LombokPost — Pemerintah Kota Mataram terus menata ulang arah pariwisatanya. Bukan sekadar mengejar kunjungan, tetapi membangun identitas.
Salah satu jalurnya melalui pagelaran rutin Peresean di Pantai Loang Baloq. “Jadi dari awal kami konsisten, atraksi Peresean bukan cuma tontonan sekali-dua kali lalu hilang, tapi ini rutin. Ini akan menjadi identitas,” tegas Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra, Selasa (5/5).
Atraksi tradisional khas Suku Sasak itu kini tidak lagi sporadis. Dinas Pariwisata menetapkannya sebagai agenda tetap, digelar setiap Minggu pada pekan ketiga tiap bulan.
Cahya, menegaskan langkah ini sebagai upaya pelestarian budaya. Berikutnya strategi memperkuat posisi Mataram sebagai destinasi yang punya karakter.
“Wisata budaya yang hidup dan punya jadwal pasti,” ujarnya.
Di arena pasir Loang Baloq, para pepadu saling beradu ketangkasan menggunakan rotan dan tameng kulit. Namun di balik itu, tersimpan nilai yang lebih dalam sportivitas, keberanian, hingga persaudaraan.
Menurut Cahya, justru nilai-nilai inilah yang ingin ditawarkan kepada wisatawan, bukan sekadar pertunjukan fisik. “Peresean itu bukan sekadar duel. Di situ ada nilai budaya yang kuat. Itu yang kita tonjolkan,” katanya.
Penjadwalan rutin menjadi kunci. Selama ini, salah satu kelemahan event daerah adalah tidak adanya kepastian agenda.
“Wisatawan datang tanpa tahu apa yang bisa dinikmati,” ucapnya.
Baca Juga: Ratusan Kader di Sekarbela-Ampenan Disasar, Aktivasi IKD Percepat Persiapan Digitalisasi Bansos
Dengan pola bulanan yang konsisten, pemerintah ingin menciptakan apa yang disebut sebagai event certainty—kepastian atraksi bagi wisatawan.
“Kalau jadwalnya jelas, wisatawan bisa rencanakan kunjungan. Itu yang kita kejar, supaya lama tinggal juga meningkat,” jelasnya.
Lebih jauh, Peresean juga didorong menjadi penggerak ekonomi lokal. Setiap gelaran membuka ruang bagi pelaku UMKM, seniman, hingga komunitas budaya untuk terlibat.
Aktivasi ruang publik melalui event budaya dinilai mampu menghidupkan ekosistem pariwisata secara lebih luas. “Bukan hanya penonton yang datang. Ada UMKM bergerak, ada seniman tampil. Ini efek berantai yang kita bangun,” katanya.
Ia berharap Peresean ke depan terus beratraksi. Berikutnya menjadi ruang edukasi budaya sekaligus kebanggaan daerah.
“Sekali lagi bukan hanya hiburan, tapi identitas,” tutupnya. (zad/r9)
Editor : Redaksi Lombok Post