MATARAM-Puluhan pohon tumbang akibat hujan disertai angin kencang, terjadi Selasa malam (22/1). Akibatnya, empat rumah di Lingkungan Pejeruk Abyan, Kecamatan Ampenan rusak.
Kejadian yang terjadi pukul 23. 30 Wita membuat warga panik dan berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun kerugian material ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
“Warga saat itu langsung keluar rumah,” kata Camat Ampenan Zarkasyi, kemarin.
Empat rumah itu masing-masing milik Ernawati, Irwan, Agus, dan Rifai. Atap rumah mereka berterbangan. Sementara beberapa bata di dinding juga berjatuhan.
Karena itu, Zarkasyi meminta warga untuk waspadai cuaca ekstrem. Bahkan ia sudah meminta kepada kepala lingkungan dan lurah untuk tetap waspada menjaga wilayahnya masing-masing. “Sekarang ini kita harus waspada dengan cuaca ekstrem,” kata Zarkasyi.
Kerusakan rumah warga sudah dilaporkan langsung kepada BPBD Kota Mataram. Ia berharap nantinya ada bantuan dari pemerintah untuk warga yang terkena musibah akibat puting beliung.
“Warga di pesisir juga kita minta lebih waspada. Gelombang bisa saja sewaktu-waktu naik,” sebutnya.
Tak hanya rumah, pohon dan baliho juga bertumbang. Antara lain di Jalan Ailangga samping kampus AMM, Komplek Akasia Karang Jangkong, Cakranegara, Jalan Pendidikan depan Universitas Mataram, Jalan Amir Hamzah Karang Sukun, Jalan Pejanggik Mataram depan Hotel Ratih, Jalan Banjar Arya Getas Ampenan, Jalan Bung Karno, dan Jalan Jayengrana Cakranegara.
Angin kencang disertai hujan deras juga memebuat beberapa bangunan sekolah dan perguruan tinggi mengalami kerusakan. Seperti MAN 1 Mataram, MAN 2 Mataram, MTsN 1 Mataram, Universitas Islam Indonesia, dan SDN 26 Ampenan. Sebagian besar atap sekolah roboh.
Mendapat laporan warga, BPBD Kota Mataram langsung bergerak. Mereka turun di sejumlah ruas jalan untuk membersihkan ranting-ranting pohon yang tumbang.
“Pohon tumbang ini membuat sejumlah jalan di Kota Mataram macet,” kata Kepala Bidang Darurat dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram I Made Gede Yasa, kemarin.
Sebanyak 20 personel BPBD Kota Mataram dibantu petugas Perkim turun membersihkan pohon tumbang. Mereka bekerja ekstra.
Gede Yasa mengimbau agar masyarakat melapor ke BPBD atau Perkim jika ada pohon yang dilihat membahayakan. “Kalau ada pohon yang tua dan lebat, lapor ke kami agar kami pangkas guna menghindari hal yang tidak diinginkan,” sebutnya.
Ia menuturkan, jauh hari sebelumnya, ia sudah meminta agar warga waspada. Hati-hati saat melintas karena sewaktu-waktu pohon bisa saja tumbang yang bisa mencelakai pengguna jalan.
“Kita sudah bersurat ke lurah dan camat. Mengimbau warganya untuk berhati-hati saat bepergian,” sebutnya.
Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kota Mataram HM Kemal Islam mengatakan, banyaknya pohon yang tumbang karena tidak kuat menahan beban akibat angin kencang. Ditambah usia pohon-pohon di Kota Mataram ini cukup tua. “Kalau hujan kan tanahnya lembek,” sebutnya.
Sayangnya, pihak BPBD mengaku tidak bisa melakukan perantingan pohon secara maksimal. Sebab, ia hanya memiliki mobil hidrolik dengan tinggi tangga 12 meter. Sementara ketinggian pohon pelindung jalan di Kota Mataram, rata-rata mencapai 25 meter lebih.
Disamping itu, Perkim juga kekurangan personel dalam menjalankan tugasnya. “Mobil hidrolik sangat urgent,” sebutnya. Ia memperkirakan harga mobil ini Rp 2,7 miliar.
Terpisah, Kepala MAN 1 Mataram H Muhammad Syukri terpaksa memindahkan kegiatan belajar mengajar siswanya ke musala dan laboratorium. Sebab, lima ruang kelas rusak diterjang angin disertai hujan deras Selasa malam itu.
