Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Fenomena "Janda Lansia": Tekanan Hidup dan Rokok Jadi Pemicu Utama Harapan Hidup Laki-laki Rendah

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 16 April 2026 | 07:34 WIB
USIA SENJA: Seorang lansia tengah termenung di usianya yang semakin menua.
USIA SENJA: Seorang lansia tengah termenung di usianya yang semakin menua. (IVAN/LOMBOK POST)

 


LombokPost
- Ketimpangan jumlah lansia antara perempuan dan laki-laki menjadi sorotan. Data menunjukkan, pada kelompok usia 75 tahun ke atas, jumlah perempuan mencapai 12.703 orang, sementara laki-laki hanya sekitar 9.504 orang. 

Selisih yang cukup besar ini memunculkan indikasi meningkatnya jumlah janda, khususnya pada kelompok usia lanjut. “Apakah ini bisa saja indikasi jumlah janda lansia semakin banyak?” 

Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan lebih dalam: mengapa perempuan cenderung memiliki daya tahan hidup lebih lama dibanding laki-laki? Apakah hal ini berkaitan dengan tingkat stres, beban pekerjaan, atau faktor medis lainnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. Emirlad Isfihan menjelaskan secara umum, berdasarkan berbagai penelitian, perempuan memang memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi dibanding laki-laki.

Namun, ia mengakui belum merujuk pada jurnal spesifik yang secara rinci membahas kondisi tersebut. “Secara epidemiologis dan berdasarkan data, memang ada penelitian yang menyebutkan harapan hidup perempuan lebih tinggi. Tapi untuk detail jurnalnya, itu perlu divalidasi lagi,” jelasnya, Minggu (12/4). 

Ia menekankan perbedaan ini lebih tepat dilihat dari perspektif gender dan pola hidup. Sejumlah faktor risiko pada laki-laki dinilai berkontribusi terhadap lebih rendahnya usia harapan hidup.

“Salah satu faktor utama adalah kebiasaan merokok. Ini sudah banyak penelitian yang menunjukkan dampaknya terhadap kesehatan dan umur,” ujarnya.

Selain itu, faktor stresor atau tekanan hidup juga disebut berperan. Dalam struktur sosial yang masih cenderung patriarkis, laki-laki umumnya memikul tanggung jawab ekonomi keluarga, sehingga tekanan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari menjadi lebih tinggi.

“Stresor itu bukan hanya soal stres secara langsung, tapi tekanan hidup. Misalnya pekerjaan. Laki-laki umumnya menjadi tulang punggung keluarga, sehingga tekanannya lebih besar,” paparnya.

Kebiasaan lain seperti begadang, pola hidup tidak teratur, hingga kebiasaan konsumsi tertentu juga dinilai turut memengaruhi kondisi kesehatan laki-laki dalam jangka panjang.

Baca Juga: Harumkan Nama Bangsa di China, Atlet Pickleball Mataram Ini Malah Terkendala Biaya Berangkat


“Begadang karena pekerjaan atau kebiasaan, pola makan, itu semua menjadi faktor. Walaupun untuk beberapa hal selain merokok, masih perlu penelitian lebih lanjut,” tambahnya.

Terkait faktor kebahagiaan, ia menilai hal tersebut sulit dijadikan parameter karena bersifat subjektif. “Berbeda dengan kesehatan yang punya indikator jelas. Jadi kita tidak bisa menjadikan bahagia sebagai ukuran pasti,” jelasnya.

Namun demikian, upaya meningkatkan kualitas hidup tetap bisa dilakukan melalui perubahan pola hidup. Dinas Kesehatan Kota Mataram mendorong penerapan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) sebagai langkah preventif.

“Komponen Germas itu termasuk menghindari rokok, mengelola stres, menghindari alkohol, dan rutin memeriksakan kesehatan. Ini penting untuk meningkatkan harapan hidup,” tegasnya.

Ia juga menambahkan pekerjaan laki-laki yang cenderung lebih berisiko turut berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Karena itu, pengelolaan stres menjadi kunci penting.

“Pekerjaan laki-laki rata-rata lebih berisiko. Makanya pengelolaan stres itu penting. Bukan menunggu stres dulu baru ditangani, tapi sejak awal harus dikelola,” katanya.

Dikes saat ini juga tengah menguatkan program kesehatan mental sebagai bagian dari program “Mataram Harum” tahun 2026. Salah satu fokusnya penyediaan layanan konseling kesehatan jiwa di seluruh puskesmas.

“Jadi masyarakat bisa melakukan konseling sebelum mengalami stres berat,” ujarnya.

Pendekatan promotif juga dilakukan melalui berbagai aktivitas yang lebih menyenangkan. Terutama pembinaan kebugaran dan pendampingan, seperti yang diterapkan pada jamaah haji.

“Kita tidak hanya memeriksa kesehatan jamaah haji, tapi juga membimbing mereka, termasuk dari sisi kebugaran dan pengelolaan stres,” jelasnya.

Baca Juga: Dokumen Tertahan di BKN, Pelantikan Kepala Sekolah di Mataram Bakal Dilakukan Bertahap


Di sisi lain, ia mengakui hingga saat ini belum ada kajian spesifik yang secara mendalam menjelaskan penyebab perbedaan usia harapan hidup antara laki-laki dan perempuan. Untuk itu, Dikes telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Mataram dan kampus lainnya, guna mendorong penelitian yang lebih spesifik sesuai kebutuhan daerah.

“Mahasiswa didorong untuk melakukan penelitian, termasuk terkait faktor-faktor yang memengaruhi harapan hidup di Kota Mataram,” katanya.

Menurutnya, setiap daerah memiliki karakteristik berbeda. Sehingga diperlukan kajian khusus memahami fenomena ini secara lebih komprehensif.

“Kalau secara umum, memang perempuan lebih tinggi harapan hidupnya. Dan di Mataram juga terlihat seperti itu. Tapi untuk penyebab pastinya, kita masih perlu penelitian lebih lanjut,” pungkasnya. (zad/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#janda di Kota Mataram #Kesehatan Lansia #Dinas Kesehatan #angka harapan hidup