Ada satu pola menarik yang bisa dibaca dari capaian terbaru Kota Mataram. Pencapaian ini tidak datang tiba-tiba. Dari proses tumbuh, bertahap, terukur dan kini mulai terlihat jelas dalam peta nasional.
———
LombokPost - Rilis terbaru berbasis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 yang disusun oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menempatkan Kota Mataram dalam 10 besar kota paling maju di Indonesia, dengan skor 4,26. Sebuah capaian yang tidak hanya simbolik, tetapi mencerminkan struktur pembangunan yang mulai matang.
“Alhamdulillah, ini buah dari konsistensi kepemimpinan Bapak Wali Kota dan Wakil Wali Kota dalam memacu produktivitas daerah. Indikator IDSD ini mengukur empat komponen utama investasi, inovasi, pelayanan publik, dan produktivitas,” kata M. Ramadani, Minggu (12/4).
Jika ditarik ke belakang, pada tahun 2024, Mataram masih berada dalam klaster kota termaju di luar Jawa. Bahkan menempati posisi kedua di bawah Kota Gorontalo.
Kini, batas geografis itu ditembus. Mataram tidak lagi sekadar “kuat di luar Jawa”, tetapi mulai bersaing langsung dengan kota-kota besar di Pulau Jawa. Ruang kompetisi jauh lebih padat dan kompleks.
Yang lebih menarik bukan hanya peringkat. Melainkan apa yang membuat Mataram sampai ke titik ini.
Salah satu kekuatan paling menonjol Mataram ada pada Adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pilar 3). Skornya tinggi yakni 5,00.
Baca Juga: Anggaran Lokal Dipangkas Habis, Wali Kota Mataram Sukses Lobby Pusat Perbaiki 533 Rumah Layak Huni
Di baliknya ada transformasi nyata: pemerintahan yang mulai bergerak ke arah e-government, pelayanan publik yang tidak lagi bergantung pada tatap muka, hingga sistem perizinan berbasis digital seperti OSS-RBA.
Command Center Kota Mataram menjadi simbol perubahan itu. “Pusat kendali informasi yang bukan hanya memantau, tetapi juga mengintegrasikan berbagai layanan,” paparnya.
Di sisi lain, ekonomi rakyat pun ikut terdorong. UMKM tidak lagi berdiri sendiri.
Mereka masuk ke ekosistem digital. Belajar memasarkan produk lewat marketplace, dan mulai membaca pasar yang lebih luas dari sekadar lokal.
Teknologi, dalam konteks ini, bukan sekadar alat. “Instrumen ini menjadi pengungkit,” tekannya.
Pasar yang Hidup: Ekonomi Lokal Bergerak Dinamis
Baca Juga: Tangan Dingin di Balik Emas SEA Games: Kisah M. Akhyar, Terapis Timnas Asal Mataram
Kekuatan berikutnya ada pada Pilar Pasar Produk (Pilar 7). Pilar ini mendapat skor maksimal 5,00.
Ini menunjukkan satu hal penting: perdagangan di Mataram hidup, bergerak, dan efisien.
Revitalisasi pasar tradisional seperti Pasar Kebon Roek dan Pasar Cakranegara bukan sekadar proyek fisik. Revitalisasi ini menjadi upaya menjaga denyut ekonomi rakyat tetap relevan di tengah modernisasi.
UMKM kuliner dan kerajinan tumbuh sebagai identitas ekonomi lokal. Festival ekonomi kreatif dan berbagai event promosi jembatan antara produk lokal dan pasar yang lebih luas.
Ditambah lagi dengan dukungan sertifikasi halal dan kemudahan perizinan. “Ekosistem usaha kecil menjadi lebih siap naik kelas,” ujarnya.
Iklim Usaha yang Menghangat: Lahirnya Wirausaha Baru
Baca Juga: Fenomena "Janda Lansia": Tekanan Hidup dan Rokok Jadi Pemicu Utama Harapan Hidup Laki-laki Rendah
Di balik angka indeks, ada dinamika yang sering luput terlihat: lahirnya pelaku usaha baru.
Pada Pilar Dinamisme Bisnis (Pilar 11), Mataram menunjukkan iklim yang kondusif dengan skor 4,58. “Birokrasi mulai dipangkas, perizinan dipercepat melalui Mal Pelayanan Publik, dan ruang tumbuh bagi wirausaha muda semakin terbuka,” paparnya.
Program inkubasi bisnis dan kolaborasi dengan komunitas startup lokal menjadi tanda pemerintah tidak lagi sekadar regulator, tetapi juga fasilitator.
Ini penting. Karena kota yang maju bukan hanya yang infrastrukturnya bagus, tetapi yang manusianya berani berusaha.
Inovasi sebagai DNA Baru Pemerintahan
Mataram juga menunjukkan performa kuat pada Pilar Kapabilitas Inovasi (Pilar 12) dengan skor 4,33. Inovasi tidak lagi menjadi jargon, tetapi mulai menjadi praktik.
Pelayanan administrasi kependudukan berbasis digital mempercepat layanan dasar. “Program seperti “Tempah Dedoro” menunjukkan inovasi bisa lahir dari persoalan sehari-hari, seperti pengelolaan sampah,” ujarnya.
Baca Juga: Pecah! Ribuan Peserta Serbu Night Run HUT Lobar, Sensasi Lari Malam Pertama di Lombok Barat
Partisipasi dalam ajang seperti Innovative Government Award (IGA) memperlihatkan inovasi juga dijadikan standar kompetisi, bukan sekadar inisiatif sporadis.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi di Mataram memperkuat fondasi ini. Menghubungkan kebijakan dengan riset.
Keunggulan Struktural: Infrastruktur dan Ukuran Pasar
Sebagai ibu kota Nusa Tenggara Barat, Mataram memiliki keunggulan struktural yang tidak bisa diabaikan. Infrastruktur jalan relatif memadai.
Fasilitas kesehatan dan pendidikan lebih lengkap dibanding daerah sekitarnya. Dan yang paling penting: kepadatan penduduk menciptakan pasar domestik yang kuat.
Kombinasi ini menjadikan Mataram bukan sekadar kota administratif, tetapi pusat pertumbuhan ekonomi regional.
Baca Juga: Harumkan Nama Bangsa di China, Atlet Pickleball Mataram Ini Malah Terkendala Biaya Berangkat
Membaca Arah: Bukan Sekadar Peringkat
Pencapaian ini, jika dibaca lebih dalam, bukan hanya soal masuk 10 besar. Hal ini sinyal Mataram sedang bergerak dari: kota regional menuju kota kompetitif nasional.
Dan jika ditarik dalam konteks yang lebih luas, ini juga memperlihatkan kota-kota di luar Jawa mulai menemukan momentumnya.
Mataram mungkin belum sebesar Surabaya atau Bandung. Tetapi arah geraknya jelas:. “Komitmen bapak wali kota dan wakil wali kota sangat jelas dan tegas pembangunan ke depan bertumpu pada teknologi, menguatkan ekonomi lokal, membuka ruang usaha, dan membangun inovasi,” tegasnya.
Di situlah letak kekuatannya. Bukan pada seberapa besar Mataram hari ini, tetapi pada seberapa konsisten terus bertumbuh. (zad/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin