LombokPost – Tradisi memperingati Nuzulul Quran di lingkungan masyarakat Karang Taliwang, Kota Mataram tidak sekadar diisi dengan ceramah agama atau ibadah semata. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang besar untuk berbagi sedekah sekaligus mempererat silaturahim masyarakat Taliwang yang tersebar di berbagai daerah.
Di momen ini, warga secara kolektif bergotong royong menyiapkan hidangan berbuka puasa untuk seluruh jamaah. Sumber dananya pun tidak berasal dari satu pihak, melainkan dari sedekah masyarakat sendiri.
Warga datang membawa berbagai bahan makanan dan “gibungan”—hidangan yang dibawa dari rumah untuk dikumpulkan bersama. Tradisi ini menjadi simbol partisipasi kolektif masyarakat dalam merayakan turunnya Alquran.
“Dana kegiatan ini dari masyarakat sendiri. Mereka bersedekah, membawa gibungan. Semua ikut berbagi,” ujar Ketua Panitia Habibi, Senin sore (16/3).
Selain hidangan berbuka bersama di masjid, panitia juga menyiapkan makanan khusus berupa daging kambing atau sapi yang dimasak bersama. Makanan tersebut kemudian dibagikan kepada warga untuk dibawa pulang.
Pembagian makanan ini dikenal dengan istilah “perontok” yakni paket hidangan yang dibawa pulang oleh masyarakat untuk dinikmati bersama keluarga.
Tradisi ini juga memiliki makna sosial tersendiri. Perempuan yang tidak ikut hadir di masjid tetap dapat menikmati hidangan dari sedekah masyarakat.
“Perempuan kan tidak naik ke masjid. Jadi makanan itu dibawa pulang supaya mereka juga bisa menikmati apa yang sudah disedekahkan masyarakat,” jelasnya.
Silaturahim Akbar Orang Taliwang
Momentum Nuzulul Quran ini juga menjadi ajang silaturahim akbar bagi masyarakat Taliwang, baik yang tinggal di kampung halaman maupun yang merantau.
Sejumlah tokoh agama, guru, hingga warga Taliwang yang berada di luar daerah turut hadir atau berkontribusi dalam kegiatan ini.
“Ini silaturahim akbar orang Taliwang. Banyak yang dari luar kampung bahkan dari Jakarta ikut menyumbang atau pulang untuk merasakan kebersamaan di momen ini,” katanya.
Tradisi tersebut telah berlangsung sangat lama. Bahkan disebut sudah berjalan sejak ratusan tahun lalu, seiring berdirinya komunitas Taliwang di Kota Mataram.
“Sudah sejak kampung ini ada. Sekitar tiga ratusan tahun tradisi ini berjalan,” tambahnya.
Ragi Pisak, Kuliner Warisan Lintas Budaya
Salah satu hidangan khas yang selalu hadir dalam perayaan ini adalah ragi pisak. Menu ini disebut sebagai makanan khas yang hampir tidak ditemukan di tempat lain.
Keberadaan ragi pisak juga mencerminkan sejarah keterbukaan masyarakat Taliwang terhadap berbagai budaya luar.
Menurut tokoh masyarakat, makanan tersebut diyakini memiliki jejak sejarah dari percampuran budaya Arab, India, hingga Timur Tengah yang dahulu pernah datang dan menetap di wilayah tersebut.
“Ragi pisak ini mungkin dibawa oleh orang-orang Arab atau jamaah yang datang ke sini dulu. Setelah mereka pergi, masyarakat Taliwang mengembangkannya hingga menjadi tradisi,” katanya.
Karena itu, ragi pisak tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol keterbukaan budaya masyarakat Taliwang.
Dimasak Sejak Pagi
Persiapan kegiatan dimulai sejak pagi hari. Warga bergotong royong menyiapkan bahan dan memasak hidangan berbuka.
Para perempuan biasanya bertugas mencincang daging dan memasak, sementara para laki-laki menyiapkan racikan bumbu yang bahkan sudah dipersiapkan sejak satu minggu sebelumnya.
“Bumbu-bumbunya sudah disiapkan seminggu sebelumnya. Laki-laki yang meracik, nanti perempuan yang memasak,” jelasnya.
Proses memasak dimulai sejak sekitar pukul 11.00 Wita dan berlangsung hingga sore hari menjelang waktu berbuka.
Sebagian makanan yang dimasak juga dibagikan kepada masyarakat yang datang membawa hidangan dari rumah.
Semangat Sedekah dan Kebersamaan
Selain memperingati turunnya Alquran kegiatan ini memiliki tujuan utama menanamkan semangat berbagi kepada masyarakat.
Warga yang tidak mampu pun tetap dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut dengan memberikan sedekah sesuai kemampuan.
“Walaupun hanya sepuluh ribu atau dua puluh ribu rupiah, itu sudah menjadi bagian dari sedekah mereka,” ujarnya.
Menurutnya, semangat berbagi inilah yang menjadi ruh utama kegiatan tersebut.
“Yang paling penting adalah semangat berbagi. Baik dalam keadaan mampu maupun tidak mampu, silaturahim harus tetap berjalan,” tutupnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin