Aisyah tidak pernah menyangka, pekerjaannya sebagai Satgas Dinas Sosial Kota Mataram akan membawanya ke dalam berbagai situasi menegangkan, melelahkan, bahkan berbahaya. Sejak bergabung sebagai Ia telah menghadapi segala tantangan di lapangan, mulai dari menangani pengemis, manusia silver, hingga berhadapan dengan preman jalanan.
Mataram
USIANYA kini 53 tahun dan ia bahkan sudah memiliki seorang cucu. Namun, semangatnya menjalankan tugas tidak surut.
Setiap hari, ia turun ke jalan memastikan Kota Mataram tetap tertib dari aktivitas pengemis dan gelandangan yang sering memanfaatkan simpang-simpang jalan strategis. “Iya, ini bagian dari tugas ibu, termasuk di simpang empat Dasan Cermen ini,” ucapnya tegar.
Salah satu tantangan yang dihadapinya baru-baru ini terjadi di Simpang Empat Dasan Cermen, Kota Mataram. Manusia silver, yang kerap meminta-minta dengan tubuh dilumuri cat perak, menjadi fenomena yang semakin sulit ditertibkan.
Saat ia mencoba menertibkan seorang manusia silver bernama Roby Setiawan, berasal dari Pasar Turi, Jawa Timur, respons yang ia dapatkan tidak sesuai harapan. “Saya sudah tanya, mau dipulangkan ke Jawa atau tidak? Mereka jawab tidak mau. Katanya ingin tetap di Mataram sampai Lebaran,” kata Aisyah.
Lebih dari itu, Roby tercium bau alkohol menyengat. Rupanya, sebelum beraksi di jalanan, ia dan rekan-rekannya diduga menenggak minuman keras.
“Dia sudah minum, bau mulutnya keras sekali. Sekarang sudah pergi, saya sampai kejar-kejaran ke Sasaku (tempat penjualan suvenir khas Lombok, Red),” kisahnya.
Meski berpuasa, Aisyah tetap menjalankan tugas dengan tegas. Namun, situasi ini membuatnya sadar menertibkan manusia silver bukan hanya soal memindahkan mereka dari jalanan, tetapi juga menangani permasalahan sosial yang lebih kompleks di balik keberadaan mereka.
Tugas sebagai Satgas Dinas Sosial tidak hanya menguras tenaga, tetapi mengancam keselamatan nyawa. Pada November 2017, Aisyah mengalami peristiwa paling mengerikan dalam kariernya.
Baca Juga: Ketentuan Bonus Hari Raya bagi Ojol dan Kurir Online, THR Tak Dibayar, Ojol Dipersilakan Lapor!
Saat mencoba menertibkan anak-anak jalanan di sebuah lokasi, ia justru dikeroyok hingga babak belur. “Saya dikeroyok, seragam saya robek dari celana sampai baju. Saya diseret sepanjang 150 meter, tidak ada yang membantu karena saat itu saya pulang malam,” kenangnya.
Insiden pengeroyokan tidak hanya terjadi sekali. Dua kali berikutnya, ia kembali mengalami kekerasan serupa, meskipun pelakunya adalah perempuan.
Selain itu, ancaman juga datang dari para “bos” yang mengendalikan para pengemis dan pekerja jalanan, termasuk bos penjual nanas dan kacang yang merasa terganggu dengan penertiban yang dilakukan Aisyah dan timnya. “Saya juga sering diancam oleh bos-bos yang merasa bisnis mereka terganggu. Tapi saya tetap bertahan, karena tugas harus dijalankan,” ujarnya.
Meski tugas di lapangan penuh risiko, Aisyah tidak sendirian. Kini, ada lebih banyak perempuan yang bergabung dalam tim Satgas, yang juga turun ke jalan untuk melakukan penertiban.
“Sekarang ada mbk Mbak Tini dan Rani,” ucapnya menyebut beberapa rekannya.
Sebagai salah satu anggota satgas perempuan senior, Aisyah menjadi panutan bagi rekan-rekannya. Ia mengajarkan ketegasan harus dibarengi dengan kesabaran dan pendekatan yang humanis dalam menangani Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).
“Kami di lapangan harus menghadapi berbagai karakter orang. Tidak bisa hanya mengandalkan ketegasan, tapi juga harus punya pendekatan yang baik supaya mereka tidak merasa terpojok,” jelasnya.
Meskipun banyak tantangan, Aisyah tidak pernah berpikir untuk menyerah. Ia ingin terus mengabdi demi menciptakan Kota Mataram yang lebih tertib dan nyaman bagi masyarakat.
Bagi Aisyah, tugas sebagai Satgas bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hati. “Kadang capek, kadang takut juga. Tapi kalau bukan kami yang turun ke jalan, siapa lagi? Saya ingin Kota Mataram tetap rapi dan masyarakatnya lebih sadar untuk tidak mengemis di jalanan,” katanya.
Ketika ditanya apakah ia ingin pensiun dalam waktu dekat, Aisyah hanya tersenyum.Selama masih bisa berdiri dan berjalan, saya akan tetap bertugas,” jawabnya mantap.
Di usia 53 tahun dan dengan pengalaman bertahun-tahun di lapangan, Aisyah telah menjadi bagian penting dari perjuangan menjaga ketertiban sosial di Kota Mataram. Suka duka yang ia alami mungkin tidak banyak diketahui masyarakat luas, tetapi dedikasinya layak menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama para perempuan yang ingin berkontribusi dalam bidang sosial.
“Semoga kota ini semakin Harum ke depan,” ucapnya dalam penuh makna. (*/r7)
Editor : Akbar Sirinawa