Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Peluang Emas bagi Pelaku Usaha, Merah Putih Berkibar Uang Berputar

Lombok Post Online • Senin, 18 Agustus 2025 | 15:55 WIB
Ribuan siswa berkumpul membawa bendera sambil menyanyikan lagu kebangsaan di Teras Udayana, Kota Mataram.
Ribuan siswa berkumpul membawa bendera sambil menyanyikan lagu kebangsaan di Teras Udayana, Kota Mataram.

LombokPost - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI bukan sekadar pesta tahunan penuh warna.

Di balik gegap gempita lomba, kirab, dan karnaval, tersimpan denyut ekonomi yang bergerak cepat, menghidupkan kantong-kantong usaha rakyat dari kota hingga pelosok desa.

DARI pedagang bendera di pinggir jalan, penyewaan pakaian dan alat-alat pendakian, usaha salon, hingga pembuat kostum karnaval, semua merasakan lonjakan pendapatan jelang dan saat perayaan HUT RI.

Momentum ini memicu multiplier effect yang mengalir ke berbagai sektor—mulai dari UMKM, transportasi, hingga pariwisata lokal—membuktikan bahwa semangat kemerdekaan juga membawa kemakmuran nyata.

Perputaran Ekonomi Diprediksi Rp 6,5 Miliar

Pengamat ekonomi Universitas Mataram Muhammad Mujahid Dakwah menyebutkan, momentum 17 Agustus adalah contoh nyata multiplier effect ekonomi yang bekerja secara nyata.

“Setiap dana yang dikeluarkan untuk pawai, dekorasi, dan lomba akan terus berputar. Ibarat bola salju, dampaknya makin membesar,” jelas akademisi yang akrab disapa Muhammad Muda ini.

Data Kemendikbud mencatat ada 146 SD negeri, 24 SMP negeri, 11 SMA, dan 8 SMK negeri di Kota Mataram. Jika masing-masing unit sekolah mengalokasikan dana HUT RI mulai Rp 5 juta hingga Rp 10 juta, total belanja bisa mencapai Rp 2,176 miliar.

“Jika belanja ini berputar satu kali saja, nilainya bisa menjadi Rp 4,35 miliar. Tapi jika mencapai tiga kali putaran di ekonomi lokal, angkanya bisa tembus Rp 6,53 miliar,” jelas Muda, mengacu pada teori expenditure-based multiplier dari Crompton dan Stynes.

Belanja HUT RI di Mataram ini menimbulkan tiga lapis dampak ekonomi. Pertama, direct effect, yakni saat UMKM menerima pesanan kaos, bendera, panggung, dan dekorasi. Kedua, indirect effect, saat pelaku UMKM membeli bahan baku dari toko lokal. Dan ketiga, induced effect, ketika para kru, pedagang, hingga tukang parkir membelanjakan penghasilannya di pasar atau warung.

Namun, ini baru simulasi dari sektor sekolah negeri. Belum termasuk potensi belanja dari sekolah swasta, kantor pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, hingga komunitas warga. Jika semuanya dihitung, perputaran uang HUT RI di Mataram bisa melesat jauh di atas Rp 6,5 miliar.

“Dampaknya luar biasa. Dari orderan sablon, jasa EO, hingga penjahit, semua kecipratan. Ini peluang emas bagi pelaku UMKM Mataram,” imbuhnya.

Selain keuntungan ekonomi jangka pendek, momen ini juga membuka lapangan kerja musiman, meningkatkan omzet pedagang lokal, serta memunculkan peluang bisnis baru.

Muhammad Muda menekankan, jika rantai pasok didominasi pelaku lokal, manfaatnya bisa lebih terasa dan berkelanjutan.

“HUT RI di Mataram bukan sekadar pesta, tapi kesempatan nyata menggerakkan ekonomi rakyat. Ini saatnya kita maksimalkan potensi lokal,” pungkasnya.

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Bangkitkan Nasionalisme dan Solidaritas Sosial

Perayaan HUT RI tak sekadar meriah, tetapi juga berdampak besar pada rasa nasionalisme dan solidaritas sosial.

Menurut pakar sosiologi Universitas Mataram (Unram) Prof Wiresapta Karyadi, momentum ini mampu membangkitkan kebanggaan masyarakat terhadap bangsa, bahkan di daerah prasejahtera.

“Dampak sosiologis HUT RI akan semakin tinggi ketika rasa nasionalisme diiringi kepuasan psikologis. Masyarakat miskin pun bisa merasakan kebanggaan dan rela berkorban demi merah putih,” ujarnya.

Di wilayah perbatasan lanjut dia, perayaan HUT RI sering berlangsung meriah meski warganya tergolong prasejahtera. Sentuhan rasa nasionalisme membuat mereka berkorban, baik secara materi maupun moril.

“Itulah bentuk nasionalisme yang nyata,” kata Prof Karyadi.

Selain itu, HUT RI juga menguatkan pertalian sosial. Tradisi lomba, permainan, dan pawai pakaian adat menciptakan ikatan antarwarga. Kelompok-kelompok yang terbentuk menunjukkan jati diri sekaligus memperkuat solidaritas sosial dan nilai kebangsaan.

“Solidaritas sosial menjadi fondasi kebangsaan. Dari kebanggaan itu lahir rasa nasionalisme yang mengikat bangsa Indonesia,” ujar Prof Karyadi.

Ia bahkan mendorong pemerintah untuk mengalokasikan anggaran khusus guna mendukung kegiatan yang memupuk nilai kebangsaan. Contohnya, lomba lari 5K hingga 25K yang melibatkan pelajar, masyarakat umum, hingga TNI-Polri.

“Spirit inilah yang membuat anak-anak Paskibra atau Pramuka rela meninggalkan sekolah demi nilai kebangsaan,” pungkasnya. (jay/r3)

Editor : Pujo Nugroho
#hut #pendakian #Pedagang #RI #pelaku usaha #belanja