"Kita masih lakukan kajian untuk menghidupkan kembali transportasi," kata Kadishub Kota Mataram Zulkarwin, kemarin (21/10).
Untuk menjalankan itu, pihaknya akan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Mataram. Rencananya, akan ada penggunaan bus medium sebagai angkutan dalam kota. "Bagaimana sistem pengangkutan, rute, pembayaran, dan sebagainya," ujarnya.
Untuk memperkuat kajiannya, Dishub bakal belajar ke luar daerah. Ada beberapa daerah yang sudah mengembangkan transportasi publik. "Kita mungkin akan belajar ke Solo untuk mengetahui pola layanan angkutan publiknya," ungkapnya.
Saat ini, beberapa titik di kawasan Kota Mataram sudah macet. Terutama pada jam-jam tertentu. "Seperti saat berangkat dan pulang kerja," ujarnya.
Terutama di wilayah selatan, Utara, dan tengah Kota Mataram. Hal itu dikarenakan masih banyaknya penggunaan kendaraan pribadi. "Untuk mengurai itu perlu adanya penyiapan angkutan publik," ungkapnya.
Masyarakat enggan mau menggunakan angkutan publik dikarenakan pemerintah belum menyediakan. Jika sudah disiapkan potensi masyarakat untuk menggunakan angkutan publik tentu memberikan alternatif. "Saya optimis masih banyak warga yang ingin menggunakan angkutan publik," ujarnya.
Untuk memancing minat masyarakat menggunakan angkutan publik diperlukan juga pelayanan yang maksimal. Misalnya, bus medium tersebut harus dilengkapi dengan AC dan pelayanan lainnya. "Pelayanan yang baik dapat memberikan kenyamanan bagi masyarakat," ujarnya.
Zulkarwin tidak mempersoalkan jika ada transportasi online. Itu hanya bagian dari alternatif penyediaan angkutan. "Makanya, nanti kita pikirkan metodenya seperti apa. Nanti rute yang digunakan juga ditentukan dimana saja. Itu yang harus dikaji," ungkapnya.
Langkah Dishub Kota Mataram untuk menyediakan angkutan publik sebenarnya sudah dimulai. Yaitu dengan menciptakan kembali transportasi Bemo Kuning secara gratis khusus bagi pelajar. "Program itu masih kita lakukan uji coba di SMPN 7 Mataram," ujarnya.
Dimulai dari siswa agar menanamkan penggunaan transportasi publik ke depannya. Jika para siswa sudah terbiasa menggunakan transportasi publik, otomatis bisa memberikan dampak besar ke depannya. "Paling tidak bisa mengurai kemacetan," kata dia.
Dia menargetkan, jika kajian bisa selesai sampai akhir tahun ini, tahun 2025 sudah bisa terealisasi. "Memang ini membutuhkan anggaran besar. Tetapi, pelan-pelan pasti kita bisa wujudkan," harapnya. (arl/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post