ALI ROJAI, Mataram
ABON bajo mungkin sudah tidak asing lagi bagi pecinta kuliner. Makanan yang terbuat dari serat daging ikan asin. Tampilannya berwarna cokelat terang. Tampak seperti serat-serat kapas karena proses pembuatan disuwir dan membutuhkan waktu cukup lama.
Sumiati, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kota Mataram cukup jeli melihat peluang pasar. Berbagai produk kuliner seperti keripik, jelly, dan berbagai kuliner lainnya dengan brand Bebuak sudah dipasarkan. Terbaru ia memproduksi abon bajo dengan kemasan yang cukup menarik.
“Abon bajo dengan isi 100 gram kita jual Rp 25 ribu, harga dipasaran sih Rp 30 ribu, tapi sekarang kita lagi promo,” kata Sumiati ditemui pada acara Jambore Kader PKK tingkat NTB di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan, Selasa (30/5) lalu.
Kuliner satu ini sangat cocok jadi oleh-oleh. Kemasannya yang cukup menarik menggunakan standing food membuat peserta dan pengunjung jambore waktu itu banyak yang kepincut. Tidak jarang mereka berhenti dan membeli abon bajo produk Bebuak ini. “Lebih ramai di Lapangan Sangkareang kemarin,” tutur ibu satu anak ini.
Sumiati salah satu pelaku UMKM di ibu kota ini yang kerap menjajakan berbagai produk kuliner jika ada event diadakan pemerintah maupun pihak swasta. Dia menyebutkan, proses pembuatan abon bajo membutuhkan waktu yang cukup lama. Berjam-jam. “Proses pembuatannya bisa sampai tujuh jam,” terang perempuan berjilbab ini.
Sebelum digoreng, terlebih dahulu bajo yang dibeli di Pasar Mandalika direndam di air panas. Lalu diangkat dan ditumbuk serta disuwir. Setelah itu, baru kemudian diaduk bersama bumbu yang sudah disiapkan untuk digoreng. “Aduknya ini harus lama agar bumbunya meresap hingga ke serat daging ikan,” ujarnya.
Setelah digoreng lanjut dia, baru dikeringkan menggunakan alat pengering scanner. “Kita keringkan agar masa kadaluarsanya lebih lama,” ucap perempuan 37 tahun ini.
Abon bajo brand Babuak tidak seperti yang banyak dipasaran. Proses pembuatan abon bajo menggunakan rempah-sempah. Mulai dari cabai, bawang merah, bawang puth, merica, ketumbar, lengkuas, kunyit, dan berbagai rempah lainnya. Sehingg rasanya akan lebih gurih dan nikmat. “Kita juga pakai bajo pilihan,” terang perempuan 37 tahun ini.
Ia biasanya sekali produksi abon bajo sepuluh kilogram. Satu kilogram ikan asin akan menghasilkan sepuluh pieces abon bajo dengan isi 100 gram. “Abon bajo yang kita produksi identik rasanya pedas,” pungkas perempuan Dasan Sari, Kota Mataram. (*/r3)
Editor : Administrator