Simulasi dimulai dengan aksi sekelompok masa yang tidak puas dengan hasil pemilu dan melakukan demonstrasi.
“Maju terus kawan-kawan, kita sedikit lagi akan sampai pada tujuan perjuangan kita!” seru orator memprovokasi massa menembus barikade yang dibuat aparat kepolisian menjaga objek-objek vital, kemarin (24/11).
Kemudian, diperlihatkan tahapan demi tahapan penindakan ke massa aksi. Mulai dari tata cara penanganan massa aksi damai hingga yang melakukan tindak kerusuhan.
Tahapan itu antara lain, barikade tameng aparat kepolisian, penembakan air oleh unit truk water canon, penembakan gas air mata, sampai akhirnya dilakukan langkah tegas dan terukur menggunakan peluru karet untuk melumpuhkan provokator.
Tahapan demi tahapan itu, secara berjenjang ditempuh berdasarkan kebutuhan di lapangan dan eskalasi kedaruratan massa aksi.
“Kami ingatkan agar massa aksi tidak melakukan tindakan anarkis!” tegas aparat kepolisian, melalui pengeras suara saat menyimulasikan peringatan setiap kali akan melakukan tindakan-tindakan tegas terukur.
Simulasi berikutnya, memperlihatkan massa aksi membakar ritel modern dan melakukan penjarahan. Oleh aparat kepolisian, selanjutnya dilakukan tindakan tegas terukur menggunakan peluru karet.
“Dor, dor, dor!”
Seorang pria terkapar terkena tembakan peluru karet. Setelah tak menggubris peringatan, tetapi malah mengancam keselamatan aparat dengan membawa senjata tajam. Tembakan itu mengenai pinggang dan kakinya.
Pria yang terkapar itu, bagian dari simulasi penanganan kerusuhan dan cara melumpuhkan orang yang diduga sebagai provokator. Berdasarkan laporan dari unit intel yang melakukan penyamaran dan identifikasi terhadap masa aksi.
Diperagakan pula, langkah aparat menangani teror bom di objek lokasi rekapitulasi suara yakni KPU.
Turut, menyaksikan dari awal hingga akhir simulasi Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana dan juga ketua DPRD Kota Mataram H Didi Sumardi.
Mohan menyampaikan harapannya, pemilu 2024 dapat berlangsung aman dan damai di Kota Mataram.
“Melihat simulasi ini, kami optimis aparat kepolisian kita akan mampu menangani setiap persoalan keamanan nantinya,” katanya.
Namun, ia tetap berharap tidak ada peristiwa keamanan serius di ibu kota. “Pemilu hakikatnya adalah pesta demokrasi, seharusnya disongsong dengan riang gembira,” kata Mohan, terus mengingatkan pentingnya pemilu damai.
Sudah ada mekanisme dan saluran dalam menyampaikan keberatan hasil pemilu. Ruang-ruang itu terbuka bagi siapa saja yang tidak puas dan ingin mencari keadilan.
Oleh karenanya, sebagai kepala daerah, ia berharap Kota Mataram sepanjang tahapan pemilu senantiasa kondusif, aman, dan terkendali.
“Mari kita sukseskan perhelatan pesta demokrasi ini untuk menentukan pemimpin dan wakil-wakil kita di legislatif,” serunya.
Berikutnya, tidak memproduksi dan menyebar luaskan informasi hoaks.
“Selalu verifikasi informasi yang kita terima dan uji tingkat kebenarannya dengan mengkroscek melalui saluran-saluran yang disiapkan pemerintah atau lembaga yang punya otoritas untuk itu,” ujarnya.
Ketua DPRD Kota Mataram H Didi Sumardi meyakini kesiapan aparat kepolisian menangani tantangan keamanan. “Jadi mari kita sambut dan laksanakan, pemilu yang damai, aman, tertib, dan lancar,” ujarnya.
Ia berharap, pemilu 2024 melahirkan pemimpin yang mampu membawa kemajuan bagi bangsa dan negara. “Itu menjadi harapan dan doa kita semua,” ujarnya. (zad/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post