Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Inflasi Menuju Zona Merah, Pj Sekda NTB Minta TPID Gercep Turun Lapangan, Jangan Hanya Sibuk Rapat!

Akbar Sirinawa • Sabtu, 12 Juli 2025 | 06:30 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost-Tren inflasi di Nusa Tenggara Barat (NTB) terus naik dan mulai mengkhawatirkan. Inflasi NTB per Juni 2025 tercatat sebesar 2,51 persen, melebihi rata-rata nasional yang berada di angka 1,87 persen.

Pemerintah Provinsi NTB langsung menggelar rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan meminta langkah nyata di lapangan. Rapat koordinasi TPID NTB digelar di Gedung Sangkareang, Kantor Gubernur NTB, Jumat (11/7), sebagai bentuk respons terhadap kenaikan inflasi NTB yang mulai mengarah ke zona merah.

Pj Sekda NTB Lalu Mohammad Faozal menegaskan, inflasi NTB harus ditangani secara konkret, bukan hanya dibicarakan dalam forum rapat.

“Inflasi kita sudah di zona kuning, menjelang merah. Kita harus siaga, dan yang utama, jangan hanya sibuk rapat, tapi perkuat kerja nyata di lapangan,” kata Faozal.

Menurutnya, inflasi NTB banyak dipicu oleh harga pangan yang melonjak. Untuk itu, Pemprov NTB meminta seluruh TPID kabupaten/kota memperkuat koordinasi dan aktif turun langsung ke pasar.

“Monitoring harian harga harus aktif. Karo Ekonomi dan Kadis Perdagangan harus turun ke pasar, cek langsung. Kita harus pastikan, apakah benar masyarakat kita tidak bisa beli tomat, cabai, atau minyak? Kalau inflasi gara-gara tomat, harus kita kaji serius,” ujarnya.

Faozal juga menekankan bahwa inflasi NTB berkaitan erat dengan rantai distribusi pangan yang masih lemah.

“Saya tidak ahli teknisnya, tapi saya tahu bahwa rantai pasar dan distribusi kita perlu dibenahi. Dari produksi ke pasar harus kuat, agar harga tetap stabil dan terjangkau,” tambahnya.

Ia mendorong kabupaten/kota membentuk TPID yang benar-benar aktif di lapangan, bukan sekadar formalitas.

“Di kabupaten kota bentuk TPID yang kuat yang tidak hanya rapat tapi harus kuat di lapangan,” tegasnya lagi.

Faozal juga mengajak seluruh pihak untuk bekerja bersama agar inflasi NTB tidak semakin membebani masyarakat.

“Pemprov tidak bisa sendiri tapi dengan kolaborasi bersama kabupaten kota Ins shaa Allah kita kuat,” jelasnya.

Dalam laporannya, Kepala Biro Perekonomian Setda NTB Lalu Wirajaya Kusuma menjelaskan, inflasi NTB saat ini banyak dipengaruhi kenaikan harga bahan pangan bergejolak seperti tomat, minyak goreng, dan tiket pesawat.

“Kita mengalami kecenderungan kenaikan sejak Maret. Penyumbang utama inflasi ini berasal dari kelompok bahan pangan bergejolak, terutama tomat, minyak goreng, dan angkutan udara,” kata Wirajaya.

Ia menyebut cuaca buruk sebagai penyebab utama melonjaknya harga tomat, sementara harga minyak goreng dan angkutan udara dipicu oleh kebijakan tingkat pusat.

“Memang karena kondisi cuaca menjadi salah satu faktor kenapa harga tomat melonjak naik, serta minyak goreng dan angkutan udara,” pungkasnya.

Inflasi NTB yang terus naik jadi perhatian serius Pemprov. Lewat TPID, diharapkan pengendalian harga bisa dilakukan dengan cepat dan tepat.

Pj Sekda NTB Lalu Moh Faozal memimpin rapat pembahasan inflasi. (FOTO: KOMINFO NTB)
Pj Sekda NTB Lalu Moh Faozal memimpin rapat pembahasan inflasi. (FOTO: KOMINFO NTB)

Jika tidak, inflasi NTB dikhawatirkan berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan perekonomian daerah.

Editor : Akbar Sirinawa
#TPID NTB #Harga Tomat Naik #Inflasi NTB #Lalu Mohammad Faozal #pj sekda ntb #zona merah