Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Lebih dari Solusi Sampah: Bank Sampah NTB Mandiri Berdayakan Perempuan dan Difabel

Sanchia Vaneka • Senin, 11 Agustus 2025 | 20:39 WIB

 

Photo
Photo

 

LombokPost – Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang kompleks, Bank Sampah NTB Mandiri hadir tidak hanya sebagai solusi lingkungan, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan.

Sejak didirikan pada tahun 2013, bank sampah ini berfokus menganyam asa bagi perempuan, terutama ibu rumah tangga, dan penyandang disabilitas, dengan mengubah sampah anorganik menjadi produk bernilai ekonomi.

Suci Sulistiani, salah satu staf Bank Sampah NTB Mandiri, menjelaskan bahwa bank sampah yang didirikan oleh aktivis lingkungan Aisyah Odist ini memiliki sistem unik.

Sampah yang diterima harus berasal dari rumah tangga, bukan hasil memungut di jalan. Nilai tabungannya pun bervariasi.

“Kalau dia belum dicuci, harganya beda. Per 100 bungkus dihargai Rp 500. Tapi kalau sudah dicuci dan dilipat, harganya jadi Rp 5.000 per 100 lembar. Semakin besar usahanya, semakin besar juga nilai tabungannya,” jelas Suci.

Uang dari tabungan sampah tidak bisa langsung diambil. Nasabah didorong untuk menabung selama satu atau tiga bulan agar manfaatnya lebih terasa.

Dari sampah-sampah yang terkumpul, para ibu dan penyandang disabilitas menciptakan berbagai produk kerajinan tangan, seperti dompet, tas, tempat kartu, hingga cover buku.

Produk-produk ini tak hanya dibuat di bank sampah, tetapi juga di rumah masing-masing.

“Jadi mereka juga bisa nabung dalam bentuk produk. Kami langsung beli putus,” kata Suci.

Bank Sampah NTB Mandiri bahkan memberikan 15 mesin jahit kepada para penyandang disabilitas agar mereka bisa berkarya dari rumah. “Karena susah pergerakannya, jadi kami kasih mesin jahit satu-satu,” tambah Suci.

Saat ini, Bank Sampah NTB Mandiri memiliki sekitar 600 nasabah. Produk kerajinan tangan mereka bahkan diminati hingga mancanegara, seperti Jepang dan Australia.

Namun, Suci menegaskan bahwa indikator keberhasilan bank sampah bukanlah meningkatnya jumlah tabungan, melainkan berkurangnya sampah yang disetor.

“Kami mau ngurangin sampah. Jadi dikatakan berhasil itu kalau tabungannya berkurang. Berarti kami berhasil ngajak masyarakat ngurangin sampah,” tuturnya.

Suci juga menyoroti fakta mengejutkan, di mana sekitar 70 persen kantong plastik terbuang dalam kondisi bersih. “Jadi dia jadi sampah karena tercampur sama sampah lain. Kalau di-recycle, bisa, karena dia masih bersih,” tegasnya.

Pada akhirnya, Bank Sampah NTB Mandiri membuktikan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menjadi bagian dari solusi, mengubah sampah menjadi berkah, dan menciptakan nilai kemanusiaan yang lebih dalam.

 

Editor : Prihadi Zoldic
#sampah #zerowaste