LombokPost – Bencana banjir yang melanda Mataram beberapa pekan lalu menyisakan duka bagi petani. Sedikitnya 100 hingga 110 hektare sawah terendam banjir, mengakibatkan kerugian besar dan ancaman gagal panen bagi petani di Kota Mataram. Ironisnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menyatakan tak bisa memberikan ganti rugi.
Plt Kepala Dinas Pertanian Mataram Irwan Harimansyah, menjelaskan bahwa dinasnya tak memiliki alokasi dana penggantian kerugian. Pihaknya selalu menganjurkan petani untuk ikut program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dari Asuransi Jasindo, yang sejatinya dirancang untuk melindungi petani dari risiko gagal panen akibat bencana alam, hama, dan penyakit tanaman.
Irwan mengakui bahwa minimnya kesadaran petani menjadi kendala utama dalam program AUTP.
"Ini yang masih menjadi kendala, bahwa beberapa petani masih belum mendaftarkan dirinya pada asuransi petani tersebut, apalagi saat cuaca yang kadang meleset dari perkiraan BMKG," ujarnya.
Ia mencontohkan, hujan deras yang terjadi belum lama ini seharusnya mendorong petani berasuransi, namun minatnya masih rendah.
Pendaftaran asuransi cenderung lebih mudah untuk kelompok tani, namun masih menjadi tantangan bagi petani perorangan. Irwan belum menerima data pasti berapa banyak kelompok atau petani perorangan yang terdampak banjir.
Area persawahan yang paling parah terdampak banjir sebagian besar berada di Kecamatan Sandubaya dan Sekarbela. Laporan dari Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sandubaya menunjukkan dampak signifikan banjir pada tanggal 6 Juli 2025.
Rincian Dampak Banjir di Beberapa Kelurahan:
Kelurahan Bertais: 1 hektare sawah terendam, kerugian diperkirakan Rp 10.000.000 dengan tanaman padi berusia 7 Hari Setelah Tanam (HST) mengalami kerusakan.
Kelurahan Mandalika: Total 53,85 hektare sawah terdampak (14 hektare, 21 hektare, dan 18,85 hektare) akibat jebolnya saluran irigasi.
Kelurahan Dasan Cermen: 23,20 hektare sawah terdampak akibat jebolnya saluran irigasi.
Irwan mengaku menerima banyak keluhan dari petani yang kini dihadapkan pada kerugian besar. Ia mengimbau agar para petani segera mendaftarkan diri pada program asuransi tani. "Pas begini kan bingung, itu tidak sedikit," pungkasnya.
Meskipun gagal panen ini berpotensi memengaruhi produksi pangan di Kota Mataram, Irwan belum menerima laporan atau prediksi mengenai dampak pasti terhadap jumlah produksi pangan di wilayahnya. Harapannya, insiden ini dapat menjadi pelajaran bagi para petani untuk lebih proaktif dalam mengantisipasi risiko cuaca ekstrem di masa mendatang. "Inilah pentingnya asuransi itu," tekannya.
Mengenai bantuan lain seperti sembako dan kebutuhan dasar, Irwan menegaskan hal itu menjadi tanggung jawab Dinas Sosial. Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial terkait penyaluran bantuan kepada petani yang terkena dampak.
Editor : Jelo Sangaji