MATARAM-Pemkot Mataram terus menelusuri jamaah tablig (JT) yang mengikuti kegiatan Ijtima Ulama di Gowa, Sulawesi Selatan. ”Sampai sekarang ada 98 orang yang sudah kita dapatkan datanya,” kata Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang, kemarin.
Terdapat kenaikan jumlah JT. Sebelumnya, Pemkot Mataram hanya mendapati 60 orang. Setelah dilakukan tracing lebih mendalam, terjadi penambahan JT yang baru pulang dari Gowa.
Martawang mengatakan, gugus tugas sekarang fokus untuk memastikan jumlah JT. Setelah itu dilakukan rapid test. Bahkan langsung dengan pengambilan Swab. Khusus untuk klaster Gowa, pemkot menargetkan tuntas selama sepekan.
Meski begitu, bukan berarti klaster lain yang berkaitan dengan potensi penyebaran virus Korona terabaikan. Seluruhnya tetap berjalan beriringan. ”Prioritas pertama memang klaster Gowa, untuk mengurangi mobilitas mereka yang begitu tinggi,” ujarnya.
Masuknya klaster Gowa sebagai prioritas merupakan hasil rapat gugus. Pemkot tak membantah mengalami kendala. Terutama untuk memastikan jumlah pasti JT yang berangkat ke Gowa.
”Tipikalnya berbeda. Tapi alhamdulillah, hari ini sudah kita mulai. Ada 25 orang yang berhasil kita kumpulkan dan itu semua kita swab,” kata Direktur RSUD Kota Mataram dr HL Herman Mahaputra.
Kata Jack, sapaan karibnya, pemkot ingin tetap hadir dalam situasi pandemi sekarang. Memastikan seluruh masyarakatnya sehat. Termasuk yang berasal dari klaster Gowa, tidak terjangkit virus Korona.
RSUD Kota Mataram memilih langsung mengambil Swab. Bukan dengan cara rapid test. Sehingga gugus tugas bisa cepat merespons, apabila hasil Swab telah keluar. Apakah dinyatakan positif atau negatif.
Berbeda dengan Swab, rapid test membutuhkan waktu lebih panjang. Pun tidak bisa memastikan apakah positif atau negatif Korona. ”Swab cuma butuh hasil paling lama dua hari. Kalau rapid, kita harus tes dua kali dalam rentang waktu sampai 10 hari,” jelas Jack.
”Jadi kalau positif, kita juga cepat bertindak,” tambahnya.
Pemkot memberi treatment khusus untuk menghadapi klaster Gowa. Jack menyebut harus dilakukan pendekatan yang berbeda. Tidak bisa hanya gugus tugas saja yang turun. Harus melibatkan beberapa pihak, yang memiliki akses.
Pemkot juga tak mau melakukan pendekatan frontal. Sebaliknya, lanjut Jack, mereka ingin ada tumbuh kesadaran dari JT. Untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Tanpa ada paksaan.
RSUD Kota Mataram pada prinsipnya siap melayani. ”Kami ingin merangkul semua klaster ini. Untuk sadar, kalau pemeriksaan yang dilakukan bukan untuk diri sendiri, tapi keluarga dan masyarakat,” kata Jack.
Untuk pengambilan Swab dari klaster Gowa, sudah dilakukan terhadap 25 orang. Gugus tugas sebenarnya sudah meminta 40 orang untuk datang. Mengenai sisanya, tetap diupayakan RSUD Kota Mataram bersama Dinas Kesehatan.
”Kita tetap minta mereka untuk kooperatif. Untuk yang sudah dilakukan Swab, diharapkan juga bisa tetap diam di rumah. Tidak ke mana-mana,” tandas Jack.
Saat ini, tambah dia, ada 29 pasien yang dirawat di RSUD Kota Mataram. Sembilan berstatus PDP, dan sisanya positif. Sementara tiga pasien sudah mulai membaik. “Darmawan, Lalu Junaedi, dan M Rafasya kondisinya sudah membaik. Hasil Swab-nya sudah negatif,” tukasnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Pejeruk Farida membenarkan jika pihaknya sudah melakukan rapid test terhadap jamaah eks Gowa. Hasilnya, untuk jamaah yang hasilnya reaktif dibawa ke RSUD Kota Mataram untuk di-Swab. “Kalau non-reaktif kita minta isolasi mandiri di rumahnya,” ungkapnya.
Ia enggan membeberkan jumlah jamaah eks Gowa yang hasil rapid test-nya reaktif. Namun yang jelas, kata dia, semua jamaah eks Gowa yang sebagian besar di wilayah kerjanya sudah melakukan rapid test. “Kalau ndak bisa hari ini, besok akan kita periksa,” katanya. (dit/jay/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post