Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Balas Dendam Digital! Netizen Indonesia dan Brasil Saling Serang Rating Destinasi Wisata di Google Maps, Siapa Pemenangnya?

Fratama P. • Rabu, 2 Juli 2025 | 20:35 WIB
Netizen Indonesia melawan Brasil
Netizen Indonesia melawan Brasil

LombokPost - Sebuah fenomena unik dan cukup mengkhawatirkan baru-baru ini mencuat di dunia maya, melibatkan warganet dari Brasil dan netizen Indonesia. 

Netizen Indonesia dan Brasil kedapatan saling memberikan ulasan buruk pada destinasi wisata populer di negara masing-masing melalui platform Google Maps. 

Pemicu utama dari "perang" rating ini adalah insiden tragis meninggalnya pendaki asal Brasil, Juliana Marins, di Gunung Rinjani, Lombok.

Menyusul insiden tersebut, warganet Brasil meluapkan kekecewaan mereka dengan membanjiri laman Google Maps Taman Nasional Gunung Rinjani dengan ulasan negatif dan rating bintang satu. 

Mereka menyoroti dugaan kurangnya kesiapan tim penyelamat dan minimnya peralatan dalam penanganan insiden. 

Tidak tinggal diam, netizen Indonesia pun langsung memberikan balasan dari serangan ini.

Netizen Indonesia Balas Serang Hutan Amazon

Sebagai respons, netizen Indonesia melancarkan aksi serupa, menargetkan Hutan Amazon di Brasil dengan penurunan rating secara masif. 

Banyak akun dari netizen Indonesia memberikan rating bintang satu untuk Hutan Amazon, disertai komentar bernada sindiran dan canda tajam. 

Salah satu contohnya datang dari pengguna bernama She CW, yang menuliskan komentarnya langsung di Google Maps Sungai Amazon.

“Di Amazon banyak anakonda dan siluman ular. Jangan ke sini.”

Bahkan komentar lain juga menyinggung isu lingkungan yang dianggap tidak layak di sungai Amazon.

“Tidak layak disebut paru-paru dunia jika dibiarkan terbakar setiap tahun. Pemerintah tidak serius menjaga lingkungan. Pariwisata pun tidak ramah, akses buruk, dan ekosistem hancur!!!”

Tak sedikit pula komentar yang bernada satir, seperti yang dituliskan seorang pengguna media sosial.

“Overall bagus apalagi ada Anaconda, tapi tidak ada yang jualan kopi sama jajanan. Tolong pengelola, kasihan para wisatawan kelaparan.”

Beberapa komentar secara terang-terangan menunjukkan bahwa aksi ini adalah bagian dari "pertempuran" warganet lintas negara, seperti "Ikut war netizen Indo vs Bra,” atau “Ayo kasih rating 1 untuk Hutan Amazonnn.” 

Seorang pengguna berinisial FU bahkan secara spesifik menyinggung insiden Rinjani dengan menuliskan komentar.

“Hati-hati dimakan anakonda, sangat tidak dianjurkan datang ke sini. Why did you rate Mount Rinjani 1 star?”

Aksi ini jelas merupakan bentuk balasan atas tindakan netizen Brasil yang lebih dulu melayangkan rating buruk ke Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok, Indonesia.

Kritik Netizen Brasil terhadap Penanganan di Rinjani

Sebelumnya, di kolom ulasan Google Maps untuk Taman Nasional Gunung Rinjani, netizen Brasil melontarkan kritik pedas dalam bahasa Portugis. 

Akun bernama Deusa da Agua menuliskan kritikannya pada Gunung Rinjani karena dinilai tidak memiliki tim dan peralatan memadai.

“Karena sama sekali tidak siap, mereka tidak memiliki tim atau peralatan untuk melakukan penyelamatan. Mereka tidak memberikan bantuan kepada Juliana Marins yang meninggal.”

