MATARAM-Pemerintah Kota Mataram terus melakukan pencegahan terhadap kasus gigitan anjing yang diduga hewan penular rabies (HPR). Tercatat, ada 20 orang di Kota Mataram yang melapor digigit anjing, namun semua itu negatif rabies. “Jangan sampailah ada yang rabies,” kata Kepala Dinas Pertanian H Mutawalli, kemarin (26/3).
Pemkot Mataram sempat mendapat kritikan dari para pecinta hewan. Sebab, untuk mencegah rabies, Dinas Pertanian melakukan pembunuhan massal terhadap anjing-anjing liar di Kota Mataram. Dinas memberikan racun di tempat-tempat tertentu yang membuat puluhan anjing liar terbunuh.
Melihat kondisi ini Mutawalli membantah dirinya telah melakukan eliminasi atau pembunuhan massal terhadap anjing-anjing liar. Ia hanya melakukan kontrol populasi atau pengendalian jumlah. Sebab, di Kota Mataram anjing-anjing liar cukup banyak. Keberadaan anjing-anjing liar cukup meresahkan ketentraman masyarakat. “Selain itu kita khawatir ada rabies,” urai mantan Kepala DLH Kota Mataram ini.
Diungkapkan, guna mencegah populasi anjing yang terus bertambah, mau tidak mau pihaknya harus mencegah kehamilan anjing. “Kalau anjing laki-laki bahasa sasaknya kita bantot (cegah kehamilan),” sebutnya. Sementara untuk anjing betina sambung dia, rahimnya diikat.
Proses pencegahan kehamilan anjing, lanjut Mutawalli, prosesnya cukup lama. Pihaknya hanya bisa menangkap dua ekor anjing dalam sehari. Namun kini ujar dia, pihaknya sudah mendapat bantuan vaksin rabies. Sekitar 500 vaksin siap disuntikkan ke anjing guna mencegah rabies. “Tiap hari sekitar 20 sampai 40 anjing kita berikan vaksin,” tuturnya.
Sementara itu, salah seorang pecinta hewan Dewi Fasisal sangat terbantu dengan adanya vaksin rabies. Dimana, ia bisa membawa anjing-anjing miliknya untuk divaksin agar nantinya tidak terkena rabies jika menggigit.
Menurutnya, pembunuhan anjing secara massal bukan cara yang tepat menyelesaikan kasus rabies. Sebab, ini cara yang keras yang akan membuat anjing punah.
“Kalau ada vaksin ini kita akan siapkan anjing sebanyak-banyaknya,” tutupnya.(jay/r5)
Editor : Administrator