LombokPost-Anggota MPR RI H Nanang Samodra melakukan Sosialisasi 4 Pilar MPR, Sabtu 22 Juni lalu, di Kantor Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur.
Peserta terdiri pemuka agama, tokoh masyarakat, pegiat perempuan, dan pemuda dari Desa Terara dan Desa Embung Raja.
Nanang Samodra sebagai narasumber juga memaparkan panjang lebar sejarah lahirnya Indonesia.
Dijelaskan pria bergelar doktor tersebut, Bangsa Indonesia lahir dan bangkit melalui sejarah perjuangan masyarakat bangsa yang pernah dijajah oleh Belanda dan Jepang.
Akibat penjajahan kala itu, Bangsa Indonesia sangat menderita, mengalami kehancuran di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan.
Bahkan sisa-sisa kemegahan dan kejayaan Nusantara seperti Sriwijaya dan Majapahit yang dimiliki rakyat di bumi pertiwi sirna, hancur tanpa sisa.
"Sejarah Indonesia meliputi suatu rentang waktu yang sangat panjang dimulai sejak zaman prasejarah berdasarkan penemuan “Manusia Jawa”. Secara geologi, wilayah nusantara merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik," kata Nanang menjelaskan.
Turut dijabarkan, para cendekiawan India telah menulis tentang Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa Dwipa di pulau Jawa dan Sumatera sekitar 200 SM.
Bukti fisik awal yang menyebutkan mengenai adanya dua kerajaan bercorak Hinduisme pada abad ke-5, yaitu Kerajaan Tarumanagara yang menguasai Jawa Barat dan Kerajaan Kutai di pesisir Sungai Mahakam, Kalimantan.
"Pada abad ke-4 hingga abad ke-7, di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan bercorak Hindu-Budha yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan Sunda sampai abad ke-16," lanjut politisi Demokrat tersebut menjelaskan pelajaran sejarah bangsa pada peserta kegiatan.
Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Budha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatera yang beribu kota di Palembang.
Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu.
Selanjutnya, pada abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit.
Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu.
"Kejayaan Sriwijaya dan Majapahit merupakan sejarah awal pengenalan wilayah kepulauan Nusantara yang merupakan tanah air bangsa Indonesia," lanjut mantan sekda NTB tersebut.
Terkait sebutan Nusantara, itu diberikan seorang pujangga pada masa Kerajaan Majapahit, kemudian pada masa penjajahan Belanda sebutan ini diubah oleh pemerintah Belanda menjadi Hindia Belanda.
Sedangkan Indonesia berasal dari bahasa latin indus dan nesos yang berarti India dan pulau-pulau.
Indonesia lanjut Nanang, merupakan sebutan yang diberikan untuk pulau-pulau yang ada di Samudra India dan itulah yang dimaksud sebagai satuan pulau yang kemudian disebut dengan Indonesia.
Kemudia dijabarkan, pada1850, George Windsor Earl seorang Inggris etnolog mengusulkan istilah Indunesians dan preferensi Malayunesians untuk penduduk kepulauan Hindia atau Malayan Archipelago.
Kemudian seorang mahasiswa bernama Earl James Richardison Logan menggunakan Indonesia sebagai sinonim untuk Kepulauan Hindia.
Namun di kalangan akademik Belanda, di Hindia Timur enggan menggunakan Indonesia sebaliknya mereka menggunakan istilah Melayu Nusantara (Malaische Archipel).
"Sejak tahun 1900 nama Indonesia menjadi lebih umum di kalangan akademik di luar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakan nama Indonesia untuk ekspresi politiknya," sambung pria yang sangat aktif dalam dunia pendidikan NTB, melalui Unizar Mataram tersebut.
Diterangkan lebih lanjut, Adolf Bastian dari Universitas Berlin memopulerkan nama lndonesia melalui bukunya lndonesien oder die inseln des malayischen arcipelas (1884-1894).
Kemudian sarjana bahasa Indonesia pertama yang menggunakan nama Indonesia adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda dengan nama Indonesisch Pers-Bureau ditahun 1913.
Penduduk yang hidup di wilayah Nusantara menempati ribuan pulau.
Secara ringkas, nenek moyang masyarakat Nusantara hidup dalam tata masyarakat yang teratur, bahkan dalam bentuk sebuah kerajaan kuno, seperti Kutai yang berdiri pada abad V di Kalimantan Timur, Tarumanegara di Jawa Barat, dan Kerajaan Cirebon pada abad II.
