MATARAM-Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Mataram terus meningkat. Mereka yang terjangkit DBD tak hanya dirawat di Puskesmas, tapi juga di RSUD Kota Mataram.
“Pasien yang terkena DBD cukup banyak,” kata Tris Cahyoso, seorang dokter di RSUD Kota Mataram, kemarin.
Dari data RSUD Kota Mataram, pada Januari lalu tercatat 102 pasien yang positif DBD dirawat inap. Sedangkan pada Februari baru sembilan pasien yang masuk. Sebagian besar pasien yang terkena DBD dari kalangan anak-anak.
“Peningkatan kasus DBD sepertinya akan terus terjadi sampai Maret mendatang,” ucapnya.
Diungkapkan, banyaknya pasien DBD tidak lepas dari cuaca. Saat ini hujan yang tidak menentu membuat nyamuk DBD gampang berkembangbiak. “Itu sebabnya, warga harus ekstra hati-hati,” terangnya.
Petugas medis di RSUD Kota Mataram sudah diingatkan untuk memberikan pelayanan maksimal bagi semua pasien. Jika ada pasien yang datang dengan deman tinggi selama satu pekan, langsung dimasukkan zona kuning. “Kalau sudah satu minggu panasnya tidak turun-turun, kita harus tangkap kalau itu DBD,” kata Tris.
Begitu juga dengan SDM dan logistik sudah disiapkan. Ia sudah mengontak bagian apotek atau depo stok dari infus tercukupi. “Di kamar juga kita siapkan,” terangnya.
Sejak Januari lalu, pihak RSUD Kota Mataram membuka kamar untuk semua kelas bagi pasien BPJS. Jika kelas tiga penuh, maka pasien akan dinaikkan ke kelas dua. Begitu juga dengan pasien kelas dua penuh maka pasien akan dinaikkan ke kelas satu.
“Pasien tetap bayar kelas awal,” terang dia.
Tris menuturkan, pasien DBD di RSUD Kota Mataram juga rujukan Puskesmas. Paling banyak kata dia, Puskemas Karang Taliwang dan Ampenan.
Dari Puskemas Karang Taliwang ada delapan pasien dirujuk ke RSUD Kota Mataram. Sedangkan Puskesmas Ampenan sebanyak dua pasien.
Biasanya lanjut dia, kriteria warga terkena DBD apabila trambosit di bawah 100 ribu. Demam lebih dari satu pekan. Pasien sudah mulai kekurangan cairan. “Pasien terkena DBD tiap tahun meningkat. Bahkan lima tahun ini terjadi peningkatan cukup signifikan,” urainya.
Diungkapkan, antisipasi DBD yang paling bagus adalah dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). PSN harus digiatkan. Puskemas harus menggandeng lingkungan dan kelurahan untuk membersihkan lingkungan.
Menurutnya, antisipasi DBD harus seperti serangan tentara. Melalui semua penjuru. Jika tidak, nyamuk ini akan berkembangbiak di lingkungan dan tempat tinggal.
“Saya rasa PSN serangan yang paling bagus,” ujar dia. Beda dengan fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Tidak sampai menghancurkan jentik yang akan menghasilkan nyamuk baru.
Apalagi kata dia, jentik ini bisa bertahan enam bulan pada musim panas. “Jika jentik ini kena air, maka akan tumbuh nyamuk baru,” terang dia.
Disamping itu efek fogging juga tidak baik untuk kesehatan. Bahan kimia jika dilakukan terus menerus, apalgi sampai dihirup akan mempengaruhi kesehatan. Belum lagi saat fogging semua barang-barang harus ditutup. “Makanan atau hewan peliharaan tidak boleh kena asap fogging,” terangnya.
Biasanya kata dia, fogging akan dilakukan pagi hari. Agar asap tidak menguap dan tidak terkena matahari. “Kalau pagi hari angin tidak terlalu besar,” terangnya.
Diungkapkan, pasien DBD yang sudah Dengue Shock Syndrome (DSS) atau koma akan langsung masuk ICU (Intensive Care Unit). Paling lama mereka akan melakukan perawatan kurang lebih dua pekan. “Kalau masuknya baru terjangkit sehari, perawatannya hanya satu minggu,” terang dia.
Beda dengan pasien yang koma terkena DBD akan lemas dan sok. Banyak tidur dan tidak mau bangun. Karena kepalanya pusing.
Humas RSUD Kota Mataram Lalu Hardimun mengimbau agar warga peka terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Apalagi kasus DBD tiap tahun terjadi saat musim hujan.
Paling tidak kata dia, warga harus bisa membersihkan lingkungan atau halaman tempat tinggal. “Harusnya ini menjadi pelajaran bagi warga,” kata dia.
Rahmat, seorang warga panik melihat anaknya terjangkit DBD. Sebelum membawa ke RSUD Kota Mataram, terlebih putrinya Akina Zilia dibawa ke dokter anak. Namun demamnya tidak turun yang membuat ia membawa anaknya ke rumah sakit. “Kita sebagai orang tua khawatir,” ujar pria asal Lingkungan Dasan Kolo, Kecamatan Sekarbela ini. (jay/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post