LombokPost - Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 162 PD IX/Udayana tengah bersiap melebarkan sayap produk UMKM lokal ke kancah nasional.
Ketua Persit Endang Arief, organisasi istri prajurit TNI AD ini akan berpartisipasi dalam pameran bergengsi bertajuk "Persit Bisa 2" yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 7 hingga 9 Mei mendatang.
Sebagai langkah awal, sebuah talkshow strategis digelar untuk memantapkan persiapan para pelaku UMKM di bawah naungan Persit.
Ketua Persit Koorcab Rem 162 Endang Arief menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar semangat kreativitas anggota tidak hanya berhenti di level daerah.
"Saya mengadakan talkshow ini supaya UMKM kita tidak berhenti sampai di sini. Kami ingin membuka pintu bagi ibu-ibu kami, baik yang di Sumbawa maupun di Lombok, bahwa ada jalan bagi UMKM kita untuk berkembang," ujar Endang Arief, Selasa (28/4).
Baca Juga: Persit Koorcabrem 162 Siap Pikat Jakarta dengan Wastra Lombok
Dalam upaya pengembangan ini, Persit tidak bergerak sendiri.
Endang menekankan pentingnya sinergi dengan Dekranasda dan instansi terkait, terutama dalam hal penguatan legalitas produk. Hal ini dianggap krusial agar produk-produk lokal NTB memiliki daya saing yang kuat saat dipasarkan secara luas.
Potensi yang dimiliki Persit Koorcab Rem 162 memang tergolong masif. Tercatat, saat ini terdapat sekitar 2.838 anggota Persit di wilayah Nusa Tenggara Barat yang memiliki potensi ekonomi kreatif luar biasa. Seluruh hasil karya mereka kini telah mendapatkan wadah representatif di Galeri Wira Bhakti 162 PD IX/Udayana.
“Wadah itu (Galeri Wira Bhakti) adalah rumah bagi pelaku UMKM Persit di seluruh NTB. Kami mendorong mereka yang benar-benar siap untuk maju,” imbuhnya.
Menghadapi pasar nasional Endang juga menaruh perhatian besar pada aspek kualitas dan tren pasar.
Menurutnya, menjaga standar kualitas sesuai keinginan pasar dan mengikuti tren yang berkembang adalah kunci agar produk Persit tetap diterima masyarakat.
Tak hanya pasar fisik, Persit Koorcab Rem 162 kini mulai merambah dunia digital.
Literasi digital bagi para anggota terus ditingkatkan agar mereka mampu melakukan promosi dan branding secara mandiri melalui berbagai platform daring.
"Kita tidak bisa hanya berhenti di pasar tradisional saja, tapi juga harus merambah ke pasar digital. Di era sekarang, promosi di wilayah digital sangatlah penting," tandasnya.
Baca Juga: Jelang HUT Persit ke-80, Kodim 1620 Lombok Tengah Gelar Donor Darah
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia M Iqbal memberikan apresiasi terhadap upaya Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 162 dalam membina pelaku UMKM.
Ia menegaskan kolaborasi lintas instansi menjadi kunci utama agar produk lokal mampu menembus pasar yang lebih luas.
Menurut Sinta, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mengangkat produk-produk binaan tersebut agar semakin dikenal masyarakat luas.
Dekranasda berkomitmen menjalin sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari Kanwil Kemenkumham terkait legalitas, Bank Indonesia (BI) untuk dukungan finansial, hingga Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).
“Intinya kami siap berkolaborasi karena produk ini tidak bisa jalan sendiri. Legalitas harus diangkat, dan dari sisi bantuan keuangan juga akan kita lihat apa yang bisa dilakukan,” kata Sinta Agathia.
Salah satu poin krusial yang ditekankan Sinta adalah adaptasi terhadap dunia digital. Ia mengakui bahwa saat ini masih banyak produk UMKM NTB yang sulit ditemukan secara daring.
Padahal, promosi digital merupakan keniscayaan di era modern, terutama untuk sektor fashion yang gaungnya sudah sampai ke luar daerah.
“Jangan segan dan jangan takut menggunakan media digital. Jangan khawatir produknya akan dicontoh orang lain. Kalau kita percaya diri dengan kualitas pekerjaan kita, pasti akan ada pasarnya,” tegasnya.
Namun, Sinta mengingatkan kemudahan promosi digital harus dibarengi dengan konsistensi kualitas produk.
Baginya, memulai usaha jauh lebih mudah dibandingkan mempertahankan standar kualitas yang telah ditetapkan.
"Lebih berat itu menjaga kualitas produk yang sudah dimiliki. Itu membutuhkan pembinaan dan pendampingan yang intens dari hulu ke hilir," imbuhnya.
Editor : Kimda Farida