LombokPost - Wali Kota Mataram Mohan Roliskana, memberikan atensi khusus terhadap kondusifitas kota selama pekan pertama Ramadan 1447 Hijriah.
Meski secara umum situasi berjalan aman, Mohan menyoroti fenomena kreativitas negatif di kalangan remaja yang kerap mengganggu kekhusyukan ibadah masyarakat.
“Satu pekan pertama ini berjalan baik, tapi kekhusyukan masyarakat harus tetap kita pastikan. Kami terus mengontrol dan berpatroli terhadap aktivitas anak dan remaja yang menimbulkan keresahan serta mengganggu kenyamanan beribadah,” kata Mohan.
Baca Juga: Bulan Ramadan, Pol PP Lobar Perketat Pengawasan Balap Liar, Balap Lari Hingga Petasan
Orang nomor satu di Mataram ini menegaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) terus memantau berbagai aspek, mulai dari stabilitas sosial-keagamaan hingga daya beli masyarakat.
Namun, fokus utama yang kini menjadi perhatian adalah aktivitas kelompok anak muda di malam hari.
Terkait kabar yang beredar di media sosial mengenai kemunculan kelompok gangster di jalanan Mataram, Mohan meminta warga tidak panik berlebihan.
Ia menegaskan, sejauh ini laporan tersebut hanya sebatas isu yang belum terbukti kebenarannya secara faktual di lapangan.
“Isu gangster itu hanya isu saja. Kita harus terus pantau karena anak muda kita ini makin kreatif, tapi sayangnya dalam arti yang kurang tepat dalam mengisi Ramadan ini,” urainya.
Mohan juga mengajak para tokoh masyarakat dan orang tua untuk lebih responsif. Ia berharap ada sinergi yang kuat antara warga dan pemerintah jika menemukan potensi gangguan ketertiban.
"Kalau ada gangguan, segera kabari supaya pemerintah bisa segera turun tangan. Kerja sama dengan tokoh masyarakat sangat krusial," imbuhnya.
Senada dengan instruksi Wali Kota, Kasat Pol PP Kota Mataram Irwan Rahadi mengungkapkan, pihaknya telah memetakan sejumlah titik rawan yang kerap dijadikan lokasi berkumpulnya para remaja untuk balap liar hingga perang sarung.
Lokasi-lokasi seperti Jalan Udayana, Jenderal Sudirman, Ahmad Yani, hingga kawasan Turide menjadi sasaran patroli intensif.
“Aktivitas ini mayoritas dilakukan anak-anak di bawah umur, tingkat SMA ke bawah. Kami memperkirakan grafik ini akan menurun seiring masuknya jadwal sekolah,” katanya.
Irwan menjelaskan, para remaja ini memiliki pola yang dinamis.
Mereka cenderung berpindah-pindah lokasi jika mencium keberadaan petugas di lapangan. Oleh karena itu, Satpol PP menerapkan skema patroli kontinu di titik-titik yang dianggap sebagai lokasi tradisional setiap tahunnya.
“Ya kan mereka mencari nyamannya di mana. Kalau mereka liat di sana ada petugas patroli, mereka cari tempat lain,” terangnya.
Meski pengawasan diperketat, Satpol PP sejauh ini masih mengedepankan tindakan persuasif dan peringatan di tempat. Penindakan tegas hanya akan dilakukan jika ditemukan indikasi tindak pidana murni.
“Kami masih pada tahapan pengkondisian dan peringatan. Petugas di lapangan tetap siaga sesuai jadwal piket tanpa ada penambahan personel khusus, namun koordinasi lintas sektor kita perkuat untuk merespons laporan masyarakat,” tambahnya.
Untuk memaksimalkan pengawasan, Satpol PP terus bersinergi dengan aparat keamanan melalui skema patroli gabungan maupun mandiri. Koordinasi lintas sektoral ini dilakukan guna merespons laporan masyarakat secara cepat jika ditemukan kerumunan yang berpotensi memicu keributan.
Meskipun intensitas patroli ditingkatkan, Irwan menyebutkan tidak ada penambahan personel khusus untuk pengamanan Ramadan.
Pihaknya memaksimalkan personel yang ada sesuai dengan jadwal piket dan skema tim yang telah terbentuk.
"Tidak ada penambahan personel. Kami bergerak sesuai jadwal rutin yang sudah ada,“ tandasnya.
Editor : Kimda Farida