Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Semua Belum Final, Bakal Calon Pilwali Kota Mataram Berpotensi Kocok Ulang

Redaksi Lombok Post • Sabtu, 7 Maret 2020 | 12:12 WIB
SIAP BERTARUNG: Seorang pesepeda sedang melintas di depan baliho bergambar Baihaqi di Kota Mataram, belum lama ini.
SIAP BERTARUNG: Seorang pesepeda sedang melintas di depan baliho bergambar Baihaqi di Kota Mataram, belum lama ini.

MATARAM-Pemilihan wali dan wakil wali kota Mataram 2020 makin seru. Para bakal calon (balon) tidak hanya maju melalui jalur partai politik (parpol). Namun juga dari jalur perseorangan.


Pecah kongsi tentu terjadi. Tak hanya datang dari pendukung H Ahyar Abduh atau pun H Mohan Roliskana. Namun juga dari H Baihaqi yang secara mengejutkan akan maju pada melalui koalisi partai poros biru.


Sejatinya, H Baihaqi telah melakukan penjaringan di DPD II Golkar mencalonkan diri sebagai wakil wali kota. Tetapi nampaknya peluang H Baihaqi berpasangan dengan H Mohan Roliskana kecil. Sehingga ia banting setir untuk maju dengan tiga partai koalisi poros biru menggandeng Hj Baiq Diyah Ganefi sebagai pendamping.


“Sekarang tergantung  pendekatan personal masing-masing balon,” kata pengamat politik H Muhammad Ali, kemarin.


Menurutnya, dukungan balon yang akan maju pada pilwali tergantung dari personal masing-masing. H Mohan Roliskana misalnya. Pria yang juga menjabat wakil wali kota Mataram kini menjadi pusat perhatian. Meski saat ini ia tidak memiliki king maker, tapi nama bapaknya almarhum H Moh Ruslan, mantan wali kotamasih segar dalam ingatan masyarakat. Bagaimana Ruslan menggandeng warga dan menjadi sosok yang tegas ada pada sosok Mohan. “Mohan  bisa menjadi king maker bagi dirinya sendiri,” kata Ali.


Mohan tidak hanya dikenal sebagai politisi. Namun juga seorang birokrasi. Sebelum menjabat sebagai wakil wali kota, Mohan seorang birokasi. Jadi pengalamannya di birokrasi dan politisi cukup berimbang. Apalagi sekarang ia menjabat ketua DPD II Golkar Kota Mataram. Secara tidak langsung nama Mohan sesohor karena figur sang ayah. Apalagi ia masih muda dan cukup fresh. Kepemimpinannya sebagai wali kota dibilang cukup baik. “Kekuatan petahana cukup tinggi,” ujarnya.


Sementara HL Makmur Said-H Badruttamam Ahda (Muda) disebut sebagai pasangan ideal. Orang tua didampingi anak muda. Paket Muda dibelakangnya tentu H Ahyar Abduh sebagai king maker. Mencalonkan anaknya mendampingi Makmur pada pilwali tentu ia akan berjuang segala cara memenangkan paket Muda.


Sebagai orang nomor satu di Kota Mataram, Ahyar akan mengeluarkan kekuatannya. Menggerakkan semua mesin partai mulai dari arus bawah. Seperti di tingkat kelurahan dan kecamatan. Jika ditelaah kata dia, pasangan Muda saling melengkapi.


Pengalaman Makmur di birokrasi tidak diragukan. Siapa yang tidak tahu mantan sekda Kota Mataram ini. Namun di sisi lain pengalaman politik Makmur kurang. Bisa dibilang tahun ini ia baru masuk politik. Sedangkan Ahda sosok milenial yang tidak memiliki kemampuan dalam bidang politik dan birokrasi.


Meski begitu kata dia, tidak bisa dipandang sebelah mata. Ahda ini memiliki magnet karena pamor bapaknya. Siapa yang tidak kenal H Ahyar Abduh, wali kota Mataram. Tentu pamor H Ahyar Abduh ini akan merembes ke Ahda. Sebagai pendatang baru popularitas Ahda saat ini juga cukup tinggi. “Ahda tak bisa dipandang remeh,” terang Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universiitas Muhammadiyah Mataram (UMMat).


Begitu juga dengan paket Hj Putu Selly Andayani-TGH Abdul Manan (Salaman). Paket yang diusung PDIP dan PKS memiliki king maker seorang politisi senior H Rachmad Hidayat, anggota DPR RI. Selain itu ada juga H Zulkieflimansyah, gubernur NTB.


Pasangan ini memiliki basis massa militan. Sehingga kantong-kantong suara pada pasangan sudah jelas. Selly sapaan karibnya cukup sehohor dikalangan birokrasi. Bahkan perempuan yang kini menjabat sebagai kepala Dinas Perdagangan NTB kaya akan pengalaman di birokrasi. Hanya saja ia tidak memiliki pengalaman di politik. Meski begitu king maker ini akan menambal kekurangan pada pasangan ini.  “Saya rasa Selly punya kans,” ujarnya.


Namun semuanya bisa dibilang  belum final. Bahkan bisa saja berpotensi akan dikocok ulang. Terutama paket H Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman (Harum). Pada Musyawarah Daerah (Musa) DPD I Golkar bisa saja Mohan tidak berpasangan dengan Mujib. Begitu juga dengan Selly bisa saja tidak berpasangan dengan Manan. “Semua masih bisa terjadi,” tutur pria asal Pagutan ini.


Selain itu, paket H Baihaqi-Hj Ratu Diyah Ganefi akan menjadi ancaman. H Baihaqi yang juga merupakan kader Golkar digadang-gadang akan pemecah suara dari kubu Golkar. Bahkan pasangan ini bisa menjadi pemenang dalam kontestasi Pilkada Kota Mataram karena pasangannya cukup tersohor. “Semua memiliki peluang,” terangnya.


Tak hanya itu, jalur perseorangan H Dianul Zayedi-H Badrun Ardianto juga tidak bisa dipandang remeh. Badrun salah seorang akademisi. Bahkan di kalangan akademisi Badrun cukup dikenal. Jadi, tidak menutup kemungkinan akan memainkan perannya untuk mencari dukungan.


Terpisah, bakal calon wali kota melalui jalur perseorang H Badrun Ardianto terkesan menutup diri. Majunya mendampingi Dianul pada pilwali karena ingin ada perubahan. Sebagai warga Kota Mataram ia ingin Kota Mataram lebih baik. “Kita maju untuk Mataram lebih baik,” ucapnya.(jay/r5)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Badruttamam Ahda #H Ahyar Abduh #Pilwali Mataram 2020 #Mohan Mujib #Metropolis