Atap dan plafon madrasah yang terletak di Jalan Pendidikan Mataram ini rusak berat. "Kita pulangkan lebih awal siswa yang kelasnya rusak ini,” sebutnya.
Tak hanya itu, tempat parkir juga rusak. Atas kejadian ini, Syukri memperkirakan kerugian material sebesar Rp 300 juta. Ia juga mengaku kejadian ini membuat aktivitas belajar mengajar terganggu.
Sementara Kepala Sekolah MAN 2 Mataram Lalu Syauki mengatakan, ada enam ruang kelas yang rusak di sekolahnya. Semuanya berada di lantai dua.
“Semua ruang kelas 12 jurusan MIA, IPS, dan Bahasa. Jadi ada 24 pelajar yang kami ungsikan sementara dalam kondisi belajar darurat,” katanya, kemarin (23/1).
Akibat atap yang jatuh menimpa plafon dan langsung menembus lantai kelas, membuat kondisi kelas tergenang air. Sehingga otomatis tidak bisa digunakan. Padahal para pelajar kelas 12 sedang menggelar simulasi ujian nasional.
Agar proses belajar mengajar terus berlangsung, dalam kondisi darurat ini, pihaknya mencari kelas alternatif. Yakni, menggunakan musalla atau memanfaatkan kelas yang kosong.
“Penangan daruratnya kami tutup aja dulu dengan pasang genteng, kebetulan ada sisanya. Biar kondisinya gak makin parah. Karena kalau bocor ditambah hujan, nanti banjir,” ujarnya.
Ia menyebut, kondisi sekolah yang rusak sudah ditinjau langsung oleh Kanwil Kemenag NTB Bidang Pendidikan Madrasah dan Kota Mataram. Estimasi kerugian pun mencapai Rp 300 juta, sebab barang elektronik di kelas juga ikut rusak.
Sebenarnya kata Syauki, sekolahnya baru selesai diperbaiki akibat gempa yang terjadi beberapa waktu lalu oleh Dinas PUPR Kota Mataram. Ia tidak menyangka, rusaknya akan separah ini.
Dirinya juga sudah berkoordinasi dengan pihak Komite Sekolah agar kondisi darurat ini segera dikoordinasikan dengan para orang tua siswa. Karena yang rusak adalah kelas 12 dan akan menghadapi ujian nasional, Syauki berharap pemerintah segera melakukan perbaikan.
Tidak jauh, kondisi yang sama juga dialami MTsN 1 Mataram. Waka Humas MTsN 1 Mataram Rifai menjelaskan, ruangan yang rusak akibat hantaman hujan deras disertai angin terletak dilantai tiga sekolah. Jumlahnya tiga ruang kelas dan satu ruang pembina agama serta Laboratorium Biologi.
“Itu ruang kelas 7, ada kelas 7-4, 7-5 dan 7-6. Semuanya sudah kami pindahkan ke musalla untuk belajar. Totalnya ada 108 siswa,” terangnya.
Estimasi kerugian mencapai Rp 50 juta. Karena barang elektronik di kelas tidak mengalami kerusakan.
Pihaknya saat ini sedang menunggu saran dari Kanwil Kemenag NTB dan Kota Mataram, tentang tindakan apa selanjutnya yang akan dilakukan. Ia hanya berharap, kondisi ini harus segera diperbaiki, karena akan berdampak pada para siswa. “Apalagi sekarang ini musim hujan,” tutup Rifai.
Rusak akibat hantaman hujan deras disertai angin kencang juga menimpa sekolah MAN 1 Mataram. Waka Humas MAN 1 Mataram Zainuri mengatakan, kelas yang rusak sebanyak empat ruang dan aula sekolah. Letaknya dilantai dua.
“Yang rusak itu kelas 10, dua kelas IBB, dan dua kelas MIA, kalau Aula hanya sebagian saja yang rusak,” tutur Zainuri.
Selain itu, angin kencang juga menyebabkan kanopi di lantai satu sepanjang gedung utara mengalami kerusakan, begitu juga dengan beberapa CCTV. Meski telah ditinjau Kanwil Kemenag NTB dan Kota Mataram, dirinya belum bisa memastikan berapa estimasi kerugian.
Penanganan darurat, para pelajar kelas 10 dan 11 diperintahkan untuk belajar di rumah hanya hari itu saja. Sementara untuk pelajar kelas 12, karena ada kegiatan simulasi ujian nasional, maka harus berada di sekolah. (jay/yun/r5)
Editor : Administrator