"Mahal sekali sekarang harga pakan," keluh seorang pembudidaya ikan air tawar Kota Mataram Asip.
Per 50 kilogramnya harganya bisa mencapai Rp 300 ribu. Sebelumnya, harganya bisa mencapai Rp 200 ribu. "Kalau yang satu karung bisa habis empat sampai lima hari. Ikan kita kasih makan tiga kali sehari," bebernya.
Dengan kondisi itu, keuntungan yang bisa didapatkan jauh berkurang. Dalam keadaan ekonomi seperti ini, tentu tidak berani menaikkan harga per kilogramnya. "Kalau kita jual per kilo hanya Rp 29 ribu ke pedagang," terangnya.
Jika dinaikkan, kondisi pedagang juga lagi sepi. Beberapa pedagang mulai mengurangi pengambilan ikan. "Biasanya mereka ambil 10-15 kilogram per hari. Sekarang di bawah itu. Karena pembeli lagi sepi," ungkapnya.
Saat ini, dirinya hanya bisa bertahan saja. Paling tidak jangan sampai terlalu rugi. "Kami berharap bisa mendapatkan bantuan pakan ikan dari pemerintah," harapnya.
Kalau persoalan debit air yang berkurang tidak terlalu berdampak. Air masih tetap mengalir. "Debit air masih aman," ujarnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram Irwan Harimansyah mengakui harga pakan ikan yang dikeluhkan para pembudidaya. Laporan itu didapatkan dari tim penyuluh di lapangan. "Keluhan itu tetap kita tampung," kata Irwan.
Harga pakan ikan terus naik. Sekarang berada di kisaran harga Rp 300 ribu per karung-nya. "Kami masih carikan solusi terhadap keluhan pembudidaya ikan," ujarnya
Pemkot Mataram sudah memberikan solusi terhadap pengganti pakan ikan dari maggot. Tetapi, tidak terlalu disukai oleh ikan. "Kalau khusus jenis ikan nila dan karper, tidak mau makan maggot," ujarnya.
Tetapi, khusus ikan lele dan patin masih mau makan maggot. Tetapi, yang lebih banyak laku di pasaran adalah ikan nila dan karper. "Makanya yang jadi tantangan adalah bagaimana maggot itu dikelola untuk bisa dijadikan pelet atau pakan ikan," harapnya.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram mungkin bisa mengolah maggot jadi pakan ikan. Supaya bisa mengembangkan budi daya ikan di Mataram. "Jadi para pembudidaya bisa membeli pakan dengan harga lebih murah," harapnya. (arl/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post