Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dilema Menahun Nelayan Ampenan

Administrator • Jumat, 5 November 2021 | 23:52 WIB
Ilustrasi Nelayan di Ampenan (dok. Lombok Post)
Ilustrasi Nelayan di Ampenan (dok. Lombok Post)
MATARAM-Cuaca buruk akibat peralihan musim dirasakan dampaknya oleh nelayan Ampenan. Gelombang pasang yang tinggi membuat mereka kebingungan di mana harus menambatkan perahunya.

Hantaman air pasang yang deras kerap memporak-porandakan barisan perahu yang terparkir di pesisir.

“Kalau kata nelayan cuaca buruk ini bisanya terjadi selama tiga bulan,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Mataram Irwan Harimansyah.

Menambatkan perahu di pesisir saat ini semakin sulit. Mengingat abrasi di sepanjang 7 kilometer garis pantai Kota Mataram semakin parah.

Misalnya di Pondok Prasi, para nelayan sampai menaikkan perahu ke atas jalan-jalan beraspal. Namun itupun belum mengamankan perahu mereka dari ancaman hantaman air pasang. Misalnya saat terjadi banjir rob.

Belum lagi perahu-perahu yang diparkir di jalan itu, menyulitkan akses keluar masuk mereka sendiri. “Biasanya ada juga yang sampai menambatkan perahu di Senggigi,” terangnya.

Menambatkan perahu di Senggigi, bukan tanpa tentangan. Pemerintah Desa Senggigi dan kecamatan Batu Layar berulang kali menegur nelayan Ampenan menambatkan perahu di sana.

Mereka bukannya pelit. Tetapi sektor pariwisata yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat Senggigi terganggu karena perahu-perahu itu.

Konon banyak wisatawan yang pindah reservasi hotel karena menganggap view pantai tak menarik. Terhalang oleh deretan sampan. Pemilik hotel pun kalang kabut! “Masih sedang kita carikan solusinya,” ungkapnya.

Masalah penambatan perahu ini persoalan lawas. Tak pernah selesai dengan mediasi-mediasi sekalipun melibatkan pihak provinsi.

Tapi Irwan yang baru dilantik sekitar satu bulan lalu, terlihat punya komitmen menyelesaikan persoalan ini. “Berikan kesempatan pada kami untuk menyelesaikan persoalan ini,” katanya.

Nelayan Ampenan menambatkan perahu di Senggigi, sebenarnya bukan hanya sekadar menghindari hantaman gelombang pasang. Tapi, selama cuaca buruk, akses paling aman ke tengah laut lewat pantai Senggigi. Di banding lewat pantai Ampenan yang gelombangnya tinggi-tinggi.

Para nelayan akhirnya menambatkan perahu di pantai Senggigi untuk menghemat biaya bensin. Lebih-lebih nelayan Senggigi juga sekali waktu menambatkan perahu mereka di Ampenan. Jadi dari sisi kepentingan dan kebutuhan melaut antara nelayan Ampenan dan Senggigi komunikasi terjalin dengan baik.

Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengatakan pantai Ampenan memiliki gelombang yang relatif tinggi dan kencang. “Berhadapan langsung dengan laut lepas,” katanya.

Hal itu juga yang membuat abrasi pantai di sepanjang 9 km garis pantai Kota Mataram relatif cepat. “Kita sedang mengusulkan ke pemerintah pusat untuk pembuatan Jeti atau pemecah gelombang,” katanya.

Hanya dengan Jeti, abrasi pantai bisa hentikan. “Tetapi biayanya memang mahal, sehingga kita berharap bantuan pusat, kalau pakai APBD tidak cukup,” katanya. (zad/r3)

 

 

 

 

 

 

  Editor : Administrator
#Cuaca Buruk #Mataram #Nelayan Ampenan