LombokPost - Fenomena gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Kota Mataram selama Ramadan saat ini bergeser ke ranah digital, di mana aksi kerumunan pemuda hingga indikasi geng motor dipicu oleh sistem ‘saling undang’ melalui grup WhatsApp dan sebagainya.
Pola pergerakan yang terorganisir di media sosial ini membuat kelompok pemuda dari luar kota turut masuk ke wilayah Mataram, sehingga memicu potensi gesekan seperti perang kembang api hingga intimidasi yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada saat libur sekolah dan akhir pekan menjelang Idul Fitri.
“Banyak dari luar. Ini kan anak-anak ini pintar-pintar dia, dia punya grup. Di IG, di WA Grup saling undang,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Kota Mataram Irwan Rahadi.
Irwan mengungkapkan, meski secara umum kondisi kamtibmas di ibu kota Provinsi NTB ini masih terkendali, pihaknya mencatat adanya pergerakan yang menonjol di beberapa titik dalam sepekan terakhir.
Wilayah Mapak, Sekarbela, Bagik Kembar, hingga Lingkungan Pesongoran dan Jalan Lingkar Selatan menjadi atensi khusus akibat aktivitas pemuda yang meresahkan.
“Bahkan kejadian yang sempat viral di depan kantor dewan itu, pelakunya banyak dari luar Kota Mataram," ujarnya.
Baca Juga: Kades Golong Pimpin Patroli Cegah Balap Liar, Libatkan Empat Unsur Tim Desa
Irwan menjelaskan, eskalasi gangguan ketertiban ini biasanya meningkat tajam saat weekend atau malam Sabtu dan malam Minggu serta bertepatan dengan masa libur sekolah.
Pelakunya didominasi oleh anak di bawah umur, mulai dari tingkat SMP hingga SMA. Berbagai modus dilakukan, mulai dari perang kembang api hingga aksi yang mengarah pada intimidasi di jalan raya.
Terkait isu geng motor yang sempat mencuat, Irwan menegaskan pihaknya belum menemukan bukti kuat di lapangan.
“Ada dugaan dikatakan geng motor, tapi secara kapten lapangan, temuan, bukti, dan fakta itu belum kita lihat. Yang jelas, setiap ada kerumunan yang mengganggu, langsung kami bubarkan dan angkut,” tegasnya.
Meski telah dilakukan tindakan pengamanan dan pembubaran oleh petugas gabungan termasuk pihak kepolisian, Irwan menyebut sejauh ini belum ada yang diproses secara pidana atau masuk ke ranah KUHAP. Tindakan yang diambil masih bersifat preventif dan pembinaan di tempat.
Baca Juga: Warga Sumbawa Bisa Ibadah Tenang! PLN Pastikan Listrik Tak Bakal 'Biarpet' Selama Ramadan
“Kita kan hanya pengawasan dan menertibkan. Kalau ranah pidana itu sudah di pihak kepolisian,” jelasnya.
Menjelang akhir Ramadan, Satpol PP Mataram mewaspadai pola perilaku remaja yang cenderung lebih berani seiring dengan waktu libur sekolah yang panjang. Belajar dari pengalaman tahun sebelumnya, masa-masa krusial terjadi saat mendekati lebaran karena konsentrasi massa di jalanan meningkat.
“Kita sudah berbagi tugas. Patroli mandiri maupun gabungan pasti kita laksanakan secara intens. Kami juga berbagi informasi jika ada laporan atau indikasi pergerakan massa,” tambahnya.
Menariknya, sebagai solusi jangka panjang agar energi para pemuda tidak terbuang pada aksi negatif, Irwan mengisyaratkan adanya peluang pemberian ruang bagi kegiatan positif.
Pihaknya mengaku sudah menerima permohonan rekomendasi izin keramaian untuk kegiatan Ramadan Run atau lomba lari malam hari yang kini tengah tren.
“Sudah ada permohonan izin keramaian untuk kegiatan lari itu. Ini bisa jadi alternatif agar mereka tidak lagi melakukan aksi-aksi yang mengganggu ketertiban umum," pungkasnya.
Editor : Marthadi