Kesibukan di lorong SMPN 15 Mataram siang itu tampak sedikit berbeda. Tidak ada aroma uap nasi hangat yang biasanya. Maklum, program Makan Bergizi Gratis (MBG) sedang menyesuaikan diri dengan ritme bulan suci Ramadan. Meski demikian, komitmen untuk memberikan asupan terbaik bagi para siswa tetap berjalan dengan sejumlah penyesuaian.
-----------------------
Herawati, Kasubag Tata Usaha sekaligus Person in Charge (PIC) MBG SMPN 15 Mataram, mengatakan selama Ramadan, pihak sekolah mendapatkan keringanan dari sisi teknis distribusi. Paket makanan yang biasanya disantap langsung di sekolah, kini dikemas sedemikian rupa untuk dibawa pulang.
“Setiap paket tetap ada protein dan karbonya. Hanya saja, beberapa hari terakhir ini ada sedikit kendala di pihak supplier. Karbohidrat dalam bentuk roti belum siap. Jadi sudah tiga hari ini absen, tapi nanti akan diakumulasikan ke hari berikutnya,” ujar Herawati saat ditemui, Senin (2/3).
Baca Juga: Ombdusman NTB Sebut Keamanan Pangan MBG Darurat, terkait Temuan Kasus di Empat Wilayah
Pengawasan ketat tetap menjadi menu harian Herawati dan tim. Setiap kemasan diperiksa. Jika biasanya pihak katering menggunakan wadah mika, hari itu ada perubahan kemasan. Meski berganti rupa, Herawati memastikan kualitas rasa dan ketahanan pangan tetap menjadi prioritas utama. Hingga saat ini, belum ada keluhan dari siswa maupun orang tua terkait kualitas makanan yang mereka bawa pulang.
Ketegasan SMPN 15 Mataram dalam menjaga kualitas MBG bukan tanpa alasan. Mereka pernah memiliki pengalaman dengan rekanan penyedia makanan (dapur) sebelumnya yang berlokasi di wilayah Pejeruk, Ampenan. Ketidakcocokan selera dan kurangnya inovasi menu membuat pihak sekolah mengambil langkah berani untuk berpindah dapur.
“Dulu kami pakai dapur di Pejeruk. Tapi kami kurang cocok karena kualitasnya mungkin kurang bagus. Kami sempat beberapa kali komplain, minta agar menu lebih maksimal dan tampilannya menarik, tapi tidak ada perubahan,” terangnya.
Ia menceritakan bagaimana ia kerap membandingkan menu sekolahnya dengan sekolah lain yang tampil lebih menggugah selera. Di sekolah lain, potongan lauk tampak lebih besar dan dihiasi garnis yang cantik. Baginya, estetika makanan sangat penting untuk membangkitkan nafsu makan anak-anak, terutama untuk menu sayuran.
Akhirnya, pihak sekolah memutuskan pindah ke dapur yang berlokasi di wilayah Lanud, Rembiga. Secara administratif pun, kepindahan ini lebih sesuai dengan aturan terbaru yang mengharuskan dapur penyedia berada di kecamatan yang sama dengan sekolah, yakni Kecamatan Selaparang. Hal ini dilakukan demi mempermudah kontrol dan memastikan makanan sampai ke tangan siswa dalam kondisi segar.
Baca Juga: Wakil Bupati Lombok Tengah Minta Satgas Awasi Ketat Paket MBG
Bagi Herawati, program MBG bukan sekadar menggugurkan kewajiban memberi makan. Ia memiliki harapan besar agar penyedia makanan lebih kreatif. Ia ingin anak-anak yang awalnya tidak suka sayur, menjadi tertarik hanya dengan melihat tampilannya.
“Harapan kami menu itu tetap divariasikan. Jangan monoton. Walaupun hanya terbuat dari tempe, mungkin ada hiasan atau garnis supaya anak-anak lebih tertarik. Sayur juga jangan hanya selada mentah saja, tapi diolah atau ditata sedemikian rupa,” harapnya.
Dalam teknis pembagiannya, terlihat anak-anak tertib berbaris membawa kotak makan sendiri dari rumah. Mereka menyalin isi paket MBG ke dalam kotak makan masing-masing. Sementara itu, tas biru yang menjadi wadah utama dari Satuan Pelayanan Persiapan Gizi (SPPG) dikembalikan lagi ke pihak sekolah.
“Tas biru itu aset, jadi harus kembali. Kalau kotor, kami minta diganti yang baru. Anak-anak sudah terbiasa menyalin makanannya ke kotak sendiri, lalu tasnya langsung dikumpulkan kembali,” jelasnya.
Apalagi, momen distribusi kali ini bertepatan dengan jadwal ujian siswa. Kehadiran menu MBG yang terdiri dari roti, susu, dan buah-buahan seperti jeruk, salak, atau apel, diharapkan menjadi penambah energi bagi siswa kelas 7, 8, dan 9 yang sedang fokus menuntaskan Sumatif Tengah Semester (STS).
“Untuk hari ini kami bagikan buat kelas 9, sementara kelas 7 dan 8 sudah dilakukan tadi jam 10 pagi karena jadwal ujian yang berbeda,” tambahnya.
Satu per satu siswa menerima paket yang berisi susu kotak, roti manis, dan buah-buahan.
“Sangat terbantu ya, karena kalau buka puasa itu belum tentu di rumah sudah tersedia makanan ringan. MBG ini beneran berguna buat camilan pas waktu berbuka,” kata Kia Jasmin Zahralia, salah satu siswi kelas 9.
Menurut Kia, paket yang ia terima jauh dari kesan tak layak. Susu dan roti yang diberikan dalam kondisi segar dan tidak basi.
“Isinya ada roti, susu, sama buah. Kualitasnya terjaga, rotinya empuk,” tambahnya.
Kia berharap variasi buah dan topping roti bisa lebih beragam di kemudian hari.
“Kalau bisa buahnya lebih variatif lagi, jangan jeruk atau apel saja. Rotinya juga kalau bisa isiannya lebih banyak,” harapnya sambil tersenyum.
Senada dengan Kia, Tasha Hartani Ardia juga mengaku sangat menikmati program ini. Meski merasa puas, para siswa ini tetap memberikan catatan kritis yang membangun demi keberlanjutan program. Tasha memberikan saran agar penyimpanan buah lebih diperhatikan mengingat cuaca Mataram yang sedang tak menentu.
“Harapan saya sih buahnya mungkin bisa dimasukkan ke kulkas dulu atau disimpan di suhu ruang yang tidak panas sebelum dibagikan, supaya tetap segar dan tidak cepat busuk,” sarannya.
Ia juga sempat memperhatikan kemasan plastik yang terkadang kotor karena terkena air hujan saat distribusi, dan menyarankan penggunaan wadah yang lebih kokoh atau sekali pakai yang lebih bersih.(SANCHIA VANEKA, Mataram. )
Editor : Redaksi Lombok Post