Para investor berebut mendapat restu mengelola wisata kawasan Gunung Rinjani. Mulai dari investor kereta gantung, glamorous camping (Glamping) hingga heli tourism.
----------------
Satu per satu calon investor datang “meminang” Gunung Rinjani. Mereka menawarkan segala kemewahan untuk menikmati keeksotisan alam Rinjani. Fasilitas mewah nan mahal itu untuk menarik wisatawan kelas menengah ke atas. Terutama bagi yang tidak mau repot-repot mendaki.
Tiga investor itu adalah PT Indonesia Lombok Resort yang berencana membangun kereta gantung, PT Rinjani Glamping Indonesia ingin membuat fasilitas glamping, dan PT Airbus Helicopters Indonesia menawarkan konsep heli torism untuk menikmati alam Rinjani.
Kehadiran mereka seperti mendobrak kesakralan wisata pendakian Gunung Rinjani selama ini. Pro kontra pun terjadi di tengah masyarakat. Banyak yang menolak, tapi tidak sedikit pula yang mendukung.
Pemandu wisata pendakian, guide, porter dan aktivis lingkungan terdepan menolak rencana itu. Pemerintah dan kalangan ahli meminta dilakukan kajian mendalam. Sementara pelaku industri pariwisata mendukung. Sembari meminta masyarakat menerima perubahan.
https://www.youtube.com/watch?v=QoglYJ6_270
Direktur World Wide Fund for Nature (WWF) NTB Ridha Hakim mengingatkan, kontroversi rencana pemanfaatan kawasan konservasi pasti akan terjadi. Apalagi calon investor belum memiliki izin. ”Ini kembali membuka luka lama,” katanya.
Ridha mengingatkan, Rinjani bukan sekadar bentang alam. Tapi dia memiliki ikatan tradisi dan budaya dengan masyarakat setempat. Sederet penolakan atas pengelolaan Rinjani menjadi bukti.
Dulu, kata Ridha, warga menolak pelaku usaha mendaratkan pesawat di Danau Segara Anak. Kemudian warga membongkar tulisan Danau Segara Anak karena dinilai merusak keasliannya. Terakhir menolak rencana kereta gantung. ”Kita ini selalu merujuk ke negara sudah maju, yang mungkin hubungan antara hutan dengan masyarakatnya tidak seerat di Rinjani,” katanya.
Dengan fakta-fakta tersebut, pengelola Rinjani harus lebih berhati-hati. ”Rinjani ini bukan hanya milik daerah, tetapi juga nasional, bahkan global,” katanya.
Penerimaan masyarakat lokal terhadap kegiatan wisata menjadi kunci keberhasilan pengelolaan wisata alam. ”Walau secara aturan dibolehkan, tetapi penolakan warga harus menjadi acuan utama,” katanya.
Jika suatu lokasi punya nilai pariwisata tinggi, namun ditentang masyarakat, sebaiknya ditiadakan. ”Gunung Rinjani sangat cocok dijadikan wahana wisata alam bagi anda yang menyukai tantangan,” katanya.
Ridha menekankan, pemerintah harus hati-hati memberikan izin glamping, terlebih zona pemanfaatan yang akan dikelola berdekatan dengan zona inti yakni Danau Segara Anak. ”Hati-hati juga memberikan izin helikopter,” imbuhnya.
Pendaratan helikopter perlu memperhatikan struktur tanah di sekitar danau, serta Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomer 40 Tahun 2015. ”Pendaratan saat evakuasi 2018 dilakukan dengan pertimbangan emergency,” katanya.
Kegiatan wisata alam kawasan TNGR dapat berkelanjutan apabila wisatawan dan penyedia jasa wisata memperhatikan kegiatan yang mendukung dimensi pariwisata berkelanjutan.”Yaitu ekonomi, ekologi, sosial, dan budaya,” tandasnya.
Awanadi Aswinabawa, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTB memiliki pandangan lain. ”Kita harus siap menerima perubahan, apapun itu,” katanya.
Rencana para investor ingin menyediakan fasilitas harus dilihat secara keseluruhan, tidak bisa dari satu sisi saja. ”Faktor lingkungan, komunitas setempat, kenyamanan wisatawan, dan kepentingan pelaku industri pariwisata,” katanya.
Jika empat hal itu sudah terpenuhi, baginya investasi apa pun tidak masalah. ”Itu syarat utama pariwisata berkelanjutan,” katanya.
Rencana pembangunan glamping menurutnya sesuatu yang bagus.”Itukan kegiatan camping dengan tenda yang lebih bagus,” katanya.
Mereka yang berusaha di bidang glamping pasti akan menjual keindahan alam. Sehingga tidak mungkin merusak alam. ”Kalau dia merusak alam dia akan diusir,” katanya.
Pengusaha pasti akan memoles alam agar punya nilai lebih dan menarik wisatawan. ”Glamping menurut saya salah satu alternatif yang positif,” ujarnya.
Demikian juga dengan kereta gantung, sudah banyak dikembangkan di belahan dunia. Seperti China yang membangun banyak kereta gantung bagi wisatawan. ”Tentu saja tidak ditempatkan di semua area,” katanya.
Kereta gantung juga tidak boleh melintas di area pendakian konvensional. Sehingga tidak mengganggu aktivitas pendakian. ”Sama juga dengan heli tourism, tidak masalah,” ujarnya.
Dia yakin helikopter tidak akan merusak alam, selain minim bersentuhan dengan bentang alam, juga tidak banyak orang yang mampu. ”Paling dua atau tiga orang yang mampu,” katanya.
Awan menilai, semua perubahan itu harus disikapi dengan bijak. ”Kita harus siap-siap dengan perubahan, kalau tidak berubah hari ini, besok dia akan berubah juga,” tandasnya. (ili/r5)
Editor : Redaksi Lombok Post