MATARAM-Pemeriksaan kesehatan di tujuh pintu masuk Kota Mataram berjalan semrawut. Terjadi antrean kendaraan hingga menciptakan kerumunan masyarakat.
"Pelaksanaan hari pertama akan dievaluasi,” kata juru bicara gugus tugas penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin.
Suwandiasa menyebut, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) sebagai leading sector akan melakukan langkah antisipasi. Terutama yang menjadi kelemahan selama pelaksanaan pemeriksaan di hari pertama.
”Poin pentingnya adalah pemkot melakukan segala upaya optimal untuk mencegah Covid-19 masuk ke wilayah kota,” klaim Suwandiasa.
Dishub Kota Mataram rupanya menyadari kelemahan ini. Kemacetan yang terjadi di luar perkiraan mereka. Tak seperti saat paparan di Pendopo Wali Kota Mataram. Kata Kadishub Kota Mataram M Saleh, terjadi kekurangan personel di lapangan. Ditambah alat pengukur suhu yang terbatas.
”Yang turun ke lapangan kurang,” kata Saleh.
Setelah berjalan satu hari, Dishub hendak mengubah strategi. Tak lagi menjaga tujuh pintu masuk ke Kota Mataram, seperti saat presentasi di pendopo beberapa waktu lalu. Saleh ingin mengubah jumlah pos kesehatan. Dari tujuh menjadi empat.
Pos kesehatan difokuskan untuk pintu selatan dan timur. Dari selatan, ada jalur bypass, Dasan Cermen, serta Turida. Sementara di timur, penjagaan dilakukan di gerimak.
Untuk pos di pintu selatan, untuk mengantisipasi kedatangan dari luar Lombok. Seperti Bali dan Pulau Jawa. Sementara pintu masuk bagian timur, mengantisipasi warga dari zona merah Lombok Timur dan Lombok Tengah.
”Jadi lebih efektif. Proporsional sesuai ketersediaan sumber daya. Cuma ini sangat tergantung lagi dari arahan Pak Wali,” ujar Saleh.
Sekdis Kesehatan Kota Mataram drg. Dianita Rahmi mengatakan, apakah ada pengurangan atau tidak, bergantung pada pimpinan. Yang pasti, jajarannya sudah memesan alat pengukur suhu untuk bisa digunakan petugas di lapangan.
”Cuma memang belum datang. Sudah lama kami pesan, melalui penyedia barang,” kata Dianita.
Untuk satu pos, Dinas Kesehatan menerapkan dua shift untuk petugasnya. Shift pertama dari pukul 08.00 Wita hingga pukul 15.00 Wita. Kemudian berlanjut dari pukul 15.00 Wita sampai pukul 22.00 Wita.
”Petugasnya dari puskesmas, satu atau dua orang. Bisa lebih kita alokasikan, tapi alatnya tidak ada,” ujar dia.
Dalam pemeriksaan kemarin, terjadi antrean panjang. Kendaraan roda dua yang paling prihatin. Mereka menumpuk di satu lokasi. Berdempetan. Imbauan Pemkot Mataram untuk physical distancing justru dilanggar pemkot sendiri.
Kondisi tersebut membuka peluang lebih besar menularnya virus. Apalagi tak semua masyarat yang berkerumun memakai masker.
Soal kemacetan dan padatnya kendaraan, menunjukkan ketidaksiapan pemkot. Kadishub M Saleh bahkan menyebut, ketika terjadi kepadatan dan berpotensi kemacetan, petugas bisa melepas beberapa kendaraan. Tanpa melalui pemeriksaan kesehatan.
Sekdis Kesehatan Dianita juga berujar. Bahwa penumpukan kendaraan menjadi masalah baru. Ada physical distancing.
Bagi Zulfadli, warga Gunungsari, Lombok Barat yang sehari-hari beraktivitas di Kota Mataram, penjagaan di pintu masuk patut diapresiasi. Tapi ia meminta persiapan dilakukan lebih maksimal. Bukan asal jalan, sehingga menimbulkan kesemrawutan.
”Lumayan tadi berjemur 20 menit karena macet mau diperiksa. Kalau begini, kita dibuat dari sehat jadi sakit. Yang sakit malah bisa tambah parah sakitnya,” kata Zulfadli. (dit)
Editor : Redaksi Lombok Post