Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kontribusi NiPERA pada Pengembangan Kesehatan Manusia dan Lingkungan di Industri Nikel Indonesia

Kimda Farida • Jumat, 27 September 2024 | 11:09 WIB
Pembicara pada seminar berjudul “Human Health & Environmental Developments in Indonesia’s Nickel Value Chain" yang diadakan NiPERA.
Pembicara pada seminar berjudul “Human Health & Environmental Developments in Indonesia’s Nickel Value Chain" yang diadakan NiPERA.

LombokPost--Nickel Institute, sebuah asosiasi global yang terdiri dari produsen utama nikel, melalui divisi ilmiahnya, NiPERA, berupaya meningkatkan pemahaman para pemangku kepentingan industri nikel dengan menyelenggarakan seminar bertajuk “Human Health & Environmental Developments in Indonesia’s Nickel Value Chain".

Dihadiri oleh pemerintah, asosiasi, industri, lembaga think-tank, dan masyarakat umum, acara ini bertujuan membahas tantangan dan peluang terkait perkembangan industri nikel di Indonesia, terutama dalam aspek kesehatan manusia, keselamatan kerja, dan keanekaragaman hayati lingkungan.

“Untuk mendukung agenda hilirisasi industri nikel, kolaborasi antara semua pemangku kepentingan harus terus berlanjut, terutama dalam menangani prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi para pekerja di industri pertambangan.

Penerapan K3 sangat penting untuk melindungi pekerja dan juga menjamin keberlanjutan investasi.

"Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Ketenagakerjaan, terus mendukung segala upaya dalam mewujudkan komitmen penerapan Good Mining Practices (GMP), tidak hanya sebagai regulasi, tetapi juga sebagai budaya yang memerlukan peningkatan berkelanjutan," ujar  Yuli Adiratna, Direktur Bina Pemeriksaan Norma Ketenagakerjaan, Kementerian Ketenagakerjaan, sekaligus Ketua Asosiasi Pengawas Ketenagakerjaan Indonesia (APKI) dalam pidato pembukaannya.

Asosiasi Profesi Pertambangan Indonesia (PERHAPI) menegaskan kembali dedikasinya untuk menjaga standar ketat Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di seluruh industri nikel.

Budiawansyah, Anggota Dewan Pakar PERHAPI, mencatat bahwa persyaratan Good Mining Practices (GMP) di Indonesia, yang juga mencakup aspek K3, harus terus dipatuhi oleh para pelaku industri.

Dengan menerapkan standar-standar ini, PERHAPI memastikan bahwa para pekerja di sektor nikel terlindungi dan sesuai dengan standar internasional terbaru terkait K3.

Program K3 harus mampu diselaraskan dengan perkembangan industri hilirisasi dan resikonya, sehingga kinerja keselamatan dapat terjaga dengan baik.

Sementara itu, Supriyanto Suwarno, Kepala Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Harita Nickel, mengakui bahwa penanganan masalah kesehatan manusia dan upaya menekan dampak ekologis dari penambangan nikel masih menjadi tantangan besar.

Meski begitu, perusahaan telah mengusung tiga pilar sebagai bagian dari strategi keberlanjutannya, yaitu tanggung jawab sosial, tata kelola yang baik, dan pengurangan jejak lingkungan.

“Kami juga memastikan bahwa pelaksanaan K3 kami mengikuti standar internasional, khususnya ISO 45001:2018, praktek-praktek terbaik tentang sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja guna memastikan standar operasi yang berkelanjutan. Selain itu, kami fokus memprioritaskan kesehatan para pekerja dan komunitas lokal di sekitar area operasional kami dengan menggelar program edukasi serta program program pemberdayaan lainnya” tambahnya.

"Keberhasilan lingkungan adalah fondasi dari setiap langkah operasional kami. Kami percaya bahwa pertambangan berkelanjutan adalah kunci untuk memastikan bahwa ekstraksi nikel yang penting untuk teknologi hijau, tidak merusak alam. Melalui program penghijauan, pelestarian keanekaragaman hayati, dan integrasi energi terbarukan, kami menciptakan warisan lingkungan yang memprioritaskan keamanan dan membawa dampak positif khususnya bagi masyarakat,” jelas Abu Ashar, Wakil Presiden Direktur Vale Indonesia.

Untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati di sekitar area penambangan nikel, Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) telah mengembangkan serangkaian alat dan survei untuk meningkatkan kesadaran para pelaku industri terhadap habitat flora dan fauna.

Robert Nasi, Direktur Jenderal CIFOR-ICRAF (Center for International Forestry Research and World Agroforestry), mengatakan, keberlanjutan jangka panjang industri nikel di Indonesia sangat bergantung pada pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, termasuk melindungi ekosistem, mengurangi deforestasi, dan memitigasi kehilangan habitat.

 

Chris Schlekat, Direktur Eksekutif NiPERA, menutup seminar dengan mengungkapkan apresiasinya atas partisipasi aktif dan wawasan berharga yang dibagikan sepanjang acara.

“Kami menantikan peluang kolaborasi lebih lanjut antara badan pemerintah, pelaku industri, lembaga think-tank, dan para pemangku kepentingan Indonesia dalam mengeksplorasi kemajuan aspek kesehatan manusia dan keanekaragaman hayati lingkungan di industri pertambangan nikel,” ujarnya.

Chris juga menyebutkan beberapa standar, seperti Nickel Mark, yang dapat menjadi tolok ukur dalam mengadopsi sistem manajemen untuk kesehatan manusia dan keanekaragaman hayati lingkungan yang diakui secara internasional.

Ia menyatakan dukungan NiPERA terhadap ambisi global Indonesia dalam pengembangan nikel dan menyambut baik kolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk memajukan praktik berkelanjutan dalam rantai nilai nikel. (bng)

 

Editor : Kimda Farida
#NiPERA