Jumlah kasus yang mencapai 525 tergolong tinggi. Bahkan kasus DBD diperkirakan masih bisa bertambah. Sebab ke-525 kasus itu terjadi pada Januari hingga minggu kedua Februari. ”Sekarang ini salah satu bulan puncak DBD,” katanya.
Paling banyak kasus DBD terjadi di wilayah Lombok Barat dengan kasus 200 lebih. Disusul Kota Mataram dan Lombok Timur. ”Lombok Utara mengejar,” katanya.
Wilayah Lombok Barat yang menjadi langganan kasus DBD adalah Gerung, Kuripan, Kediri dan daerah padat penduduk lainnya. ”Selalu banyak di daerah padat penduduk,” katanya.
Begitu juga di Mataram, kasus DBD banyak ditemukan di daerah padat penduduk, seperti Sekarbela. ”DBD ini erat kaitannya dengan kondisi lingkungan,” katanya.
Wilayah Lombok Utara menjadi perhatian serius pascagempa 2018. Banyak infrastruktur dan rumah warga rusak. ”Genangan di bekas reruntuhan itu yang kami khawatirkan,” katanya.
Sementara korban meninggal berasal dari Kabupaten Bima. Hal itu dipastikan setelah timnya turun mengkonfirmasi ke lapangan. ”Dua kasus lainnya sedang kita telusuri, kami curigai mereka meninggal karena DBD,” katanya.
Keduanya meninggal di RSUD Mataram, namun akan dipastikan daerah asal mereka. Apakah pasien dari Kota Mataram atau daerah lain. ”Karena RSUD Mataram melayani pasien daerah berbagai daerah di NTB,” ujarnya.
Dilihat dari sebaran kasus, selama ini kasus DBD tinggi di Lombok, sementara di Sumbawa dan Bima lebih sedikit. Tapi risiko kematian di wilayah Bima jauh lebih tinggi. ”Tahun lalu, di Lombok satu orang meninggal dunia, sementara di Bima enam orang,” katanya.
Penyebabnya, kebanyakan karena terlambat ditangani. Jumlah kasus DBD tahun 2019 mencapai 2.900 lebih, yang meninggal dunia tujuh orang.
Dokter Eka mengingatkan, dari temuan tim dokter, ada perubahan pola panas pasien DBD. Pola panas klasik yang diketahui biasanya panas selama tiga hari, kemudian hari keempat panas turun dan di sana titik bahanyanya. ”Dalam satu tahun ini polanya tidak mengikuti pola klasik,” katanya.
Selain itu, sepanjang 2019 juga ditemukan bayi terkena DBD. Sebelum-sebelumnya tidak pernah. ”Ini yang menjadi catatan untuk menjadi perhatian semua orang,” katanya.
Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) NTB I Gede Putu Aryadi menambahkan, untuk mencegah DBD masyarakat harus rutin melakukan gerakan 3M yakni menguras, menutup dan mengubur genangan air.
Gerakan 3M, kata Gede masih menjadi jurus paling ampuh untuk memberantas nyamuk demam berdarah. ”Harus terus dilakukan karena kita hidup di daerah tropis dan perhatian masyarakat soal kebersihan masih kurang,” imbuhnya. (ili/r5)
Editor : Administrator