Komentar lain dari pengguna Elaine Ferreira Silva juga menyebutkan insiden di Rinjani terjadi karena pengabaian pada Juliana.

“Pengabaian total terhadap kehidupan Juliana Marins yang meninggal karena kurangnya penyelamat.” 

Warganet Brasil juga mempertanyakan keputusan otoritas Indonesia yang membuka kembali jalur pendakian setelah evakuasi korban dinyatakan selesai.

Dinamika "Perang" Opini di Google Maps

Peristiwa ini menjadi indikasi bahwa perang opini digital kini meluas ke platform seperti Google Maps, tidak lagi terbatas pada media sosial seperti Twitter atau Instagram. 

Di satu sisi, aksi netizen Indonesia dianggap sebagai reaksi spontan terhadap sentimen negatif yang menargetkan destinasi wisata dalam negeri, khususnya Gunung Rinjani.

Namun, di sisi lain, sejumlah pihak menyayangkan aksi saling serbu rating ini. Tindakan tersebut berpotensi merusak citra destinasi wisata kedua negara secara keseluruhan, merugikan industri pariwisata yang sangat bergantung pada ulasan positif.

Kronologi Evakuasi Jenazah Juliana Marins di Rinjani

Seperti diberitakan sebelumnya, jenazah Warga Negara Asing (WNA) Brasil, Juliana Marins (27), yang jatuh di lereng puncak Gunung Rinjani, berhasil dievakuasi dari jurang sedalam 600 meter pada Rabu (25/6/2025). 

Pendaki ini dilaporkan jatuh pada Sabtu (21/6/2025) pagi pukul 06.30 WITA dan jenazah Juliana akan diautopsi terlebih dahulu sebelum dipulangkan ke Brasil.

Proses evakuasi ini diwarnai dengan perjuangan heroik Tim SAR yang tidak hanya berpacu dengan waktu tetapi juga menghadapi medan ekstrem. 

Jenazah Juliana akhirnya berhasil diangkat dari jurang menggunakan metode vertical lifting, yang melibatkan sistem pulley di mana tim pengangkut secara bergantian menarik tali dari ketinggian.

Setelah berhasil dievakuasi ke bibir tebing, jenazah ditandu menyusuri jalur curam menuju Posko SAR Sembalun, memakan waktu hampir 6 jam. 

Pukul 20.41 WITA, jenazah tiba di Posko dan langsung dibawa dengan ambulans menuju RS Bhayangkara Mataram dengan pengawalan ketat. 

Jenazah tiba di rumah sakit pukul 22.44 WITA dan segera masuk ruang autopsi untuk melihat penyebab kematian.

Awalnya, tubuh Juliana sudah ditemukan pada Selasa (24/6/2025) petang sekitar pukul 18.00 WITA. 

Tim SAR yang turun menggunakan teknik vertical rescue terpaksa harus bermalam dengan teknik flying camp karena evakuasi pada malam hari tidak memungkinkan. 

Juliana terjatuh di jurang curam kawasan Cemara Nunggal, jalur menuju puncak Rinjani, yang berada di ketinggian 9.000 kaki atau sekitar 2.743 meter di atas permukaan laut.

“Medan tempat korban jatuh adalah tebing terjal dengan kedalaman lebih dari 600 meter. Lokasinya benar-benar sulit dijangkau dan tidak memungkinkan dilakukan evakuasi biasa,” ujar Syafii dalam konferensi pers, Selasa (24/6/2025). 

Tim SAR memerlukan waktu 8 jam hanya untuk mencapai titik awal pencarian dari Pos Sembalun. 

Perjalanan tersebut menempuh tebing berbatu, semak belukar, dan jalur licin akibat hujan yang mengguyur kawasan pegunungan selama dua hari berturut-turut.

Sampai saat ini, netizen Indonesia disebut mendapatkan lawan seimbang setelah saling menyerang dengan netizen Brasil.***

Editor : Fratama P.
#brasil #netizen indonesia #destinasi wisata