LombokPost – Persoalan banjir yang menenggelamkan sebagian Kota Mataram pada 6 Juli 2025 masih menyisakan kekhawatiran. Tapi dari balik bencana, lahir sebuah gagasan segar dan membumi.
Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram Abd Rachman meyakini, banjir bukan hanya soal saluran mampet atau anggaran minim, melainkan soal kurangnya keterlibatan masyarakat. Dan solusinya: lomba lingkungan dengan hadiah besar yang memantik semangat kolektif.
“Ya ini gagasan yang coba ingin kami tawarkan pada pemkot,” katanya, Minggu (20/7).
Selanjutnya tergantung pemkot apakah bersedia menindaklanjuti atau tidak. Namun secara prinsip, ia meyakinkan dewan memiliki semangat yang sama untuk mendukung dan menyelesaikan persoalan sampah yang menjadi biang banjir di Ibu Kota.
Ketua DPC Partai Gerindra Kota Mataram ini menyoroti akar persoalan yang selama ini berulang yakni pendangkalan saluran air yang tak pernah benar-benar tuntas karena penanganan bersifat parsial dan anggaran yang terbatas. “Setiap tahun dianggarkan, tapi karena panjangnya saluran dan sifat pengerjaannya parsial, bagian yang sudah dikeruk bisa tertutup lagi sebelum seluruhnya tuntas,” ujarnya.
Ia menyebut, banyak OPD, termasuk Dinas PUPR, telah mengeluhkan keterbatasan anggaran untuk mengatasi sedimentasi. Namun, kondisi ini tak bisa terus dijadikan alasan.
Dibutuhkan inovasi lintas sektor dan kolaborasi nyata, termasuk dengan DPRD melalui dana pokok pikiran (pokir). “Kami terbuka diajak bicara,” tegasnya.
Rachman menyayangkan selama ini, pemanfaatan pokir anggota dewan kurang diarahkan untuk menyasar persoalan mendasar seperti kebersihan dan pengelolaan lingkungan. “Pokir-pokir kami bisa diarahkan untuk menangani sampah dan sedimentasi yang jadi masalah krusial hari ini,” tegasnya.
Ia menekankan, sampah adalah biang utama banjir besar yang melanda kota beberapa waktu lalu. Dan meskipun itu persoalan klasik di kota-kota besar, bukan berarti tak bisa diatasi jika semua pihak mau turun tangan.
Solusinya? Rachman mengusulkan format lomba kebersihan lingkungan antar-RT se-Kota Mataram dengan hadiah yang konkret dan menggugah. “Kenapa tidak dilombakan saja? Kita berikan reward yang pantas. Bukan cuma piagam atau uang 1-5 juta yang tidak menggerakkan warga,” ungkapnya.
Ia mengusulkan agar lingkungan terbaik diberi hadiah nyata seperti truk sampah, alat angkut, atau bahkan bantuan dana lingkungan senilai ratusan juta rupiah. Sumber dananya bisa diarahkan dari pokir anggota DPRD, selama dikelola dengan transparan dan akuntabel.
“Kalau hadiahnya truk atau anggaran Rp 300 sampai 500 juta untuk lingkungan pemenang, itu pasti menggugah semangat. Masyarakat akan terpacu untuk bersih-bersih,” tambahnya.
Menurut Rachman, jika seluruh RT di Kota Mataram berlomba memperindah dan membersihkan lingkungan, maka wajah kota pun akan ikut berubah. Program ini bisa diumumkan menjelang HUT Kota Mataram, agar jadi bagian dari perayaan yang penuh makna dan berdampak nyata.
“Kita tidak usah malu mengakui bahwa ini persoalan lama. Tapi justru karena itu, mari kita pecahkan dengan cara baru yang melibatkan semua orang,” ucapnya.
Ia pun menegaskan komitmennya dan rekan-rekan di DPRD mendukung penuh program seperti ini, selama anggarannya tidak diselewengkan, dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Gagasan ini menggeser fokus penanganan banjir dari proyek pengerukan dan betonisasi semata, menjadi pendekatan partisipatif yang menumbuhkan kesadaran kolektif.
Di saat banyak yang berlomba membangun trotoar, taman, dan fasilitas seremonial, Rachman mendorong semangat menjaga lingkungan dari bawah, gang-gang kecil dan got-got di depan rumah warga. Ia optimis, jika gagasan ini dijalankan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin Mataram tidak hanya bebas banjir, tapi juga menjadi kota yang bersih, sehat, dan penuh semangat gotong royong.
“Ini bukan soal berapa besar uangnya, tapi seberapa tepat sasaran dan seberapa besar dampaknya,” tutupnya. (zad/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin