Tak ada yang menyangka, gerobak tua milik sang tante yang terbengkalai di sudut rumah, menjadi awal perjalanan Gazanfar Husein membangun usaha es cokelat yang kini viral di Lombok. Lulusan hukum yang sempat bingung arah hidup usai wisuda itu, kini meraup omzet hingga jutaan rupiah setiap hari, hanya dari es cokelat celup roti.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Gazanfar Husein, alumni Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pernah merasakan kebingungan yang akrab bagi banyak lulusan baru. Yakni, harus melakukan apa setelah wisuda? Ijazah sudah di tangan, tapi tanpa sertifikasi advokat, impian menjadi pengacara terasa jauh dari jangkauan.
Ia pun pulang ke kampung halaman di Lombok. Namun, pekerjaan yang diharapkan tak kunjung datang. Dalam kebuntuan itu, ia mencoba menjadi makelar tanah. Satu transaksi berhasil memberinya keuntungan Rp 5 juta.
Jumlah yang tidak besar, tapi sangat berarti bagi Gazanfar yang saat itu tak lagi menerima uang dari orang tuanya.
Baca Juga: Langkah Nyata Bapanas, Dampingi UMKM Pangan Lokal NTB Tingkatkan Kualitas
Di tengah kegalauan, matanya tertuju pada gerobak milik tantenya yang terbengkalai. Dari situlah ide sederhana namun brilian muncul, berjualan es cokelat. Minuman klasik yang familiar di semua kalangan.
Nama “Maharani” dipilih begitu saja, melanjutkan nama usaha tantenya. Konsepnya terinspirasi dari penjual es cokelat di Semarang, berupa es cokelat dengan roti celup.
Dengan modal Rp 2,5 juta dan gerobak pinjaman, Es Coklat Maharani mulai beroperasi pada Maret 2023. Produk pertamanya dibuat dari bahan seadanya. “Saya coba beli sedikit cokelat gelas plastik,” ujarnya.
Baca Juga: Sinergi Pertamina dan DEKRANAS Berdayakan UMKM Lombok Lewat Pelatihan Branding dan Fotografi Produk
Awalnya, pembeli sangat sedikit. Penghasilan per hari hanya Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu, bahkan kadang tak ada pembeli sama sekali.
Peruntungan berubah pada Mei 2023. Seorang selebgram iseng mencoba es cokelatnya, lalu mengunggah ulasan tanpa dibayar.
“Itu belum saya endorse. Belum ada uang untuk endorse,” tegas Gazanfar.
Popularitas Es Coklat Maharani meroket pada Agustus 2023, berkat konten-konten di TikTok dan keikutsertaannya dalam Senggigi Sunset Jazz.
“Setelah event itu langsung ramai,” ucapnya sambil tersenyum.
Menu yang paling laris adalah es cokelat celup roti. Kombinasi sederhana tapi menyegarkan. Harganya pun ramah. Dimulai dari Rp 9 ribu untuk es cokelat, Rp13 ribu dengan roti. Di tengah cuaca Lombok yang panas, minuman ini jadi incaran.
Baca Juga: CFN Gerung Makin Dahsyat, UMKM Menggeliat
Kesuksesan Maharani justru datang dari kesederhanaan, bukan tampilan mewah seperti tren minuman kekinian. Meski tak fotogenik, aroma dan sensasi es cokelat yang diaduk di panci besar cukup membuat air liur menetes.
Roti sobek yang disajikan sebagai teman es cokelat, mirip roti gembong khas Jogja, melengkapi pengalaman menikmati menu ini. Tak sekadar menghilangkan dahaga, pelanggan juga merasa kenyang.
Perjalanan Gazanfar tak berhenti di situ. Pertengahan 2024, ia mulai menambah menu selain es cokelat. Di akhir tahun, sebagian halaman rumahnya disulap menjadi tempat duduk untuk pelanggan. Awalnya hanya beberapa kursi, kini terus bertambah mengikuti jumlah pengunjung.
“Sekarang mulai ramai, banyak yang datang,” ungkapnya.
Baca Juga: Komitmen Memperkuat Ketahanan Pangan, Bapanas Dampingi Dua UMKM Pangan Lokal NTB
Gazanfar aktif mendengarkan masukan pelanggan melalui TikTok dan Instagram. Selain es cokelat, menu baru seperti Nasi Telur Kribo dan Mie Ayam juga jadi favorit.
Peningkatan omzet pun tak main-main. Sebelum aktif promosi di TikTok, pendapatan harian Rp 4 juta hingga Rp 5 juta. Setelah gencar promosi, naik hingga Rp 8 juta per hari. Bukti kuatnya pengaruh promosi digital dalam mengangkat usaha lokal.
Tak berhenti di satu tempat, Gazanfar kini bersiap membuka cabang baru Es Coklat Maharani di Narmada, Lombok Barat.
Editor : Siti Aeny Maryam