Tugu Mataram Metro dipilih menjadi maskot dalam Pilwali Kota Mataram 202. Didesain ringan dan mudah diingat, maskot ini diharapkan menggaet lebih banyak gen Z berpartisipasi di ajang pemilihan kepala daerah lima tahunan ini.
-----
MASKOT Pemilihan Wali (Pilwali) Kota Mataram tahun 2024 bernama Si Meton. Si Meton akronim dari Semeton Jari Mentaram Tentukan Wali Kota Pilihan.
Maskot ini terinspirasi dari bentuk Tugu Mataram Metro. Ikon kebanggaan Kota Mataram.
Usut punya usut, inspriasi di balik lahirnya maskot ini cukup unik. “Jadi saat itu waktu yang kami punya mepet, tidak sempat melakukan sayembara pembuatan maskot dan jingle,” tutur Komisioner KPU Kota Mataram Muslih Syuaib, pada Lombok Post, Minggu (12/6).
Mepetnya waktu dimaksud, berkenaan dengan arahan dari KPU pusat menyegerakan launching Pilkada Serentak 2024. Mengingat secara tahapan, sebenarnya telah dimulai sejak tanggal 26 Januari 2024 lalu.
Sementara di saat itu, KPU tengah berjibaku memasuki tahapan krusial Pemilu 2024. “Setelah pencoblosan pemilu, kami harus melakukan rekapitulasi, kemudian bersiap menghadapi sengketa pemilu yang saat ini masih berlangsung di MK,” tuturnya.
Dalam fokus kerja yang terbagi, pihaknya kemudian membentuk tim. “Tugasnya untuk mengerjakan maskot dan jingle Pilwali 2024,” terangnya.
Tim itu terdiri dari unsur KPU, budayawan, akademisi, dan elemen masyarakat lainnya. Mereka fokus berdiskusi membuat maskot dan jingle Pilwali Kota Mataram 2024. Mereka berdiskusi dengan ide yang kompleks.
“Sampai suatu ketika, saya tengah ngopi santai di hari Minggu dekat tugu Mataram Metro,” tutur Muslih.
Di tempat itu, Muslih menuturkan melihat seorang anak yang tengah membuat gambar Tugu Mataram Metro dalam bentuk kartun. “Ada seorang anak SMP yang tengah iseng menggambar,” kisahnya.
Ia semakin tertarik melihat bagaimana anak itu menyelesaikan gambarnya. Gambar tugu tidak kehilangan artistik aslinya, tetapi terlihat ringan dan gampang diingat.
Ia pun tertarik membawa karya anak itu untuk didiskusikan dengan tim. “Setelah saya bawa ke tim, ide itu dengan baik. Ada beberapa tambahan saran bentuk maskot dari tim, sehingga jadilah bentuknya seperti yang dilihat saat ini,” jelas mantan jurnalis itu.
Muslih mengungkapkan, tim puas dengan bentuk maskot kali ini. Pesan kepemiluan juga masuk dalam bentuk maskot ini.
Inspriasi dari tangan kreatif anak SMP yang notabene gen Z adalah pesan sekaligus harapan keterlibatan generasi ini di pesta demokrasi. Harapan ini sesuai dengan yang disuarakan KPU dalam setiap ajang pesta demokrasi.
Pada Pilkada Serentak 2020 silam, maskot yang dipilih adalah gerbang tembolak. “Sedangkan kali ini kami memilih Tugu Mataram Metro sebagai maskot. Di sini terselip harapan kesinambungan pembangunan oleh pemimpin yang akan lahir dari proses demokrasi di 27 November 2024 nanti, mengingat tembolak dan Tugu Mataram Metro merupakan dua ikon ibu kota,” ucapnya.
Muslih mengatakan, pihaknya sangat percaya diri dengan bangunan-bangunan ikonik yang ada di kota untuk dijadikan maskot. “Kalau daerah lain banyak yang memilih burung atau binatang sebagai maskot, tapi kami memilih bangunan ikonik sebagai maskot,” paparnya.
Walaupun Tugu Mataram Metro relatif usianya lebih muda dibanding bangunan lain, namun sangat melekat di warga kota. Tugu itu menjadi salah satu yang paling diingat ketika warga kota ditanya bangunan apa yang paling ikonik di daerah ini.
“Dalam hitungan kami bangunan itu telah berdiri sekitar empat tahun, tapi sangat melekat sebagai bangunan ikonik ibu kota,” ucapnya.
Sampai akhirnya maskot itu disepakati dan dinyatakan sempurna untuk dilaunching, tim membutuhkan waktu sekitar satu minggu. “Sampai akhirnya semalam (Sabtu malam, Red) bisa kita perkenalkan pada masyarakat kota,” terangnya.
Detail maskot Si Meton memperlihatkan sesosok kartun manusia menyerupai tugu Mataram Metro. “Dihiasi sapuq (udeng, Red) serta kain songket khas suku Sasak sebagai suku terbesar di Mataram,” ucapnya.
Kemudian, warna dominan pada maskot ini adalah abu-abu yang menggambarkan netralitas penyelenggara dalam menyelenggarakan Pilkada 2024. Terdapat pula perpaduan warna biru yang memiliki filosofi cita-cita warga yang tak pernah padam membangun daerahnya.
Maskot ini menampilkan paku pencoblos dan surat suara dengan jari kelingking tercelup tinta biru. “Ini semua menggambarkan keinginan kuat warga menggunakan hak pilihnya,” tekannya.
Wajah maskot digambarkan riang. Mencerminkan sikap optimis warga. “Menyukseskan Pilkada sebagai pesta demokrasi yang menggembirakan,” pungkasnya. (*)
Editor : Rury Anjas Andita