MATARAM-Semua yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP) akan di rapid test. "Kalau dengan isolasi mandiri mana kita tahu ada gejala atau tidak. Jika mereka positif tentu akan menularkan ke orang terdekatnya,” kata Direktur RSUD Kota Mataram dr Lalu Herman Mahaputra, kemarin.
Diungkapkan, sejauh ini ODP melakukan isolasi mandiri di rumah. Namun tidak jarang mereka keluar rumah. Jika ini dibiarkan terus menerus, maka sangat membahayakan. “ODP harus dilakukan rapid test,” tegas pria yang akrab disapa Dokter Jack itu.
Dikatakan, jumlah ODP di Kota Mataram cukup banyak. Yakni 346 orang dengan rincian 284 orang selesai dalam pemantauan dan 62 orang masih dalam pemantauan. Meski begitu, Dokter Jack tidak menjamin ODP yang selesai dalam pemantauan benar-benar tidak ada gejala.
Jadi, jika ingin maksimal, maka ODP ini harus dilakukan rapid test. “Kalau hasilnya reaktif (positif) kita naikkan menjadi PDP,” cetusnya.
Dokter Jack ingin warga berstatus ODP didata dengan benar. Karena dari merekalah, potensi penularan virus Korona. Beda dengan PDP yang sudah jelas-jelas di karantina di Wisma Nusantara. Mereka tidak bisa keluar.
"Jadi sekali lagi, jika ingin meminimalisir penyebaran Covid-19 maka ODP harus dilakukan rapid test," tegasnya.
Dia membeberkan, jika yang sakit-sakit ini di karantina, maka ia yakin di luar akan aman. Namun sebaliknya, jika ODP masih saja berkeliaran, maka ia meyakini pasien positif Korona akan terus bertambah. “Kita tidak tahu ODP yang berkeliaran positif atau tidak,” ucapnya.
Diungkapkan, jika reagen (alat pemeriksa Korona) sudah ada di Rumah Sakit Universitas Mataram (Unram) maka pasien PDP tidak perlu menunggu lama hasil Swab. Bisa saja dalam sehari 20 PDP di Swab langsung.
Terpisah, Camat Cakranegara M Erwan mengatakan, data ODP sudah ada di kecamatan. Rinciannya, ada di tiap-tiap kelurahan. “Jika ada ODP maka diminta isolasi mandiri sesuai imbauan pemerintah,” ucapnya.
Tak hanya itu, pihak kecamatan bekerja sama dengan pihak kepolisian melakukan patroli di wilayah Cakranegara. Jika ditemukan ada kerumunan atau keramaian maka pihaknya akan membubarkan. “Setiap Sabtu malam kita patroli,” tukasnya.
Satpol PP Bubarkan Kerumunan
Sementara itu, Satpol PP Kota Mataram juga terus melakukan patroli. Mereka meminta masyarakat menjauhi tempat-tempat keramaian. Sabtu (11/4) lalu misalnya. Petugas melakukan patroli di Jalan Bung Hatta atau tepatnya di depan eks supermarket Giant Gegutu.
Di tempat ini, PKL dan warga banyak yang masih pagah atau tidak menghiraukan imbauan pemerintah. “Kita terima laporan dari masyarakat tempat ini banyak dimanfaatkan warga untuk berkumpul,” kata Kasi Operasional dan Ketertiban Umum Satpol PP Kota Mataram I Made Agus Jewe.
Kegiatan patroli ini mangcu pada surat edaran wali kota dan gubernur. Terkait pembatasan tempat keramaian.
Sesuai surat edaran tersebut, pihaknya mengimbau masyarakat yang berkumpul untuk pulang. “Ini kami lakukan agar penyebaran Korona dapat ditekan,” ucapnya.
Jika sudah diimbau namun tetap pagah, kata dia, pihaknya tidak segan-segan dibawa ke markas Satpol PP untuk diproses lebih lanjut. “Kami ingin imbauan pemerintah dijalankan. Tidak boleh keluar rumah jika tidak ada yang penting,” tuturnya.
Pihaknya juga tetap melakukan koordinasi dengan pihak kecamatan untuk melakukan patroli. Sebagai penguasa wilayah, kata dia, tentu pihak kecamatan yang paling tahu tempat-tempat keramaian.
Terpisah, Camat Sandubaya Saharudin sudah meminta pemilik kafe untuk tutup. Dalam situasi ini, ia tidak ingin ada warga atau pengusaha menciptakan keramaian.
Tak hanya itu, dalam meminimalisir penyebaran Covid-19, ia juga sudah meminta para lurah untuk melaporkan jika ada warga yang datang dari luar daerah. “Kita akan minta tenaga medis untuk periksa,” tukasnya. (jay/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post