LombokPost – Alarm krisis iklim kembali berbunyi. Laporan terbaru dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengonfirmasi bahwa tahun 2023 telah memecahkan rekor sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat sejak pencatatan suhu global dimulai.
Dikutip dari BMKG diterangkan fenomena ini bukan sekadar fluktuasi cuaca biasa, melainkan bukti nyata dari percepatan laju pemanasan global yang dipicu oleh aktivitas manusia.
Menurut data yang dirilis NASA, suhu rata-rata global pada tahun 2023 telah meningkat sekitar 1,1°C di atas tingkat pra-industri.
Baca Juga: Presiden Jokowi Sebut Bumi Bukan Lagi Pemanasan Global, Tapi Pendidihan Global
Kenaikan suhu ini merupakan akumulasi dari emisi gas rumah kaca yang tak terkendali, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.
Data ini menunjukkan bahwa upaya mitigasi yang ada saat ini belum cukup untuk memperlambat pemanasan.
Peningkatan suhu ini bukan hanya sekadar angka statistik. Dampaknya telah terasa di berbagai belahan dunia dalam bentuk cuaca ekstrem yang semakin sering dan intens.
Baca Juga: Buat Apilkasi Cegah Pemanasan Global, Siswa MAN 2 Mataram Jadi Finalis FIKSI Nasional
Di Eropa, gelombang panas berkepanjangan pada musim panas menyebabkan ribuan kematian dan memicu kebakaran hutan yang meluas.
Di Amerika Serikat, badai dan angin topan semakin kuat, menghancurkan infrastruktur dan mengancam jutaan nyawa di wilayah pesisir.
Sementara itu, di Asia, pola curah hujan yang tidak menentu menyebabkan kekeringan di satu wilayah dan banjir bandang di wilayah lain.
Baca Juga: Termasuk Mataram, Hari ini BMKG Prediksi Cuaca Berawan hingga Hujan di Sejumlah Kota Besar Indonesia
Di Indonesia, misalnya, musim kemarau yang lebih panjang mengancam sektor pertanian, sedangkan musim hujan yang ekstrem menyebabkan banjir di kota-kota besar.
Bersamaan dengan kenaikan suhu, data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan bahwa permukaan laut global telah naik sekitar 21-24 sentimeter sejak tahun 1880, dengan sepertiga dari kenaikan tersebut terjadi dalam dua dekade terakhir.
Mencairnya gletser dan lapisan es di kutub, ditambah dengan pemuaian termal air laut, menjadi penyebab utama fenomena ini. Kenaikan permukaan laut mengancam wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, dan infrastruktur vital di seluruh dunia.
Laporan dari Global Carbon Project juga memperkuat temuan ini, menyatakan bahwa konsentrasi karbon dioksida di atmosfer telah mencapai angka tertinggi dalam dua juta tahun terakhir.
Akumulasi gas-gas ini menciptakan efek rumah kaca yang memerangkap panas dan terus mendorong suhu global naik.
Para ilmuwan dan pemimpin dunia sepakat bahwa data ini harus menjadi seruan untuk tindakan yang lebih tegas dan terkoordinasi.
Paris Agreement, yang menargetkan pembatasan kenaikan suhu global di bawah 2°C, kini terasa semakin mendesak untuk dicapai.
Transisi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, serta upaya reboisasi besar-besaran, menjadi langkah krusial yang tidak bisa ditunda.
Pakar iklim juga menyoroti peran penting individu. Setiap orang memiliki peran. Mengurangi jejak karbon kita melalui pilihan transportasi, konsumsi, dan hemat energi akan memberikan dampak kumulatif yang besar.
Secara keseluruhan, tahun 2023 lalu menjadi pengingat pahit bahwa pemanasan global bukan lagi ancaman yang bisa diabaikan. Ini adalah tantangan terbesar abad ini yang membutuhkan kolaborasi tanpa henti dari pemerintah, industri, dan setiap individu untuk mencegah dampak yang lebih buruk di masa depan.
Editor : Pujo Nugroho