Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

SPPG Selaparang Buka Suara Soal Dugaan Kurma Berulat di SMPN 2 Mataram

Sanchia Vaneka • Rabu, 4 Maret 2026 | 09:37 WIB

 

 

SPPG Selaparang yang ditutup usai kasus dugaan kurma berulat
SPPG Selaparang yang ditutup usai kasus dugaan kurma berulat

 

LombokPost - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Selaparang di bawah naungan Yayasan Darul Ulum Sibawaih akhirnya angkat bicara terkait dugaan distribusi kurma berulat di SMPN 2 Mataram yang viral beberapa waktu lalu.

Pihak yayasan menegaskan hingga saat ini tidak ada laporan resmi dari pihak sekolah maupun wali murid terkait temuan tersebut.

Perwakilan Yayasan Darul Ulum Sibawaih Lalu Febrian menjelaskan, pihaknya telah melakukan kunjungan langsung ke SMPN 2 Mataram untuk mengonfirmasi kebenaran informasi yang beredar di media sosial.

Hasilnya, pihak sekolah melalui Kepala Sekolah menyatakan tidak ada keluhan dari internal sekolah.

“Kami sudah pastikan ke sekolah, ternyata memang tidak ada laporan khusus dari penerima manfaat atau wali murid. Ini diduga ada pihak luar yang sengaja membuat konten yang tidak sesuai fakta sebenarnya,” kata Lalu Febrian. 

 Baca Juga: Dikes Mataram Ancam Tarik SLHS SPPG MBG yang Bandel

Febrian menyayangkan munculnya potongan video tanpa suara dan identitas jelas yang membawa nama dari SPPG Yayasan Darul Ulum Sibawaih dengan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kurma berulat.

Menurutnya, sistem pengawasan di SPPG sangat ketat. Setiap ada komplain mengenai item makanan, sekolah biasanya langsung melapor untuk segera diganti.

“Selama ini, kalau ada item seperti pisang atau buah lain yang kurang layak, sekolah pasti info ke kami dan langsung kami ganti hari itu juga. Tapi untuk kasus kurma ini, sampai berita itu turun, tidak ada info sama sekali dari sekolah,” tegasnya.  

Terkait prosedur teknis, Febrian memaparkan kurma tersebut didistribusikan pada Selasa (24/2).

Sebelum dikemas, tim dapur telah melakukan sortir manual untuk memisahkan kurma yang lembek atau rusak secara fisik.

“Kami pisah, kalau sudah agak jelek rupanya dan benyek ya kita pisah,” jelasnya. 

Namun, ia mengakui pihaknya tidak melakukan pembongkaran isi dalam kurma satu per satu untuk menjaga keutuhan produk saat diterima siswa. Stok yang ada menunjukkan masa produksi November 2025 dan baru expired pada 2027.

“Kami terima dalam bentuk dus. Supplier kami juga memasok ke belasan dapur lain dan tidak ada satu pun yang komplain di hari yang sama,” imbuhnya.

Dampak dari kegaduhan ini, Badan Gizi Nasional (BGN) mengeluarkan instruksi suspensi operasional SPPG Selaparang terhitung sejak Kamis (26/2).

Suspensi tersebut pun berdasar dari laporan khusus yang dibuat oleh Koordinator Wilayah SPPG Kota Mataram, tanpa ada laporan atau keluhan dari pihak penerima dalam hal ini SMPN 2 Mataram. 

 “Lapsus itu direspon oleh suspen pada H+1,” ucapnya.  

Penutupan ini berimbas langsung pada nasib 52 tenaga kerja, termasuk 49 relawan lokal yang kehilangan penghasilan harian.

Padahal, SPPG Selaparang melayani sekitar ribuan penerima manfaat yang tersebar di lima sekolah, yakni SMA 5 Mataram, SMP 2 Mataram, TK Widia, TK Santa Maria, dan TK YPRU, serta sejumlah Posyandu di wilayah Mataram Barat.

 “Kami sangat menyayangkan penutupan sementara ini karena para pekerja kami dibayar harian. Hingga saat ini, kami masih menunggu kejelasan dan verifikasi lebih lanjut terkait video tersebut, karena secara prosedur kami sudah menjalankan standar yang ada,” terangnya.

Terpisah, Plt Kepala Sekolah SMPN 2 Mataram Ni Nengah Sri Suharti juga mengatakan, tidak pernah menerima komplain dari wali murid maupun siswa terkait kualitas kurma tersebut.

Informasi mengenai kurma tersebut justru pertama kali diketahui melalui grup WhatsApp internal guru setelah berita tersebut ramai di media sosial.

“Kami baru tahu setelah ada postingan yang masuk ke grup guru. Sejujurnya, dari sisi siswa maupun orang tua, sama sekali tidak ada laporan atau komplain yang masuk ke sekolah pada hari pendistribusian tersebut,” katanya.

Pihak sekolah juga menyoroti perbedaan antara video yang beredar luas dengan kondisi distribusi di lapangan. Menurutnya, video yang viral tersebut tidak memiliki identitas yang jelas, tanpa suara, dan menunjukkan latar belakang yang berbeda dengan fasilitas di sekolah.

“Video itu berbeda. Kami bahkan sempat kaget saat hari Kamis ada pihak kepolisian intel yang datang. Padahal di internal kami, suasana sangat kondusif dan tidak ada gejolak dari orang tua siswa,”tambahnya.

Selama ini, hubungan antara SMPN 2 Mataram dengan SPPG Selaparang dinilai sangat komunikatif.

Jika terdapat item makanan yang kurang layak, seperti buah yang layu, pihak sekolah biasanya langsung melapor dan pihak SPPG merespons dengan cepat untuk mengganti item tersebut.

Pihak sekolah menyayangkan adanya pihak luar yang diduga melakukan cut konten atau menyebarkan informasi yang tidak utuh tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu ke pihak sekolah.

“Sangat disayangkan, karena program ini sebenarnya sudah berjalan sangat baik. Kami menerima distribusi terakhir pada Kamis (26/2) dan setelah itu dihentikan,” jelasnya. 

 

Editor : Kimda Farida
#SPPG #Makan Bergizi Gratis (MBG) #Mataram #dapur MBG