Dulu, perahu diangkat dengan tenaga ramai-ramai.
Sekarang, suara mesin yang meraung, menarik sekuat gajah!
---
DI sepanjang pesisir Bintaro, Ampenan, suara mesin tua kadang terdengar memecah angin laut. Bukan suara perahu. Bukan pula kendaraan.
Melainkan mesin penarik, alat sederhana hasil kreasi nelayan setempat. Bentuknya tak sepenuhnya utuh seperti sepeda motor.
Sebagian sudah dipreteli.
“Namun mesinnya tetap hidup,” tutur Sabri, nelayan yang memiliki mesin penarik itu, Kamis (23/4).
Dari situlah tenaga ditarik.
Menggerakkan sistem katrol.
Lalu perlahan menarik perahu ke darat.
“Dulu harus sembilan sampai sepuluh orang untuk angkat perahu. Sekarang cukup dua atau tiga orang saja,” jelasnya.
Perubahan itu terasa besar.
Terutama bagi nelayan yang selama ini bergantung pada tenaga manusia.
Sebelum ada alat ini, menaikkan perahu menjadi pekerjaan berat.
Harus menunggu bantuan.
Baca Juga: 70 Persen Jamaah Haji Mataram Masuk Kategori Risti, Dikes Perketat Pengawalan Medis dan Obat-obatan
“Dulu butuh banyak orang.
Dan melelahkan,” jelasnya dalam bahasa Sasak.
Kini, pekerjaan itu bisa dilakukan lebih cepat.
Lebih ringan.
Cukup satu orang menghidupkan mesin.
Sementara yang lain mengarahkan posisi perahu agar tetap lurus saat ditarik.
“Biasanya istri atau teman yang hidupkan mesin, kami yang arahkan perahunya,” ujarnya sambil tersenyum.
Ide alat ini tidak datang tiba-tiba. Sebagian nelayan mengaku terinspirasi dari nelayan di Bali.
Sebagian lagi belajar dari video di internet. Namun yang mereka buat bukan meniru sepenuhnya.
Mereka memodifikasi. Jika di video banyak menggunakan kayu menggunakan mekanisme katrol, di Bintaro mereka mencoba menggabungkan mesin motor bekas dengan sistem katrol berbahan besi.
Hasilnya, tenaga yang dihasilkan jauh lebih kuat.
Cukup untuk menarik perahu berbobot berat.
Namun justru di situlah tantangan terbesar. Bukan pada motornya.
Melainkan pada sistem katrolnya.
Baca Juga: Jangan Risau! Mesin KIR Dishub Mataram Sudah Dikalibrasi, Hasil Uji Dijamin Akurat
“Motor bekas itu murah, satu juta lebih. Tapi yang mahal itu gilingan besi sama sistem katrolnya,” terangnya.
Untuk satu unit mesin tarik, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai sekitar tujuh juta rupiah. Termasuk motor, gear, dan komponen lainnya.
Itu di luar biaya fondasi. “Karena alat ini harus ditanam kuat di bantaran pantai,” tekannya.
Menggali pasir hingga menemukan lapisan keras di bawahnya. Jika tidak, alat tidak akan mampu menahan beban saat menarik perahu.
“Fondasinya saja bisa dua juta. Harus kuat, kalau tidak nanti lepas,” ujarnya.
Meski tidak semua nelayan memiliki alat ini, keberadaannya mulai mengubah cara kerja di pesisir. Perahu-perahu kini lebih sering dinaikkan ke darat.
Tidak lagi dibiarkan terlalu lama di laut. Bagi nelayan, itu penting.
Air laut yang terus menerus mengenai badan perahu bisa merusak.
Terutama perahu berbahan fiber.
“Kalau seminggu saja di laut, sudah mulai berlumut. Lama-lama jadi lembek kayak kerupuk,” tuturnya.
Belum lagi ancaman ombak besar. Di musim tertentu, gelombang bisa menyeret perahu ke tengah laut.
Baca Juga: Target 300 Ribu Wisatawan di Tengah Krisis Avtur, Dispar Mataram Hidupkan "Friday Relax" di Udayana
“Bahkan hilang,” ucapnya.
Karena itu, menambatkan perahu di darat menjadi pilihan paling aman. “Kalau di tengah laut, capek juga jaga. Bisa hanyut. Lebih baik kita naikkan saja ke darat,” ujarnya.
Namun alat ini juga punya keterbatasan. Karena berada di ruang terbuka, mesin mudah terkena korosi akibat udara laut yang mengandung garam.
“Hujan dan panas juga mempercepat kerusakan,” ujarnya.
Warga sebenarnya ingin membuat rumah pelindung untuk mesin-mesin tersebut.
Namun keterbatasan biaya membuat rencana itu belum terwujud.
“Sekarang paling ditutup terpal saja, tapi belum cukup,” katanya.
Di balik keterbatasan itu, kreativitas tetap berjalan. Sebagian nelayan bahkan menggunakan mesin senso sebagai alternatif.
Sebagian lagi hanya mengambil mesin tanpa bodi motor. Semua disesuaikan dengan kemampuan.
Bagi Sabri, alat ini bukan sekadar inovasi.
Ini cara bertahan.
Ia membeli perahunya seharga 12 juta rupiah.
Investasi yang tak kecil bagi nelayan.
Baca Juga: Pemprov NTB Hormati Aspirasi Publik, Gubernur NTB Tetap Jalankan Tugas Pemerintahan
Karena itu, menjaga perahu tetap awet menjadi keharusan. “Semakin sering kita naikkan ke darat, perahu lebih awet,” katanya.
Di pesisir Bintaro, mesin-mesin tua itu kini menjadi bagian dari lanskap baru.
Tak mewah.
Tak pula sempurna.
Namun bekerja. Membantu nelayan.
Mengurangi tenaga.
Dan menjaga perahu tetap bertahan dari amukan laut. “Yang penting sekarang tidak perlu lagi banyak orang. Cukup sedikit, perahu sudah bisa naik,” tutupnya. (*/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin