Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harga Cabai Mulai Mendingin, dari Rp 200 Ribu Sekarang Rp 120 ribu per kilo  

Sanchia Vaneka • Senin, 23 Februari 2026 | 15:50 WIB

 


Harga cabai
Harga cabai

LombokPost - Setelah sempat meroket hingga nyaris menyentuh angka Rp 200.000 per kilogram (kg), harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional mulai menunjukkan tren penurunan.

Masuknya pasokan cabai lokal dan kiriman dari luar daerah menjadi faktor utama melandainya harga komoditas pedas tersebut.

“Sudah mulai turun per hari ini, Rp 120 ribu per kilogram,” kata Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Disdag Kota Mataram Sri Wahyunida. 

Nida memastikan, gejolak harga yang terjadi beberapa hari terakhir murni disebabkan oleh kendala distribusi dan minimnya stok di tingkat pedagang.

Namun, per hari ini, kondisi tersebut mulai terurai. Kenaikan harga sebelumnya dipicu oleh kekosongan stok cabai asal Bima yang belum tiba di pasar Mataram.

Hal ini menyebabkan ketergantungan tinggi pada cabai lokal yang jumlahnya terbatas. 

“Update terbaru, stok cabai lokal sudah mulai masuk pagi ini. Dampaknya langsung terasa, harga cabai lokal yang kemarin sempat melambung, sekarang mulai melandai di angka Rp 120.000 per kg,” ujarnya.

 Baca Juga: Harga Cabai Sempat Tembus Rp 200 Ribu! Dewan Fitriani Soroti Dampak Bagi Warga Miskin

Ia meluruskan, meski harga sempat tinggi, di tingkat pantauan dinas, harga belum benar-benar menyentuh angka Rp 200.000 secara merata, melainkan berada di kisaran Rp 185.000 per kg pada puncaknya.

Dengan bertambahnya pasokan, terutama untuk jenis cabai Baskara, harga diprediksi akan terus merosot ke angka Rp 70.000 hingga Rp 80.000 per kg dalam waktu dekat.

Optimisme penurunan harga ini juga didukung oleh informasi dari para distributor.

Nida mengungkapkan, sebanyak 300 kg pasokan cabai asal Bima dijadwalkan masuk ke Mataram pada sore hari ini.

“Kami sudah berkoordinasi dengan distributor. Infonya nanti sore masuk lagi sekitar 300 kg cabai dari Bima. Semoga dengan bertambahnya pasokan ini, harga di pasar-pasar pantauan bisa segera kembali normal,”tambahnya.

 Pihak Disdag menegaskan akan terus mengawal fluktuasi harga ini agar tidak kembali memberatkan konsumen maupun pedagang. 

“InsyaAllah, besok kami pantau terus perkembangan harganya di beberapa pasar pantauan kami. Pengawasan dilakukan untuk memastikan distribusi berjalan lancar tanpa ada hambatan di tingkat tengkulak,” pungkasnya.

Sartini Muliati, salah seorang pedagang di Pasar Mandalika, mengungkapkan saat ini ia terpaksa menjual cabai di kisaran Rp 180.000 hingga Rp 190.000 per kg.

“Bahkan harganya kadang sampai Rp200 ribu per kilo. Kami sendiri bingung karena kenaikannya sangat mendadak, sebelumnya masih di harga Rp130 ribu per kilo,” kata Sartini, Sabtu (21/2).

Kenaikan ini berdampak langsung pada harga eceran terkecil.

Sartini menjelaskan, sehari sebelumnya ia masih menjual cabai ukuran seperempat kilogram seharga Rp 30.000.

Namun kini, warga harus membayar Rp 45.000 untuk jumlah yang sama.

Baca Juga: AKBP Didik Tepis Terima Uang dari Bandar Narkoba, Asmuni: Kami Punya Bukti Chat

Penyebab utama melambungnya harga si pedas ini ditengarai akibat terhentinya pasokan dari luar daerah.

Stok yang terbatas di tingkat distributor membuat harga di pasar lokal tidak terkendali.

Kondisi ini pun berdampak pada omzet para pedagang. Sartini mengaku volume penjualannya merosot tajam hingga 50 persen. 

“Biasanya kalau harga Rp130 ribu, saya bisa jual sampai 10 kg sehari. Sekarang sejak harganya mahal begini, hanya laku sekitar 5 kg saja," keluhnya.

Para pedagang berharap pemerintah segera turun tangan melakukan operasi pasar atau memastikan kelancaran distribusi pasokan agar harga kembali stabil sebelum berdampak lebih luas pada inflasi daerah. 

 

 

Editor : Kimda Farida
#harga cabai #pasar #Mataram #bapok