Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perkuat Nilai Toleransi Lewat Ogoh-ogoh

Suharli • Minggu, 10 Maret 2024 | 22:06 WIB

CUKUP MERIAH: Peserta dan penonton pawai Ogoh-ogoh tumpah ruah di sepanjang Jalan Pejanggik, Kota Mataram, Minggu (10/3).
CUKUP MERIAH: Peserta dan penonton pawai Ogoh-ogoh tumpah ruah di sepanjang Jalan Pejanggik, Kota Mataram, Minggu (10/3).

 

MATARAM-Pawai Ogoh-ogoh berlangsung meriah. Seluruh umat Hindu tumpah ruah di Jalan Pejanggik, Cakranegara. 

 

Ada yang berbeda saat perayaan pawai Ogoh-ogoh. Biasanya para parade Ogoh-ogoh diiringi gamelan dari masing-masing banjar. 

 

Tetapi, salah satu peserta malah menggunakan alat musik tradisional suku Sasak. Bernama Ale-ale. "Kenapa kita ikut? Ini bagian bentuk toleransi juga untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1946," kata anggota Grup Ale-ale Temu Sedulur Karang Bayan Haris Munandar. 

 

Perayaan Nyepi tahun ini juga berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bertepatan dengan masuknya bulan Ramadan. "Cara ini bentuk menjaga tali persaudaraan kita antara suku Sasak dan Bali yang berada di Lombok ini," ujarnya. 

 

Tali persaudaraan itu harus terus dirawat dan dijaga. Jangan sampai terpecah belah. "Kita semua bersaudara. Cara menjaganya harus saling memberikan toleransi," kata dia. 

 

Terpisah, Tokoh Umat Hindu Anak Agung Made Djelantik Agung Barayang Wangsa

mengatakan, dari laporan panitia ada sebanyak 105 Ogoh-ogoh yang diarak. Pelaksanaan kegiatan ini berjalan berkat dukungan pemerintah Kota Mataram. "Sebelum di arak Ogoh-ogoh ini kami lombakan," kata dia. 

 

Ogoh-ogoh ini berbentuk patung. Itu wujud daripada budakala. "Kalau di bahasa Indonesia-nya sebagai wujud setan," ungkapnya. 

 

Memperlihatkan simbol setan yang kerap mengganggu manusia. Sehingga setelah pelaksanaan Ogoh-ogoh ini umat Hindu menjalankan sembahyang Pencaruan. "Pelaksanaannya di Taman Mayura," ujarnya.

 

Keesokan harinya dilanjutkan dengan ibadah Nyepi. "Menjalankan ibadah Nyepi dilakukan di rumah. Tanpa menggunakan penerangan apapun," kata dia. 

 

Anak Agung mengatakan, perayaan Hari Raya Nyepi juga bertepatan dengan menjelang pelaksanaan ibadah puasa. "Ini jadi momentum kita untuk memperkuat toleransi," ujarnya.(arl) 

Editor : Akbar Sirinawa
#Kota Mataram #toleransi agama #Nyepi #ogoh ogoh