LombokPost – Gunungan sampah yang sempat menghiasi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Bintaro, Ampenan, sekarang mulai berkurang. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram tancap gas melakukan pembersihan besar-besaran seiring dengan normalnya kembali akses pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok.
“Sejak seminggu lalu, TPA Kebon Kongok sudah mulai dibuka normal kembali. Sekarang kami fokus habis-habisan di Bintaro,” kata Kepala DLH Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi.
Denny mengungkapkan, pihaknya kini menempatkan TPS Bintaro sebagai prioritas utama penanganan. Targetnya dalam tiga minggu ke depan, lokasi tersebut harus sudah bersih dari sisa tumpukan sampah yang sempat overload.
“Target kami, tiga minggu ini TPS Bintaro akan clear,” tambahnya.
Normalnya ritase ke Kebon Kongok menjadi kunci utama. Jika sebelumnya armada pengangkut dibatasi hanya boleh membuang satu rit per hari, kini pembatasan tersebut telah dicabut. Denny menjelaskan, dalam sehari pihaknya mampu mengerahkan armada hingga 40 ritase menuju TPA yang berlokasi di Lombok Barat (Lobar) tersebut.
“Satu truk itu kapasitasnya sekitar 2 sampai 3 ton. Kalau sehari kita bisa 40 rit, artinya sekitar 120 ton sampah yang kita angkut dari Bintaro setiap harinya,” rincinya.
Hingga saat ini, proses pembersihan menunjukkan progres signifikan. Denny mengklaim lebih dari setengah volume sampah di Bintaro sudah berhasil dievakuasi. Meski sisa sampah di lokasi diperkirakan masih menyentuh angka seribuan ton, ia optimistis pembersihan bisa dikebut karena hambatan di hilir atau TPA sudah teratasi dengan rampungnya penataan landfill tahap pertama dan kedua.
Terkait keluhan pemilik lahan di sekitar TPS Bintaro yang sempat terjadi, Denny memastikan hal tersebut sudah tertangani.
Baca Juga: NTB Berduka, Mantan Dirut RSUD Provinsi NTB Dokter Jack Tutup Usia di Jakarta Usai Buka Puasa
“Kemarin sempat ada komplain dari pemilik lahan di bagian depan, tapi sudah kami bersihkan. Sekarang sudah klir. Kedepannya, kita akan gunakan area TPS yang di bagian dalam, tinggal perbaikan jalan masuknya saja,” imbuhnya.
Tak hanya Bintaro, wilayah timur Kota Mataram juga masuk dalam tahap penanganan. Setelah urusan di Ampenan tuntas, DLH akan mengalihkan fokus ke TPS Sandubaya yang kondisinya juga mulai kewalahan menampung volume sampah harian.
Di sisi lain, Denny menjelaskan, strategi jangka panjang Pemkot Mataram tetap bertumpu pada teknologi pengolahan sampah di hulu melalui insinerator. Saat ini, Pemkot memiliki dua unit insinerator yang aktif beroperasi di Sandubaya karena telah memenuhi ambang batas baku mutu lingkungan.
Ke depan, Pemkot berambisi memiliki insinerator dsetiap kecamatan untuk mengurangi ketergantungan pada TPA.
Baca Juga: Perputaran Uang di Kampung Kuliner Udayana Tembus Rp 780 Juta
“Target kita ada enam unit, setiap kecamatan satu. Sekarang baru ada dua, jadi kurang empat lagi. Insya Allah kita cicil satu per satu di anggaran perubahan besok,” katanya.
Ia menambahkan, pengadaan unit baru nantinya harus mengikuti regulasi ketat dari kementerian, termasuk standar tinggi cerobong yang minimal mencapai 14 meter.
“Harganya variatif, untuk kapasitas 10 ton itu sekitar Rp 3 miliar sampai Rp 3,5 miliar. Kalau yang kapasitas besar seperti 100 ton bisa sampai Rp 20 miliar. Bertahap kita upayakan agar pengelolaan sampah di Mataram semakin mandiri,” pungkasnya.
Editor : Marthadi