LombokPost - Beberapa detik sebelum adu penalti terakhir di final Liga Champions 2003, sebuah momen langka berhasil diabadikan oleh seorang jurnalis.
Di satu sisi, Nelson Dida berdiri dengan senyum kecil yang penuh percaya diri, sementara di sisi lain, Gianluigi Buffon berjalan menuju gawangnya yang sudah rusak, letih namun masih berharap bisa menunda kekalahan.
Ini adalah dua kisah dengan satu gambar, Dida dan Buffon, AC Milan dan Juventus, kemenangan dan kekalahan.
Bertahun-tahun kemudian, Dida mantan penjaga gawang AC Milan yang sudah pensiun dari dunia sepak bola ditanya tentang senyum legendarisnya itu.
Dengan santai, dia menjawab, "Saya tersenyum karena saya tahu Shevchenko (striker AC Milan, penendang pinalti terakhir) akan mencetak gol."
Sebuah pernyataan yang menunjukkan kepercayaan diri sang kiper AC Milan yang tinggi pada saat itu.
Ini soal keindahan dan kekejaman sepak bola, Dida dan Buffon, AC Milan dan Juventus.
Momen ini menggambarkan bagaimana sepak bola bisa menjadi sangat kejam bagi Juventus dan Buffon juga indah sekaligus bagi AC Milan dan Dida.
Harapan yang menguatkan fans AC Milan dan keputusasaan yang menyayat hati, terutama bagi fans Juventus kala itu.
Sebuah pengingat bahwa sepak bola bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi juga tentang emosi dan cerita di balik setiap pertandingan.
Final Liga Champions 2003 adalah final yang tak terlupakan, bukan saja oleh Dida dan Buffon, tetapi seluruh fans AC Milan dan Juventus.
Final Liga Champions 2003 antara AC Milan dan Juventus akan selalu diingat sebagai salah satu pertandingan yang paling dramatis dalam sejarah sepak bola.
Adu penalti yang menegangkan dan momen-momen krusial yang menentukan hasilnya.
Sebuah pertandingan yang menunjukkan betapa berharganya setiap detik dalam sepak bola. (yuk/r6)
Editor : Prihadi Zoldic