Kemudian beberapa abad setelah itu berdiri Kerajaan Sriwijaya pada abad VII, Kerajaan Majapahit pada abad XIII, dan Kerajaan Mataram pada abad XVII.
Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram menunjukkan kejayaan yang dimiliki wilayah Nusantara dan pada waktu itu sejarah mencatat bahwa wilayah Nusantara berhasil dipersatukan dan mengalami kemakmuran yang dirasakan seluruh rakyat.
Kerajaan Majapahit merupakan cikal bakal negara Indonesia.
Majapahit yang keberadaannya sekitar abad XIII sampai abad XV adalah kerajaan besar yang sangat berjaya, terlebih pada masa pemerintahan Mahapatih Gajah Mada yang wafat disekitar 1360-an.
"Gajah Mada adalah Mahapatih Majapahit yang sangat disegani, dia lah yang berhasil menyatukan Nusantara yang terkenal dengan Sumpah Palapa," imbuhnya.
Sumpah Palapa ini yang kemudian mengilhami para founding fathers kita untuk menggali kembali, menggunakan dan memelihara visi Nusantara.
Bersatu dalam Wawasan Nusantara dengan sesanti Bhinneka Tunggal Ika yang mengandung arti beragam, tetapi sejatinya satu, yang seharusnya berada dalam satu wadah.
Sumpah Palapa yang dikemukakan Mahapatih Gajah Mada yang kemudian setelah Majapahit berhasil menyatukan daerah-daerah di luar Jawa Dwipa menjadi Patih Dwipantara atau Nusantara, pada zamannya merupakan visi globalisasi Majapahit.
"Yaitu meski pun pusat Kerajaan berada di Pulau Jawa namun dia bertekat menyatukan seluruh wilayah Nusantara dalam satu kesatuan, satu kehendak dan satu jiwa," sambung dia.
Meski demikian, sejarah juga mencatat bahwa kejayaan Kerajaan Majapahit yang berumur lebih dari dua abad harus berakhir karena Majapahit mengalami paradoks history setelah Patih Gajah Mada wafat.
Kerajaan Majapahit mengalami perpecahan dengan ditandai lepasnya kerajaan-kerajaan yang semula berada dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang berdiri sendiri.
Kewaspadaan nasional yang dimiliki Majapahit sebagai negara bangsa (nationale staat) dalam konteks berbangsa dan bernegara waktu itu sangat lemah, sehingga konflik-konflik yang terjadi menyulut perpecahan.
Inilah yang lambat laun memengaruhi ketahanan nasional dan menuju ke kehancuran total.
Di tengah kondisi demikian, dan seiring dengan masuknya bangsa-bangsa Eropa ke wilayah Nusantara sejak di sekitar 1521, mulai Spanyol, Portugis, kemudian disusul Belanda dengan VOC-nya di sekitar 1602, visi wawasan nusantara Mahapatih Gajah Mada pada masa Majapahit benar-benar hancur.
"Ditambah penjajahan Belanda dan Jepang yang berlangsung sekitar tiga setengah abad," kata Nanang dalam penjelasannya.
Diterangkan lebih lanjut, meski pada 17 Agustus 1945 Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya, namun kenyataannya penjajahan kolonial bisa dikatakan baru berakhir degan tuntas sejak 27 Desember 1949.
Atas penjabaran tersebut, terdapat beberapa pertanyaan yang diajukan oleh para peserta sosialisasi.
Misalnya terkait dua kerajaan besar yang menjadi cikal bakal negara Indonesia, yaitu Sriwijaya dan Majapahit.
Ditanyakan, apakah kedua kerajaan itu eksis pada kurun waktu yang bersamaan atau berbeda?
Kemudian terkait istilah Dwipantara itu dimulainya sejak kapan? Karena kini istilah tersebut sudah luluh dan berubah menjadi Nusantara.
Ada juga pertanyaan mengapa penjajah Belanda pada saat itu tidak senang menggunakan sebutan Indonesia, mereka lebih senang menggunakan sebutan Hindia Belanda.
Hingga apa yang menyebabkan Kerajaan Majapahit meredup?
Dampak sosial terkait penjajahan turut ditanyakan.
Semuanya dijawab Nanang Samodra dengan mengajak para peserta berdiskusi bersama.
Bertukar pikiran, serta membuka sumber-sumber sejarah valid.
"Pemahaman ini harus terus kita jabarkan pada generasi penerus, agar kita tak melupakan sejarah, serta dapat mengambil pelajaran darinya," pungkas Nanang Samodra. (yuk/r9/*)
Editor : Prihadi Zoldic