistem Kesehatan demi Mencegah Pandemi Virus Nipah

Mekanismenya, babi mengonsumsi buah atau makanan yang telah terkontaminasi oleh liur atau kotoran kelelawar yang membawa virus tersebut.  

“Manusia tidak memakan kelelawar, tapi berisiko tertular saat berinteraksi atau mengonsumsi produk dari babi yang sudah terinfeksi. Inilah yang perlu kita waspadai bersama,” tambahnya.

 Hingga saat ini, Emirald memastikan belum ada temuan kasus Virus Nipah pada manusia di Indonesia, khususnya di Kota Mataram.

Kendati demikian, mobilitas manusia yang tinggi antarnegara menjadi celah yang harus diantisipasi. Ia meminta masyarakat tidak panik namun tetap meningkatkan literasi kesehatan.

Mengenai gejala, masyarakat diminta mengenali tanda-tanda awal yang mirip dengan flu berat, yakni demam tinggi, meriang, disertai pilek.

Dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa memburuk dengan cepat.

“Tingkat fatalitas atau keparahannya mencapai 40 persen. Angka ini memang tidak setinggi virus mematikan lainnya, namun tetap masuk kategori berbahaya karena belum ada vaksin khusus untuk Nipah,” jelasnya.

Risiko kematian tersebut akan meningkat drastis bagi kelompok rentan atau masyarakat yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

Bayi, lansia, dan individu dengan imunitas rendah menjadi kelompok yang paling diwanti-wanti untuk diproteksi.

“Keparahannya sangat bergantung pada kondisi tubuh masing-masing. Jika ada komorbid, dampaknya bisa sangat fatal,” tegasnya.

Sebagai langkah preventif, Dikes Kota Mataram terus menggaungkan penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Masyarakat yang memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri, khususnya daerah endemik, diminta segera melapor jika merasakan gejala demam.

 “Selama tidak ada riwayat perjalanan ke daerah terdampak dan tetap menjaga kebersihan, insya Allah kondisi masih aman. Namun, kewaspadaan adalah kunci agar kita tidak kecolongan seperti masa pandemi lalu,” pungkasnya.

 

Editor : Kimda Farida
#Dikes #nipah #virus nipah #virus nipah akan jadi pendemi #Mataram