LombokPost – Gelaran Mataram Friday Relax di Teras Udayana, Jumat (24/4), berlangsung sukses dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Suasana yang hidup, penuh interaksi, dan sentuhan emosional sejak pembukaan menjadi penanda ruang publik di Kota Mataram kembali menemukan denyutnya.
Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana, mengapresiasi hadirnya kegiatan yang sukses menghidupkan ruang publik. Ia menegaskan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci utama mengaktivasi ruang terbuka agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kota ini harus tumbuh secara fisik dan juga secara masyarakatnya. Kita ingin setiap sudut kota berkembang, dan masyarakat bisa merasakannya. Tempat seperti Teras Udayana ini menjadi penting agar warga bisa bersilaturahmi, rekreasi bersama keluarga, tanpa harus jauh-jauh keluar kota,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kreativitas di tengah tekanan fiskal yang dihadapi pemerintah daerah. Menurutnya, kehadiran Mataram Friday Relax menjadi bukti keterbatasan anggaran bukan alasan untuk berhenti menghadirkan ruang ekspresi bagi masyarakat.
“Kita mengalami efisiensi dan tekanan fiskal yang luar biasa, tetapi kegiatan kemasyarakatan, ruang ekspresi anak muda, dan hiburan rakyat tidak boleh berhenti. Pak Kadis Pariwisata telah membangun komunikasi yang baik dengan Bank NTB Syariah sehingga gagasan Friday Relax ini bisa lahir,” tambahnya.
Melihat antusiasme masyarakat dan potensi ekonomi yang tumbuh, Mohan berharap kegiatan ini dapat ditingkatkan frekuensinya. “Mudah-mudahan ke depan bisa seminggu sekali. Saya juga minta sosialisasinya diperkuat agar masyarakat tahu agenda rutin ini, siapa yang mengisi acara, sehingga menjadi destinasi yang dinanti-nantikan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra menegaskan keberhasilan Mataram Friday Relax merupakan hasil kerja kolaboratif. Sengaja dirancang untuk menghidupkan kembali ruang publik sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
“Kami ingin menghadirkan ruang publik yang tidak hanya ramai secara fisik, tetapi juga memberi ruang interaksi, kreativitas, dan peluang ekonomi bagi masyarakat. Karena itu kami membuka kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta, agar program seperti ini bisa berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan kolaboratif ini menjadi strategi Dispar menjawab tantangan keterbatasan anggaran. Sekaligus memastikan ruang publik tetap hidup dan produktif.
Baca Juga: Layanan Biometrik Dukcapil Mataram di Lapas Perempuan: Pastikan Hak Sipil Warga Binaan Terpenuhi
“Dengan menggandeng mitra strategis, kita bisa menghadirkan kegiatan yang berkualitas tanpa membebani APBD secara berlebihan. Ini adalah model yang akan terus kita dorong ke depan,” jelasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin