LombokPost-Pemerintah Provinsi NTB terus menggencarkan berbagai program untuk menurunkan angka kebutaan. Hal ini dilakukan karena angka kebutaan di NTB tertinggi kedua di Indonesia setelah Jawa Timur.
Secara nasional, angka kebutaan di NTB mencapai 4 persen setelah Jawa Timur dengan 4,2 persen. Sebagian besar kasus kebutaan ini disebabkan oleh katarak sehingga masih sangat perlu mendapat perhatian khusus.
“Angka kebutaan di NTB masih tergolong tinggi. Pemicu utamanya adalah katarak,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB Dr dr H Lalu Hamzi Fikri, MM.MARS.
Menurut Hamzi Fikri, setelah Penjabat Gubernur NTB HL Gita Ariadi melaunching program Nampak Terang Benderang, Dinas Kesehatan Provinsi NTB bersama sejumlah pihak terkait dan NGO terus melakukan berbagai kegiatan penurunan kasus kebutaan.
Di antaranya kegiatan skrining kesehatan mata, pelaksanaan bakti sosial operasi katarak gratis. Termasuk beberapa program inovasi seperti vision center dan Nampak Terang Benderang yang telah dilaunching pada 19 Januari 2024 lalu di RS Mata Mataram.
Salah satu kegiatan dilakukan di Rumah Sakit Sondosia, Kabupaten Bima pada Kamis dan Jumat (7-8/3). Bersama pihak rumah sakit dan NGO, kegiatan ini menargetkan operasi 250 mata katarak secara gratis. Pasien yang akan menjalani operasi berasal dari Kota Bima dan Kabupaten Bima.
Kegiatan ini merupakan kerja sama Pemprov NTB melalui Dinas Kesehatan bersama Rumah Sakit Mata dan Bank NTB Syariah. Rencananya, Bank NTB Syariah akan membantu biaya operasi katarak sebanyak 600 mata dari seluruh kabupaten/kota di NTB.
Hamzi Fikri menambahkan, sejak tahun 2022, Provinsi NTB telah mengikhtiarkan operasi katarak untuk mengatasi masalah kebutaan bagi masyarakat, terutama yang kurang mampu. Hingga saat ini masih tersisa 15 ribu lebih kasus yang perlu ditangani.
“Gangguan penglihatan dan kebutaan akibat katarak di Provinsi NTB ditanggulangi dengan melakukan operasi katarak. Operasi ini dilaksanakan di semua kabupaten/kota di NTB secara masif dan terus-menerus sejak 2022,” katanya.
Selain itu, Dinas Kesehatan Provinsi NTB mengoptimalkan kapasitas medis Rumah Sakit Mata NTB agar mampu melayani 150 pasien per hari. Termasuk menghadirkan teknologi medis yang memungkinkan operasi dilakukan selama 15 menit.
Pemanfaatan layanan vision center yang telah tersebar di beberapa kabupaten/kota juga harus dimaksimalkan. Vision center ini sebagai upaya preventif melalui deteksi dini gangguan penglihatan.
“Hal ini diharapkan dapat meningkatkan capaian target indikator gangguan indera dan cakupan layanan kesehatan mata yang optimal dan bermutu,” katanya.
Sebelumnya, Penjabat Gubernur Drs H Lalu Gita Ariadi, M.Si saat launching program Nampak Terang Benderang mengatakan, program tersebut sebagai simbol sebuah gerakan masif dalam penanggulangan kebutaan akibat katarak di Provinsi NTB.
Dijelaskan, kasus kebutaan akibat katarak di NTB masih cukup tinggi yakni 4 persen. Artinya sekitar 37.530 masyarakat mengalami gangguan penglihatan. Dari jumlah tersebut 78 persen disebabkan katarak.
Karena itu, Pemprov NTB akan melakukan berbagai gerakan dan program untuk menurunkan jumlah kasus kebutaan di NTB. “Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggagas program NTB (Nusa Terang Benderang),” katanya.
Penyebab kebutaan paling tinggi adalah katarak. Sehingga masalah kebutaan ini tidak hanya menjadi masalah kesehatan, namun juga masalah sosial. Hal ini terjadi karena banyak faktor. Di antaranya pelayanan kesehatan yang sulit dijangkau khususnya di daerah terpencil, keterbatasan finansial dan informasi, serta kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan mata.
Menurut Miq Gita, jika pengelihatan bermasalah, segala aktivitas akan sangat terganggu. “Salah satu hal terpenting adalah manfaat yang didapatkan setelah melakukan operasi katarak. Di mana setelah operasi pasien akan mampu melihat dengan jelas. Semua menjadi terang benderang,” katanya. (lil)
Editor : Haliludin