Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tangan Dingin di Balik Emas SEA Games: Kisah M. Akhyar, Terapis Timnas Asal Mataram

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 16 April 2026 | 07:43 WIB
MENYIAPKAN TENAGA: Akhyar saat melakukan peregangan pada pemain yang akan bertanding, beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI)
MENYIAPKAN TENAGA: Akhyar saat melakukan peregangan pada pemain yang akan bertanding, beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI)

 

Di balik selebrasi gol yang emosional dan angkat piala yang membanggakan, ada tangan yang bekerja untuk memastikan otot-otot para pemain bola tetap prima.

---

MEMULAI langkah di kancah internasional pada tahun 2016 dalam ajang CFA International Futsal Tournament di Beijing, Tiongkok, M. Akhyar mengawali pengabdiannya dengan satu prinsip, yakni terapi adalah pekerjaan jiwa. Baginya, setiap pemain yang berbaring di meja perawatan membawa beban yang berbeda, bukan hanya soal asam laktat yang menumpuk, tapi seringkali tentang mental yang sedang jatuh (down) akibat tekanan kompetisi atau cedera parah.

 

“Sebagai terapis Timnas, kita harus paham karakter setiap individu. Koneksi manusia yang mendalam adalah kuncinya agar pemain merasa nyaman saat menjalani treatment,” kata Akhyar, Minggu (12/4). 

 

Selama hampir sepuluh tahun malang melintang di dunia medis olahraga, ia telah menjadi saksi ketangguhan para atlet Indonesia. Dari di titik terendah hingga titik tertinggi mereka.

 

Ada satu benda yang tak pernah absen dari tas medis Akhyar selama satu dekade terakhir, yakni minyak zaitun. Cairan sederhana ini menjadi saksi bisu ribuan jam kerja kerasnya di pinggir lapangan maupun ruang ganti. 

Baca Juga: Fenomena "Janda Lansia": Tekanan Hidup dan Rokok Jadi Pemicu Utama Harapan Hidup Laki-laki Rendah

Sambil berseloroh, ia menyebut minyak tersebut sebagai senjata utama yang menemaninya menghadapi berbagai macam karakter pelatih dunia. “Minyak zaitun itu tidak pernah absen,” ujarnya.

 

Akhyar telah mengecap berbagai gaya kepemimpinan pelatih top. Mulai dari era Kensuke Takahashi (2018–2021) yang menanamkan disiplin taktik ala Jepang yang sangat ketat, hingga pelatih-pelatih asal Belanda seperti Vic Hermans dan Yori Van Der Torren yang membawa gaya Eropa. 

 

Di sepak bola konvensional, ia juga merasakan intensitas tinggi di bawah asuhan Shin Tae-yong, serta pendekatan persuasif dari pelatih lokal seperti Bima Sakti dan Indra Sjafri. “Setiap pelatih punya filosofi dan 'mazhab' masing-masing. Pelatih Eropa berbeda dengan Asia, tapi tujuannya satu: kemenangan. Kami di tim medis harus bisa mengimbangi intensitas yang mereka berikan kepada pemain,” imbuhnya.

 

Pekerjaan sebagai terapis tidaklah tanpa duka. Akhyar mengakui adanya risiko compassion fatigue atau kelelahan empati.

 

Mendengarkan trauma, duka, dan emosi negatif pemain setiap hari seringkali menguras energinya secara mental. Ada momen-momen di mana rasa jenuh dan kelelahan fisik yang luar biasa menghampiri, terutama saat menghadapi pemain yang resisten atau tertutup terhadap rencana perawatan.

 

Baca Juga: Harumkan Nama Bangsa di China, Atlet Pickleball Mataram Ini Malah Terkendala Biaya Berangkat


Namun, rasa jenuh itu seolah menguap begitu saja saat ia melihat bendera Merah Putih berkibar di podium tertinggi. “Rasa lelah itu hilang saat kita juara. Energinya seolah kembali pulih seketika,” kata pria yang menjadi guru di SMPN 10 Mataram tersebut.

 

Kepuasan tertingginya bukan terletak pada bonus kemenangan, melainkan pada momen melihat pemain yang sebelumnya datang dengan beban berat—baik itu trauma fisik maupun depresi—perlahan kembali tersenyum dan bisa berlari lagi di lapangan hijau. 

 

Baginya, keberhasilan membantu seseorang meredakan nyeri dan memperbaiki kesehatan mental adalah kebanggaan yang tidak bisa dinilai dengan materi. Portofolio Akhyar adalah daftar panjang kesuksesan olahraga Indonesia dalam sedekade terakhir. 

 

Di dunia futsal, ia turut mengantar Indonesia menjadi Juara 3 AFF Futsal 2018 dan Runner-up pada 2019. Di sepak bola, ia berada dalam lingkaran kepelatihan Shin Tae-yong saat menjadi Runner-up Piala AFF 2021.

 

Dedikasinya berlanjut hingga masa keemasan pelatih lokal. Ia menjadi bagian dari tim medis saat Bima Sakti membawa U-16 juara tahun 2022, hingga kesuksesan monumental Indra Sjafri meraih emas SEA Games 2023 dan juara AFF U-19 2024. 

 

Baca Juga: Harumkan Nama Bangsa di China, Atlet Pickleball Mataram Ini Malah Terkendala Biaya Berangkat


Bahkan, ia tetap dipercaya hingga era Gerald Vanenburg di Timnas U-23 pada 2025. Bagi Akhyar, setiap turnamen adalah ruang kelas baru. 

 

Profesi ini menuntutnya untuk terus belajar dan berkembang guna menjaga otak tetap tajam dan perspektif hidup yang luas. “Menjadi terapis profesional adalah profesi yang memanggil hati. Meski duka seperti burnout itu nyata, dampak positif yang kita berikan pada pemain membuat semua perjuangan terasa sepadan,” pungkasnya. (*/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Terapis Timnas #STY #indra sjafri #sea games