Gatal semenit saja rasanya, tidak tahan. Tapi Raham, telah menjalaninya 15 tahun lebih!
---
Gatal. Tak tertahan.
Dan tangan yang tak pernah kembali seperti semula. Inilah yang dirasakan Raham, pria 83 tahun yang tinggal di sebuah rumah sederhana Jalan HM Ruslan, Bintaro Jaya, Ampenan.
“(Rasanya) gatal,” ujar Raham parau memperlihatkan tangannya yang bengkak, Rabu (22/4).
Raham menjalani hari-harinya dengan tenang.
Usianya kini melewati delapan dekade.
Namun satu hal masih setia menemaninya: bengkak di tangan yang tak kunjung hilang.
Ia mengingat awalnya dengan samar, tapi cukup jelas untuk dikenang. Semua bermula dari satu kejadian sederhana.
Menyentuh tanah semen. “Sekali pegang semen itu langsung bengkak. Setelah itu mulai gatal-gatal,” ujarnya.
Peristiwa itu terjadi sekitar dua puluh tahun lalu.
Sejak saat itu, hidupnya berubah perlahan.
Baca Juga: Radius 100 Meter Gerbang Asrama Haji Steril, Dishub Mataram Siap Angkut Kendaraan Membandel
Gatal datang.
Bertahan.
Dan tak pernah benar-benar pergi.
“Sudah lima belas tahun lebih saya alami gatal ini,” ungkapnya pelan.
Ia sudah berulang kali berobat. Puskesmas. Suntikan. Obat-obatan.
Namun hasilnya tak pernah benar-benar menetap. “Sudah sering dibawa berobat. Sembuh sehari dua hari, habis itu kambuh lagi,” ujarnya.
Dokter menyebutnya alergi.
Jawaban yang sederhana, tapi tak memberi kepastian.
Bengkak di tangannya pun menetap. Tidak bertambah drastis.
Namun juga tidak pernah benar-benar pulih. Yang paling terasa justru datang di malam hari.
Siang, ia masih bisa beraktivitas. Mengalihkan perhatian dari rasa gatal.
Namun malam, ketika tubuh berhenti bergerak, rasa itu datang lebih kuat. “Kalau malam baru terasa gatal. Enggak tahan kalau enggak digaruk, makanya ini habis tergores (kulit karena digaruk),” katanya, bertutur dalam bahasa yang dicampur antara Sasak dan Indonesia.
Ia menggaruk. Berulang.
Seolah itu satu-satunya cara untuk meredakan rasa yang tak terlihat.
Baca Juga: Lawan "Godzilla El Nino", Distan Mataram Wajibkan Petani Pakai Benih Padi "Tahan Haus"
Meski begitu, Raham tetap bekerja. Sebisanya.
Kadang di rumah.
Kadang membersihkan kuburan di pemakaman.
Ia tidak pernah berhenti sepenuhnya. “Saya bersihkan kuburan saja,” ujarnya.
Ia tinggal tak jauh dari laut.
Namun tidak pernah berani melaut.
“Takut laut. Jadi kerja tani saja,” katanya sambil tersenyum tipis.
Dalam hidupnya, ia tak banyak menuntut.
Istrinya telah berpisah.
Kini ia hidup dengan dua anaknya.
Yang sulung bekerja di swalayan Rubby.
Yang bungsu baru menyelesaikan pendidikan SMK.
Kehidupan berjalan sederhana. Seperti hari-hari yang dilaluinya.
Tentang penyakit itu, ia tak lagi banyak bertanya.
Tak lagi mencari jawaban yang pasti.
Ia hanya menyimpannya sebagai bagian dari hidup. “Enggak pernah sembuh,” ujarnya. (*/r9)
Baca Juga: Jangan Sampai Meluap! Septic Tank Bantuan 2018-2023 di Mataram Kini Wajib Sedot Rutin
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin