Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

70 Persen Jamaah Haji Mataram Masuk Kategori Risti, Dikes Perketat Pengawalan Medis dan Obat-obatan

Sanchia Vaneka • Jumat, 24 April 2026 | 09:33 WIB
MENUNAIKAN IBADAH: Seorang jamaah calon haji lansia yang akan bersiap berangkat ke Baitullah, beberapa waktu lalu.
MENUNAIKAN IBADAH: Seorang jamaah calon haji lansia yang akan bersiap berangkat ke Baitullah, beberapa waktu lalu. (IVAN/LOMBOK POST)

 
 

LombokPost – Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram memberikan perhatian ekstra. Komposisi jamaah haji asal Ibu Kota Provinsi NTB tersebut didominasi oleh kelompok risiko tinggi (risti) yang mencapai 70 persen dari total kuota. 

Meski demikian, seluruh jamaah dipastikan telah mengantongi status istithaah kesehatan dan layak untuk diberangkatkan. “Memang benar, sekitar 70 persen jamaah kita masuk kategori risiko tinggi. Tetapi angka ini sudah kami petakan sejak awal,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. Emirald Isfihan, Kamis (24/4).
 
Ia mengatakan, faktor usia dan keberadaan penyakit penyerta atau komorbid  menjadi alasan utama tingginya persentase jamaah risti. Namun, melalui sistem pemantauan kesehatan yang ketat, kondisi fisik mereka terus dipantau agar tetap stabil.
 
“Artinya, walaupun berisiko, secara medis posisi mereka masih layak dan memenuhi kriteria istithaah kesehatan untuk menjalankan ibadah haji,” ujarnya. 

Baca Juga: Jangan Risau! Mesin KIR Dishub Mataram Sudah Dikalibrasi, Hasil Uji Dijamin Akurat
 
Berdasarkan data pemetaan medis, penyakit degeneratif menjadi jenis penyakit yang paling banyak diderita. Hipertensi atau tekanan darah tinggi menempati urutan pertama, disusul diabetes melitus. 

“Ada juga satu atau dua kasus penyakit lainnya, namun semua masih dalam batas terkendali,” imbuhnya.
 
Emirald menegaskan telah berkoordinasi langsung dengan tim kesehatan yang akan mendampingi jamaah selama di Arab Saudi. Edukasi intensif telah diberikan sejak masa bimbingan manasik, mencakup pengaturan pola makan, pola tidur, hingga manajemen aktivitas fisik agar jamaah tidak mengalami kelelahan ekstrem.
 
“Pesan kami jelas, tidak hanya sekadar menangani yang sakit, tetapi mengedepankan upaya pencegahan. Pendampingan obat-obatan juga sudah disiapkan sejak proses sekarang hingga nanti di Tanah Suci,” tegasnya.
 
Selain faktor penyakit bawaan, tantangan berat lainnya cuaca ekstrem dan musim kemarau panjang yang tengah melanda. Ancaman heatstroke atau sengatan panas menjadi atensi khusus bagi tim medis, mengingat suhu di Arab Saudi bisa melonjak drastis.
 
dr. Emirald memaparkan, strategi utama melawan cuaca panas dengan menjaga hidrasi tubuh secara konsisten. Jamaah diminta tidak menunggu haus untuk minum.

Edukasi mengenai penggunaan oralit setelah beraktivitas juga menjadi poin krusial dalam bimbingan kesehatan. “Tim kesehatan akan terus mengajak jamaah untuk rutin mengonsumsi air dan oralit,” pungkasnya. (chi/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #kesehatan jamaah #istithaah kesehatan #Dikes Mataram