LombokPost — Program Jalan Sehat Berkunjung ke Lingkungan (Jas Kuning) milik Dinas Kesehatan Kota Mataram mulai menarik perhatian daerah lain. Komisi B DPRD Kota Batu, Jawa Timur, bahkan turun langsung melihat bagaimana pola kerja “jemput bola” itu dijalankan di lapangan.
Namun di balik ketertarikan tersebut, fakta yang ditemukan di kawasan Bintaro, Ampenan, justru menunjukkan pekerjaan rumah yang belum ringan. Dari penyisiran langsung ke lingkungan warga, tim menemukan rangkaian persoalan yang saling terhubung: lansia dengan penyakit degeneratif, kasus stunting pada anak, hingga penyakit kulit yang muncul akibat faktor lingkungan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. Emirald Isfihan, menegaskan kunjungan Komisi B Kota Batu menjadi sinyal pendekatan Jas Kuning mulai dilirik sebagai model penanganan kesehatan berbasis lapangan. “Mereka datang langsung melihat bagaimana kita bekerja di lapangan. Ini jadi kebanggaan, karena apa yang kita lakukan ternyata menarik untuk dipelajari daerah lain,” ujarnya, Jumat (17/4).
Menurut dr. Emirald, Jas Kuning bukan sekadar program rutin, melainkan pendekatan yang mencoba membongkar persoalan kesehatan dari akar paling bawah. Langsung dari rumah ke rumah.
“Ini bisa dibilang satu-satunya model seperti ini di Indonesia. Kita tidak menunggu, tapi kita yang datang melihat langsung,” tegasnya.
Dari kunjungan di Bintaro, tim menemukan kompleksitas persoalan yang tidak sederhana. Dalam satu lingkungan, ditemukan puluhan lansia dengan berbagai penyakit kronis.
Kondisi ini menjadi konsekuensi dari meningkatnya angka harapan hidup di Kota Mataram. “Angka harapan hidup kita tinggi, tapi itu juga membawa dampak. Lansia bertambah, penyakit degeneratif juga meningkat,” katanya.
Di sisi lain, persoalan stunting masih menjadi catatan. Dari hasil kunjungan, tim menemukan anak-anak dengan risiko gangguan tumbuh kembang yang berkaitan dengan pola asuh dan kondisi sosial keluarga.
“Orang tua bekerja, anak dititipkan. Ini realitas kota sekarang, dan ini berpengaruh langsung ke tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Masalah lain yang mencuat adalah penyakit kulit yang ditemukan pada warga. Lainnya lagi indikasi infeksi yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan dan kualitas air.
Baca Juga: REI NTB Dukung Aturan Baru SLIK OJK
“Kita juga temukan kasus penyakit kulit. Ini tidak bisa dilepaskan dari faktor lingkungan dan sanitasi,” tegasnya.
Ia menilai, persoalan kesehatan di wilayah padat seperti Ampenan tidak bisa hanya diselesaikan dari sisi pelayanan medis semata. Harus dilihat sebagai akumulasi persoalan sosial dan lingkungan.
Karena itu, Dinas Kesehatan mendorong perubahan pendekatan. Pemeriksaan langsung kualitas air rumah tangga serta pelayanan kesehatan berbasis kunjungan rumah.
“Pasien tidak selalu bisa datang. Maka kita yang harus datang,” ujarnya.
Ia menegaskan, jika pendekatan ini konsisten dijalankan, penanganan kesehatan tidak lagi bersifat reaktif, tetapi preventif dan berbasis data lapangan. Camat Ampenan Muzakkir Walad menilai kehadiran tim Jas Kuning memberikan dampak langsung bagi masyarakat di wilayahnya.
“Kami melihat langsung, bukan hanya kunjungan, tapi ada solusi yang langsung diberikan di lapangan,” ujarnya.
Ia menyebut pendekatan tersebut menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah wilayah dalam memahami persoalan masyarakat secara lebih konkret. “Ini membuka mata kita persoalan di bawah itu kompleks dan harus ditangani bersama,” katanya. (zad/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin