Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Niat Jual "Surga" Palsu, Pengedar Obat Keras Asal Jabar Malah Berakhir di Tangan BBPOM Mataram

Lalu Mohammad Zaenudin • Jumat, 8 Mei 2026 | 15:43 WIB
OPERASI: Petugas BBPOM Mataram menunjukkan barang bukti ratusan tablet obat tertentu tanpa izin yang diamankan dalam operasi di wilayah Cakranegara. (DOK. BBPOM)
OPERASI: Petugas BBPOM Mataram menunjukkan barang bukti ratusan tablet obat tertentu tanpa izin yang diamankan dalam operasi di wilayah Cakranegara. (DOK. BBPOM)

 


DI sebuah sudut wilayah Cakranegara, operasi itu berlangsung cepat. Petugas bergerak senyap. Tak banyak suara.

Beberapa saat kemudian, dua pria digelandang bersama sejumlah barang bukti. Ratusan tablet obat keras tertentu tanpa izin edar.

“Dari hasil penindakan, kami mengamankan 110 tablet Tramadol dan 510 tablet Heximer,” ungkap Kepala BBPOM di Mataram Yogi Abaso, Selasa (5/5).

Obat yang mungkin bagi para penggunanya dianggap bisa hilangkan stres seketika. Atau bikin mabuk hingga lupa sengitnya dunia. 

Semacam cara singkat menuju “syurga”. Alih-alih ke “neraka” karena fisik dan otak akibat over dosis.

Totalnya 620 tablet. Nilai ekonominya diperkirakan mencapai Rp 6 juta.

Dua pria berinisial T dan H yang berasal dari Jawa Barat diduga terlibat dalam peredaran obat jenis Tramadol dan Trihexyphenidil atau Heximer—obat yang kerap disalahgunakan di kalangan tertentu. Di tangan yang salah, pil-pil itu bukan lagi obat.

Ia berubah menjadi pelarian. Menjadi candu. Menjadi ancaman.

“Penyalahgunaan obat tertentu ini bukan perkara sepele karena berdampak pada kesehatan fisik, mental, bahkan bisa menyebabkan kematian,” tegas Yogi.

 

Baca Juga: Hitung Mundur 11 Juli! BKD Mataram Buru Aset yang "Hilang" Sebelum Kontrak Mataram Mall Berakhir

Fenomena itu bukan hal baru. Di kota-kota besar maupun kawasan padat penduduk, peredaran obat keras tanpa resep masih terus ditemukan.

Kadang dijual sembunyi-sembunyi. Kadang berpindah dari tangan ke tangan tanpa pengawasan.

Dan sering kali, sasarannya adalah anak muda. Pil kecil dengan harga murah. Tapi efeknya bisa panjang.

Karena itu, BBPOM menyebut pengungkapan ini bukan sekadar penindakan biasa. Upaya ini langkah memutus rantai penyalahgunaan obat yang makin mengkhawatirkan.

“Kami terus melakukan pengawasan intensif sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat,” ujar Yogi.

Di balik operasi semacam ini, ada pekerjaan panjang yang tidak selalu terlihat. Informasi dari warga. Pemantauan lapangan. Pengawasan distribusi.

Sebab peredaran obat ilegal sering bergerak diam-diam, masuk melalui celah lingkungan yang lengah. BBPOM pun meminta masyarakat ikut terlibat.

Bukan hanya sebagai penonton. Tetapi sebagai mata pertama di lingkungan masing-masing.

“Kalau menemukan indikasi mencurigakan, segera laporkan. Peran masyarakat sangat penting,” katanya.

 

Baca Juga: Gak Main-Main! Proyek Terbesar Mataram Bale Mentaram Kini "Dikawal Ketat" Tim Khusus

Di tengah hiruk-pikuk kota, ancaman kadang memang tidak selalu datang dalam bentuk besar. Kadang ia hanya berupa pil kecil tanpa resep. Masuk ke gang-gang. Berpindah diam-diam.

Dan ketika terlambat disadari, dampaknya bisa jauh lebih besar dari ukurannya. “Pengawasan lingkungan harus diperkuat bersama-sama,” tutup Yogi. (*/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #penggerebekan obat ilegal #peredaran tramadol