Kondisi itu dilirik sejumlah investor. Kini ada tiga hotel yang sudah masuk proses perizinannya ke Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Mataram.
Tiga lokasi yang sudah masuk yakni, pembangunan hotel di Jalan Baru Monjok, di Lombok Epicentrum Mall, dan satu hotel di Jalan Bung Karno.
”Tetapi, yang belum pasti hotel yang di Jalan Bung Karno,” kata Kepala DPMPTSP Kota Mataram Amiruddin, kemarin (2/10).
Permasalahannya belum diketahui pasti. Sampai sekarang, pihaknya belum bertemu dengan investor tersebut. ”Investornya dari Malaysia. Belum ketemu sama sekali dengan investornya,” jelasnya.
Awalnya, nilai investasi pembangunan hotel tersebut cukup tinggi. Mencapai triliunan. ”Awalnya, nilai investasinya Rp 1,7 triliun. Tetapi, sekarang turun menjadi Rp 1,3 triliun,” ujarnya.
Nilai Rp 1,7 triliun tersebut untuk pembangunan hotel dengan 22 lantai. Namun, Pemkot Mataram tidak bisa memberikan izin untuk membangun 22 lantai. “Sehingga turun menjadi 12 lantai dengan nilai investasi Rp 1,3 triliun. Kalau 22 lantai tidak boleh dibangun. Terlalu tinggi,” kata dia.
Mereka memasukkan izin untuk 22 lantai tersebut dilakukan pada tahun 2016 lalu. Saat itu, belum ada pembaharuan aturan mengenai RTRW Kota Mataram. ”Makanya saya masih kejar investornya. Jangan sampai lari nanti,” harapnya.
Pembangunan hotel menjadi penyumbang terbesar dalam investasi di Kota Mataram. Dari dua hotel lain, hotel di komplek Lombok Epicentrum Mall dan hotel di Jalan Baru Tohpati, nilai investasinya mencapai ratusan miliar. ”Kalau yang di Lombok Epicentrum Mall sudah selesai. Nilai investasinya Rp 400 miliar,” kata dia.
Begitu juga hotel yang akan dibangun di Jalan Baru Monjok sudah selesai prosesnya. Hotel tersebut dibangun PT Dwi Mitra Nusantara. ”Sekarang baru sudah jadi restorannya saja. Itu lokasinya di restoran kayu yang sudah dibangun,” bebernya.
Rencananya, bulan ini akan dilakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama untuk proses pembangunan. “Kalau amdal-nya sudah diurus. Sebentar lagi selesai. Kalau yang hotel itu tidak ada masalah,” kata dia.
Amiruddin mengatakan, target investasi di Kota Mataram yang sudah ditetapkan sebesar Rp 1,6 miliar. Namun, yang sudah masuk baru mencapai Rp 532 miliar. ”Sudah 32 persen-an yang masuk,” jelas Amiruddin.
Itu belum termasuk catatan investor yang sudah masuk hingga triwulan ke tiga. ”Yang baru masuk catatan baru hingga triwulan kedua. Makanya saya optimis target itu bisa dikejar,” kata dia.
Jika hotel yang dibangun di Jalan Bung Karno sudah masuk, nantinya akan masuk catatan. Target Rp 1,6 triliun itu bisa tercapai. ”Makanya itu yang saya kejar. Saya upayakan bisa ketemu dengan investornya,” pungkasnya. (arl/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post